Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kedatangan Yuzer yang membuat Ilker terkejut


__ADS_3

Di pekarangan luar rumah. Benar terus mencari pak Altan mengelilingi kebun. Pria yang memakai alat pendengar musik yang menempel di kedua telinga begitu asyik terbawa alunan sehingga dia tidak mendengar suara yang terus-menerus memanggil namanya dari tadi.


"Ooh! Itu dia ternyata!" Tunjuk Benar dengan kedua bola mata bercampur kesal, mendekat lalu menarik telinganya dari belakang. "Hei! Kau engga dengar? Aku dari tadi! Bolak balik berteriak memanggil. Bukannya malah menyahut , tapi asyik di sini dengan ini!" Benar mencabut alat penutup telinga.


Dia shock terkaget membalik ke belakang, hampir saja gunting bunga yang dipegangnya ingin terlempar mengenai dirinya. "Jangan nongol tiba-tiba! Kamu bikin saya kaget aja!" Mencoba menahan gunting agar tidak terjatuh.


"Cepat! Antarkan koper, Nona ke atas kamar," katanya. "Kopernya terletak di dekat tangga. Pergi sana! Keburu Tuan belum pulang," ucap Benar tanpa terpancing oleh sentilan pengurus kebun, langsung memutar badan pergi menghilang.


Dia pun kemudian meninggalkan kebun bunga, meletakkan gunting di atas tanah yang tidak di tumbuhi oleh rerumputan agar siapa yang berjalan dapat melihat gunting yang terletak. Berjalan dari belakang mengikuti Benar masuk ke dalam rumah.


"Benar! Maksud kamu, Nona yang mana?" Pak Altan kembali bertanya.


"Nona siapa lagi! Emang di sini Nona ada berapa?" Benar bukannya menjawab malah melayangkan sentilan baru terhadap lelaki itu.


Percaya tidak percaya dengan penyampaian sang asisten yang bertugas mengurus seluruh isi yang ada di dalam rumah. Pria tadi pun kini langsung menuju tempat yang disebutkan oleh teman satu kerajaan dengan nya. Berhenti di ujung tangga melihat tiga koper besar yang terletak.


Sebagaimana yang terjadi menimpanya, kini lelaki yang sudah berada di dalam lift dari lantai dua puluh itu turun menuju lobby yang terletak di lantai satu. Memang bukanlah hal yang terasa aneh jika ada yang memanggilnya untuk bertemu. Namun, kali ini dia merasa hal yang ada agak mengganjal sebab seseorang itu tidak mau memberitahukan siapa namanya.


Pria yang sudah lama menunggu bolak-balik menutup buku bisnis dan melihat ke arah pintu kaca yang sekian lama belum juga terbuka. Merilekskan dan mengajak pikirannya untuk berpikir positif kalau orang yang dia tunggu akan berjumpa dengan nya.


Lift pun menunjukkan lantai yang dituju oleh sang pemilik perusahaan di atas pintu saat dia melihatnya ke atas. Begitu pintu terbuka dia langsung keluar dengan rasa penasaran yang menggunung, bergegas tanpa berpikir panjang langsung menemui lelaki tadi sekalian menyatukan rasa yang menganak di dalam benaknya dengan baik setelah dilema yang datang menimpa dirinya dan perusahaan yang dipegang olehnya saat ini.

__ADS_1


Berjalan kencang diantara para pegawainya yang sibuk hilir-mudik dengan alat-alat syuting yang mereka bawa. Ada yang memasuki ruangan tertutup untuk melakukan syuting yang akan segera di tayangkan di televisi CCA.


"Pak!" Sapa salah satu karyawan yang berpapasan dengan nya.


Semaksimal mungkin dia menarik bibirnya tipis menjawab sapaan itu lalu masuk menuju ruangan yang sudah duduk seorang pria di dalam menunggunya. Mengayun sebelah kaki kanan lebih dulu ke depan dengan sepatu casual santai yang senada dengan pakaiannya, menutup pintu kaca sembari memiringkan kepala melihat pria yang menampakkan sedikit wajah dengan kaca mata hitam.


Ilker pun berusaha berjalan mendekat. Dari postur tubuh pria yang sengaja datang menemuinya, dia seolah merasa tidak asing. Akan tetapi, jika melihat style si lelaki, dia semakin ragu dengan yang ada di dalam pikirannya, menatap lekat pria yang belum mau melepaskan kaca mata tersebut sehingga dia menerka-nerka orang yang duduk dihadapannya di dalam hati. "Asil atau si penghancur itu." Tebaknya hingga saat si pria yang memakai kaca mata hitam dan berpenampilan menarik itu melepaskan kaca mata yang tergantung di kedua mata.


"Sore, Bro!" katanya langsung memeluk Ilker.


"Hahaha!" Ruangan yang jarang dihuni belakangan ini terdengar kebahagiaan tawa dari dalam. Kaca yang setengahnya tebal di bawah sudah tampak kedua sahabat lama saling mengobrol di dalam.


Dhyia yang melihat resep obat yang terletak di atas meja pun, mengambilnya setelah semua makanan habis. "Ini milik siapa?" Dia bertanya di dalam hati sambil mencari-cari nama yang tertulis di dalam kertas setelah itu dia langsung meletakkannya ketika dia tidak menemukan apa-apa.


"Non, ini kopernya," kata Pak Altan, menaikkan koper satu per satu.


Rana yang sudah berakhir dengan kenangan masa lalunya pun, membuka majalah model outfit berpakaian yang keren. "Taruh di dekat lemari, ya, Pak!" ucapnya, duduk di kursi santai yang terdapat di dekat pintu balkon yang berhadapan dengan tempat tidur.


"Nya!" teriak Benar membelalak terkejut. Berlari mendekati si wanita yang ingin menuruni anak tangga yang tinggal empat anak tangga lagi. "Biar saya saja yang ngambil ke atas! Seharusnya, Nyonya tidak perlu turun," lanjutnya mengambil talam dari kedua tangan si wanita. "Sebaiknya, Nyonya istirahat saja dulu. Jangan terlalu di paksakan untuk turun, Nya!" ucap Benar cemas.


"Tidak perlu, Bi. Sekarang saya sudah baikan." Dhyia berusaha tersenyum di balik perhatian asisten rumah tangganya.

__ADS_1


Kini pak Altan tampak berjalan menutup pintu kamar sang nona. "Pak!" panggil Rana dan menghentikan niat lelaki itu ingin menutup pintu, kembali dia pun membukanya lagi hingga terbuka lebar, melihat ke arah yang memanggilnya.


"Suruh Bi Benar menyiapkan makanan untuk saya!" Dia menatap pria yang menatapnya dari luar. "Jangan lupa! Buat agak pedas sedikit!" Menjatuhkan pandangan melihat ponsel yang tidak pernah di telepon oleh sang kakak semenjak dia tiba. Menaruhnya kembali dengan kasar bercampur sebal.


"Baik, Non." Belum mendengar balasan dari wanita tadi, dia sudah menutup pintu. Melangkah turun di ikuti perasaan resah yang melilit seluruh napasnya. Melihat Benar dan nyonya pemilik rumah sedang berbincang di atas tangga, sepertinya agak serius, pikirnya. Menatap lekat ke arah mereka berdua hingga tidak putus-putus. Di ikuti pula oleh kedua kakinya yang melangkah menginjak anak tangga berikutnya.


"Bi! Kata Nona, "Siapkan makan malam untuknya dan Tuan," kata pak Altan pelan berjalan terus pergi keluar.


Meski kata- kata itu pelan. Namun, Dhyia dapat mendengarnya. "Nona," gumamnya terheran menatap nanar seolah mengingat-ingat tentang sebutan itu. Diam membisu dan hanya memandangi Benar yang pergi meninggalkannya.


"Apa kabar?" tanya Yuzer membuka kaca matanya.


Sontak Ilker sedikit terkejut sebab temannya tidak pernah mau berkunjung ke tempat kerja mereka masing-masing. Ini entah apa gerangan yang membuatnya melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri di dalam dirinya sehingga sudah sore pun, dia masih sempat-sempatnya singgah di perusahaan milik teman ini.


"Apa yang membuat mu sampai kau datang ke mari?" Ilker menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa tepat di depan pria yang sudah melepaskan kaca mata.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2