Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Keinginan Ayah dan anak yang bertentangan


__ADS_3

Suara ponsel pun berembus terdengar ke telinganya dengan tajam berbunyi sebab nada ponselnya adalah nada yang khusus tidak semua kalangan orang memiliki nada dering yang serupa. Beranjak dari tempat tidur dan membuka ruangan kerja dengan sedikit lunglai.


"Dudu," katanya, melihat ponsel. Nama itu hanya dipandanginya dengan terbodoh. Melihat foto profil wanita tersenyum manis yang dipasangnya. Menghembuskan napas kesal teringat tentang kejadian itu.


Mengambil ponsel dengan terpaksa lalu menekan slide ke atas menempelkannya di telinga tanpa bicara.


πŸ“±"Sayang! Aku pikir kamu tidak mau mengangkat telepon pun 'ku lagi," ucapnya dari balik telepon dengan suara manjanya yang khas. Sedikit terdengar agak sedih oleh sang kekasih.


 Di balik hatinya yang marah dan benci, dia ternyata sangat merindukan wanita yang sangat dicintainya disebabkan bahagianya bersama sang pujaan hati yang mau bersukarela menghubunginya. "Kamu lagi apa, hm?" Dia pun menyambut suara kekasihnya dengan lembut. Memiringkan tubuh membelakangi pintu.


πŸ“±"Aku lagi merindukan kamu. Kamu tau? Semalaman aku tidak bisa tidur karena hanya memikirkan kamu. Aku selalu ke pikiran tentang kamu sayang, kalau kamu engga sayang lagi sama aku," ucapnya dengan berpura sedih dari balik telepon sambil mengeluarkan sedikit suara manjanya dari balik telepon genggam.


πŸ“±"Hahaha!" Ilker langsung tertawa manis setelah mendengarnya seolah dia sangat terhibur dari ucapan wanita itu. "Kamu engga bisa tidur?" tanyanya tertawa geli bercampur bahagia.


πŸ“±"Iya, karena kamu sudah menganggu pikiranku." Mengingat kejadian yang sudah berlalu. "Makanya, pagi ini aku akan buat kamu engga bisa kerja." Melanjutkan omongannya dari balik telepon.


πŸ“±"Oh, ya! Emang kamu mau berbuat apa?" tanya Ilker sembari melihat lembaran putih yang tidak ingin dia baca. "Kamu tau? Aku bisa melakukan apa saja untuk kamu. Tidak ada ada yang bisa menghalanginya," lanjutnya, teringat kekasihnya dulu yang tidak suka sembarangan bertindak. Sontak dia menepis ingatan itu.


πŸ“±"Sayang! Aku pengen kita bersantai. Aku lelah di sini! Selalu di awasi oleh perempuan itu. Jadi, aku pengen bersantai, beberapa hari saja," ucapnya dari balik telepon. "Kamu, 'kan tau! Papa ada di sini. Dia juga sama, setiap saat di rumah mengawasiku," dalihnya meminta perhatian dari lelaki yang sangat mencintainya.


Ilker diam sejenak berpikir dengan jernih mencari solusi untuk mereka berdua, agar dia dan kekasihnya kembali bertemu setelah kejadian itu.


πŸ“±"Emang kamu mau bersantai ke mana?" tanya Ilker langsung dari dalam telepon. "Kamu tau sayang dari dulu aku belum pernah menolak permintaanmu. Jadi, katakan saja! Kamu mau ke mana?" tanyanya.


Yilzid langsung melompat kegirangan karena dia sudah berbaikan dengan lelaki yang sangat menyayanginya. Duduk dan menatap dirinya di cermin.


πŸ“±Benar sayang?" tanyanya senang. Berputar bak ala seorang model yang sedang di atas catwalk.


πŸ“±"Mmm!" jawab Ilker dengan deheman lembut. Merobek surat yang di kirim oleh kurir ke rumahnya. Berharap kalau sang istri belum membacanya.

__ADS_1


πŸ“±"Terima kasih sayang, muach! I love you." Memutuskan sambungan telepon.


Ilker tidak lagi mendengarkannya. Dia masih memeriksa buku-buku di atas meja dan ponsel terlihat masih menempel di telinganya. Berharap jejak tidak ada lagi yang tertinggal, memeriksa semuanya hingga usai.


"Yes!" kata Yilzid dengan sangat bahagia menatap dengan senang seakan dia sedang terbang di atas kayangan. Melemparkan ponselnya ke tempat tidur dengan rasa bahagia karena dia mengikuti saran sang ayah.


Lain halnya dengan sang ayah yang sedikit menaruh kecurigaan kepada putri semata wayangnya di saat perbincangan mereka berdua tadi mengenai seorang teman di meja makan.


"Robind!" teriaknya di luar memanggil orang itu dari dalam.


"Iya, Bos!" dia pun langsung datang berlari menghampiri big boss nya yang ingin masuk ke dalam mobil. "Siap, Bos! Ada apa?" tanyanya, berdiri langsung.


"Hei! Kamu dengar, 'kan tadi? Perbincanganku dengan Putriku?" Membisikkannya pelan ke telinga sang pengawal sambil melirik-lirik ke sana kemari berjaga-jaga dari mata-mata yang mendengar.


"Dengar, Bos," jawab langsung paham.


"Aku mau! Kau cari tahu tentang pria itu!" titahnya dengan tegas, memutar badan.


"Sangat gampang! Awasi saja, Burcu! Dia pasti tau?! Semua tentang itu." Memutar badan kembali melihat sang pengawal yang bertanya.


"Baik, Bos," jawabnya langsung memberi hormat. Melihat big boss nya sampai menghilang.


Gohan Hakan pun duduk di dalam mobil dengan angkuh. Menaikkan sebelah kakinya ke atas kaki kirinya sambil menelepon orang yang terlibat dalam misinya untuk menghancurkan musuhnya.


πŸ“±"Bagaimana? Apa sudah siap semua?" tanyanya ingin tahu dari dalam telepon. Melihat lurus ke jalan dari balik kaca mobil yang melaju dengan cepat.


πŸ“±"Semua sudah siap! Sesuai yang Anda perintahkan!" jawabannya dari balik telepon itu.


Gohan Hakan pun tersenyum sinis dan memutuskan sambungan secepat kilat. Menatap dengan kesombongan mendongak sedikit ke atas melihat jalan yang di lalui mereka untuk menjumpai tempat yang menguntungkan.

__ADS_1


Mendatangi sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota yang bising. "Cepat! Kita harus bisa mengejar waktu!" Menyuruh sang sopir untuk lebih cepat lagi mengemudi.


Pengawal yang tadi mendapatkan tugas dari big boss nya. Berpura-pura berjalan mengambil air minum sebab dia melihat wanita incarannya sedang menutup pintu kamarnya.


"Burcu!" Panggil Yilzid dari atas yang tanpa di ketahui terdengar sampai ke dapur di mana pengawal itu meneguk minumannya.


Burcu pun langsung cepat bergerak menemui sang model cantik yang terkenal dan sekarang menjadi tanggung jawabnya atas segala sesuatu yang akan terjadi.


"Iya, Non," sahutnya menghampiri dan berdiri tegak lurus di hadapan sang model terkenal.


Yilzid yang sedang berbunga-bunga langsung mengambil tas yang sering di bawanya ketika bepergian keluar.


"Hari ini kita ada urusan penting!" Menuruni anak tangga yang di ikuti oleh Burcu dari belakang.


"Kalau boleh tau, Non. Urusan tentang, apa?" tanya Burcu yang harus tau segalanya sesuai perintah dari big boss nya, yaitu Gohan Hakan. Berjalan kencang dengan terburu-buru mengikut langkah nonanya yang lebar.


"Kamu tidak usah banyak bicara! Tugas kamu cuma satu. Ikutin saya, ke mana saya pergi, bisa, 'kan?" Membuka pintu mobil tepat di bagian stir.


"Tunggu, Non!" teriaknya, menghentikan tangan model untuk membuka pintu. Sontak Yilzid sedikit melongo terheran melihat tingkah sang asisten pribadi yang sanggup menghentikannya.


"Kamu melarang saya!" ucapnya kurang senang bercampur tatapan sinis. Memandangi Burcu langsung dengan kebencian.


"Bukan begitu, Non," jawabnya. "Saya, 'kan asisten nona. Jadi, saya yang sewajarnya membawa mobil, Non."


"Saya tau! Tapi saat ini! Saya yang akan menyetir," katanya dengan tegas. Masuk langsung ke dalam mobil.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2