Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Dulu dan sekarang berbeda


__ADS_3

Bercerita kisah hidup mereka yang kelam. "Dulu sama sekarang jelas sudah berbeda, malah perbedaannya jauh," sambung lawan mainnya Balin yang bernama Edis.


Kedua bola mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain, seakan mereka tidak memungkiri yang di katakan oleh Edis.


"Kamu benar," sahut pak Altan mengangguk-angguk. Dia pun menghela napas sambil memutar duduknya lurus ke depan tepat mengarah ke arah jalan yang di lalui setiap hari. "Kalau sekarang, kita tidak bisa, seperti dulu lagi." Membelakangi kedua temannya menatap lurus ke depan teringat tentang yang lalu. Di mana mereka masih bisa menarik napas dengan lega. Sekali pun majikan mereka di rumah.


"Sekarang ya, jauh panggang dari api," umpat Balin. Boro-boro mau keluar. Tidur siang untuk istirahat saja susah. Apalagi kalau dia sudah di depan pintu. Harus buru-buru berlari. Ngeri tau, engga!" keluhnya yang semakin hari semakin merasa terkekang akibat ulah tuan mudanya.


"Kamu benar," sambung pak Altan mengingat dirinya yang tragis selalu kena marah karena telat membuka pintu. "Minum sebentar aja, engga bisa! Kalau kita kehausan mau minum. Lebih baik, tuh gelas! Kita taruh kembali di atas meja." Menatap nanar dengan sangat kecewa.


"Hihihi !" Edis tertawa geli teringat tentang pak Altan. "Itu mah, derita masing-masing," katanya dengan gelak tawa. "Kalau aku sih, engga. Itu karena kamu dapat kerja double, hihihi." Melirik pak Altan yang sendu. "Untung saja aku cuma jaga gerbang." Tersenyum menyeringai ke arah Balin yang merasa tersindir juga oleh ucapannya dan sedang bermain catur hingga berkali-kali putaran.


"Maksud kamu apa?" Langsung menatap, balik bertanya dan melayangkan sorot mata tajam kepada Edis.


"Hihihi !" Edis hanya cekikikan geli melihat kedua rekannya itu sama persis , seperti tikus dan kucing yang sering kejar-kejaran dengan tuan mudanya.


"Kenapa kamu ketawa-ketawa?" tanya pak Altan yang sedang gundah, memikirkan hidupnya ke depan. Memutar kepalanya miring ke arah Edis yang tertawa senang di belakangnya.


"Iya, kamu terlihat senang sekali atas penderitaan kami," sentil Balin. "Ini, ni Pak! Mentang dia tugasnya cuma satu, main ngejek kita segala." Mengadukannya kepada pak Altan.


Menunduk ke bawah tepat melihat catur, teringat nasibnya beberapa hari yang lalu menjadi supir untuk sang nyonya mudanya ke kantor tuannya.


"Kenapa nasibku apes, sih?" Erangnya di dalam hati. Melihat catur yang terhenti dengan pilu.


Lain halnya dengan Benar yang merintih kesal melihat rumah yang terlalu luas harus dia lalui untuk menemukan pak Altan.


"Pak Altan!" teriaknya kesal ngedumel. "Kamu itu di mana, sih. Aku sudah capek keliling rumah mencarimu."

__ADS_1


Alasan altan berkumpul hanya untuk melepas sedih. Namun, tidak sempat menikmati permainan catur dia keburu harus pergi teringat tentang yang di dengarnya tadi.


Beranjak dari tempat duduknya yang terlihat oleh Balin. "Pak, kok pergi? Mau ke mana?" Bertanya dari belakang pak Altan.


"Mau ke dalam sebentar," jawab pak Altan memutar badan sedikit miring. Berjalan kencang seolah terlihat, seperti berlari.


Mengelilingi perumahan Carya yang luas bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Belum lagi terik matahari yang menimpanya hingga menguras sedikit keringat yang membuat kepala Benar gatal dan bau masam.


"Sebenarnya, pak Altan ke mana, sih! Kok dari tadi aku tidak ketemu." Memutar badan ke belakang melihat seluruh sudut halaman. "Malah ini luas lagi!" keluhnya dengan sesal ingin menangis sebab dia telah berputar-putar masih saja belum menemukan yang dia cari.


Berjalan dengan jilbab yang menutupi kepalanya mencari pak Altan yang membuat tenggorokannya sampai kering.


"Hampir saja aku terlena dan santai duduk di tempat itu," gumam pak Altan menunduk melihat jalan dengan terburu-buru karena mendadak ingin bertemu dengan Benar masalah yang dia dengar tadi.


Belakangan ini segala pekerjaannya terkendala. Dia pun bingung melihat situasi yang dihadapinya saat ini. Semua tidak ada yang genah, sebentar -sebentar dia harus berjaga dari teriakkan tuan mudanya yang terlalu ringan bersuara dengan seenaknya sekarang.


"Altan!" Benar dengan keras membuka mulutnya lebar yang bercampur dengan udara kosong dan suaranya langsung menggema terdengar di udara.


Namun, hingga saat ini dia sama sekali belum mendengar sahutan dari pak Altan.


"Ini, bocah ke mana, sih! Uuuh! Buat aku pusing tau gak! Sudah tau, Tuan muda lagi sakit. Eeeh! Dia malah pakek ngilang lagi."


Menyeret kedua kakinya kembali masuk setelah dia mengelilingi seluruh sudut kediaman Carya.


Lain dengan Dhyia dan lain pula dengan pak Altan. Dhyia yang lagi panik dan menunggu kabar dari asisten rumah tangganya itu gelisah karena hingga sampai saat ini dia belum juga mendengar kabar apapun.


Sementara pak Altan lagi sibuk mencari benar hingga melihat ke bawah kolong meja dan kursi.

__ADS_1


"Siapa tau dia bersembunyi di sini?" gumam pak Altan yang selalu nyeleneh dan bertingkah kocak. Membolak balik kedua bola matanya dengan lincah melihat setiap sudut tanpa terlewatkan sedikit pun. "Aneh, tidak ada." Memutar kembali pikirannya mengingat tempat yang lain. "Haaa! Mungkin dia di situ!" Menunjuk sudut counter table.


Beranjak menghampiri tempat yang membuatnya penasaran dengan gumaman-gumaman kecilnya yang keluar dari mulutnya, menemani kedua langkahnya.


" Benar, bagaimana? Apa kamu sudah menelpon, Dokternya?" tanya suara dari balik alat perekam itu yang membuat pak Altan tersentak dan menghentikan pencariannya.


"Benar,,, Dokter." Pikirnya dengan bertanya-tanya semakin kacau dan memeras otaknya terus berpikir. "Sebenarnya ada apa? Apa jangan -jang... ?" Teringat yang di dengarnya tadi.


" Iya, Nya." Dia pun langsung mendekatkan mulutnya ke arah perekam itu. "Ada apa, Nya? Soalnya Benar, engga ada, Nya," Tanpa mendengarkan jawaban dari sang nyonya. Dia langsung memberi jawaban yang melegakan sedikit hati Dhyia yang berkecamuk menahan kekhawatirannya sendiri.


"Pak, Mas Ilker, demam tinggi. Tadi, kata Bi Benar, dia mau menelpon, Dokter. Tapi sampai sekarang Dokternya, belum datang," balasnya dari balik perekam, di ikuti oleh kedua bola matanya melirik jam dinding.


Altan spontan ikutan panik. "Iya, Nya! Iya! Tunggu, Nya, sebentar akan saya telponkan," kata pak Altan meninggalkan alat perekam.


"Aduh Tuan muda, pakek sakit segala, lagi." Berlari mengambil gagang telepon lalu memencet nomor.


Setengah badannya membungkuk di udara dengan rasa kepanikan yang mencekam. Menunggu dengan sabar sambungan telepon terhubung.


Sementara Benar masih berkutat dengan pencariannya. Melihat kebun dan tempat-tempat yang sering di singgahi oleh pak Altan selama bekerja di kediaman Carya.


"Iiih! Aku sudah mencarinya ke sana ke mari. Tapi aku tidak menemukannya sama sekali." Meremas jemarinya, menahan kakinya yang ingin terpeleset akibat terinjak batu kecil. "Huh!" Menendang batu dengan kesal.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2