
"Benar! Di mana, Nyonya?" tanya Altan panik menghampiri pintu pemisah ruang tamu dan dapur. Tidak terlihat sedikit pun oleh mereka Ilker yang berjalan menuruni anak tangga.
"Itu di atas. Cepat, nanti Nyonya jatuh!" teriak Benar cemas. Melambaikan tangan menunjuk tangga.
Altan yang polos pun lari dengan panik menaiki anak tangga yang paling malas dia naiki sehingga membuat Ilker mendelik.
"Nya, Nyonya, butuh bantuan saya mau turun. Mari, Nya!" kata Altan membungkukkan setengah badan ingin memapah sang majikan.
"Altan!" panggil Ilker keras yang membuat tangannya berhenti di tengah udara tepat di belakang Dhyia. "Tuan," kata Altan pelan di telinga Dhyia. Gemetar dan perlahan memutar badan menatap Ilker yang mendelik dengan tajam.
"Apa pesanku tadi sudah kau sampaikan pada Benar?" tanyanya menuruni anak tangga dengan kencang melawan kecemburuan.
Benar dan Dhyia yang tidak tahu apa-apa. Hanya diam dan menatap Ilker serta Altan yang saling memanas.
Dhiya yang kurang sehat terpaksa mengangkat tubuhnya berdiri menghampiri Ilker. "Mas," panggilnya dengan lembut. Menatap Altan yang sudah gemetar.
Di lantai bawah, Benar yang berdiri di tengah sofa yang mewah terheran melihat sikap tuannya yang aneh. Berdiri mematung sekaligus menganga.
"Be-belum, Tuan," jawab Altan gugup. Menunduk sambil mengepal tangan.
"Kamu tau tidak akibat kelalaianmu. Aku tidak bisa menemukan bajuku," kata Ilker melampiaskan isi hatinya. Berdiri dengan pakaian yang rapi dan tubuh yang kekar.
"Mas, jagan marahi Pak Altan dan juga Bi Benar," pinta Dhyia memohon dengan nada suara lembut yang membuat hati Ilker sebenarnya tenang. Akan tetapi, karena egonya dia mencoba melawan rasa yang sudah dia ketahui. Berdiri menatap istrinya yang tidak jauh darinya. "Kamu sudah berani melarangku," bentaknya.
Dhyia langsung diam merasa bersalah. "Mas, aku tidak bermaksud melawanmu," katanya pelan bercampur panik. Berdiri memegang ujung hijabnya.
"Lalu, apa barusan?" tanya Ilker yang tidak pernah menyukai kalau Dhyia membantahnya.
"Aku adalah pemilik rumah ini. Dan juga termasuk mereka." Menunjuk Altan. "Jadi, gak ada yang boleh membantahku!" tegur Ilker memekik seisi ruangan.
Dhyia semakin membeku menutup mulut merasa bersalah. "Mas, tapi aku juga 'kan istrimu. Jadi, aku juga punya hak atas rumah dan pekerja di sini," balas Dhyia memberanikan diri.
"Apa?" tanya Ilker terkejut. Menuruni anak tangga selangkah melihat istrinya yang sudah mulai berani menjawab. "Kamu bilang apa?" tanya Ilker lagi melihat perubahan Dhyia yang semakin lama semakin berani bersuara. "Aku gak percaya... ," lanjut Ilker kecewa mendengar jawaban Dhyia, memukul udara kesal.
__ADS_1
Sementara pak Altan dan Benar semakin gusar. Kepanikan dan rasa takut akan hal-hal yang tidak diinginkan. Menatap tuan muda dan nyonyanya yang jadi, bertengkar.
"Mas, Bi Benar, gak salah. Yang nyusun baju Mas, itu sebenarnya aku, Mas," terangnya, menyesal melihat ke bawah.
"Siapa yang sudah menyuruhmu merubah semuanya?" tanya Ilker, melupakan niatnya yang ingin segera sampai ke kantor.
"Engga ada, Mas," jawab Dhyia pelan bercampur takut menggeleng. Meremas jemari yang tertutupi oleh jilbab.
"Kamu tahu? Ini adalah rumahku bukan rumahmu. Jadi, jangan coba-coba menyentuh lemariku lagi dan juga barang milikku!" sindir Ilker yang menghenyak Dhyia.
Kata-kata itu seakan melemparkan Dhyia ke dinding. Sesak dadanya terasa ketika mendengar ucapan itu. Di sinilah Dhyia baru sadar kalau selama ini Ilker tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
"Aku tau, Mas," jawab Dhyia tegar. Lemas dan ingin terjatuh ke lantai. "Aku bukanlah pemilik rumah ini. Bahkan, aku bisa ada di sini karena rasa belas kasihan," lanjutnya meneteskan air mata.
"Sudahlah!" kata Ilker langsung menuruni anak tangga. Berlari meninggalkan Dhyia yang menangis.
Benar dan pak Altan pun, seperti tersambar petir. Mereka tidak menyangka kalau tuan mudanya bisa berubah sejauh itu.
"Nya, maaf 'kan saya. Karena saya Nyonya jadi, dimarahi," ucap pak Altan menunduk penuh sesal.
"Sudahlah, Pak! Ini bukan salah Bapak!" kata Dhyia dengan tegar.
"Tapi, Nya ini me... ." Benar langsung menutup mulut.
"Saya tidak apa-apa. Pergilah! Kerjakan pekerjaan kalian masing -masing," perintah Dhyia yang merasa tidak enak badan. Berjalan menuruni anak tangga dengan pelan-pelan sambil memegang railing tangga.
"Mari Nya, saya bantu," pinta Benar menawarkan diri. Menaruh kain lap di bahunya dengan tangan sebelah kanan memegang pinggang nyonyanya.
"Bi, apa makanan semalam masih ada?" tanya Dhyia menghampiri meja makan. Menarik kursi dan duduk.
"Maaf, Nya. Makanannya sudah saya buang," kata Benar dengan gurat wajah penuh sesal.
"Kalau Nyonya makan itu bisa-bisa, Tuan muda memarahi kami lagi," keluh Benar di dalam hati, melepaskan Dhyia.
__ADS_1
"Bi, bisa saya meminta sesuatu," ucap Dhyia memohon.
"Saya pasti akan bantu, Nya?! Kalau saya sanggup," balas Benar dengan kata-kata yang pernah mereka ucapkan ketika sebagai asisten dulu serta raut muka yang lucu.
"Hahaha! Bibi," kata Dhyia tersenyum menahan malu.
Benar yang dulu sangat menyayangi Dhyia hingga sampai saat ini pun demikian. "Emang, Nyonya mau apa?" tanya Benar mencoba menggoda Dhyia.
Sementara Ilker yang melihat langsung kejadian tadi di tangga membuat dia kesal. "Uh!" Memukul kepalan tangan ke udara. "Berani-beraninya dia," katanya menahan kedua gerahamnya teringat tentang Dhyia dan Altan. Membuka mobil yang lecet. Masuk dan duduk sambil meregangkan otot -ototnya akibat terbawa emosi.
Kring ! Kring ! Kring !
Ponsel yang masih di dalam saku pun membuatnya terkejut. "Alen," gumamnya sambil menatap layar ponsel dengan sebelah tangan memegang stir.
"Maaf Pak. Kami ingin bertanya tentang pendapat Bapak mengenai model itu, Pak," kata Alen dari balik telepon.
"Tunggu saya sampai," jawab Ilker singkat membalas telepon yang masuk. Menutup telepon dan meletakkannya di tempat biasa. Melajukan mobil dengan kencang.
Pagar rumah yang tinggi dan mewah itu sudah terbuka lebar ketika mendengar suara mobil. Sang penjaga pun menunduk ketika mobil itu melewati mereka. Ilker yang belakangan ini banyak masalah tidak pernah lagi membalasnya. Bahkan melihat kedua penjaga saja dia tidak mau.
"Sabar, memang kayak gitu," kata yang satunya yang bernama Barlin kepada temannya sambil menutup pagar menyindir sang majikan.
Ilker yang melaju dengan kecepatan yang tinggi setiap kali dia ada masalah membuatnya kembali ingin tertabrak oleh pengendara mobil yang lain. "Bagaimana mereka bisa membawa mobil? Melihat jalan saja tidak bisa," gumam Ilker sebal dan terburu-buru. Mengingat Yilzid yang akan datang ke kantor miliknya hari ini.
Kring! Kring! Kring! Ponsel miliknya kembali berbunyi menghilangkan konsentrasinya. "Dudu," kata Ilker senang bercampur tidak suka.
"Halo, sayang kamu lagi di mana?" tanya Yilzid dengan suara serak baru bangun dari balik telepon.
"Lagi mau ke kantor, sayang. Ada rapat penting. Nanti kita telponan lagi, ya!" kata Ilker dengan nada suara berat, menutup telepon.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...