
Alen mulai sekarang, pantau semua berita terkait stasiun televisi. Jangan ada satu pun yang tidak kau tau tentang itu!" ucap Ilker. "Dan kau Cecar! Saya harap cari sesuatu yang berbeda bersama Derya. Mulai saat ini! Teman satu teammu adalah Derya, bukan lagi Alen." Sontak kabar ini membuat Alen terkejut. Dia sangat kecewa mendengarnya. Perubahan dalam satu hari bukanlah sesuatu hal yang biasa baginya.
Menurutnya, menyelesaikan pekerjaan konyol, mencari berita dengan tujuan khusus, memata-matai, itu bukanlah skill yang dia pelajari selama dia menghirup napas bertahun-tahun, pikirnya.
"Baik, Pak," jawab Cecar, langsung senang di dalam hati. Mengembangkan senyuman manis dengan hati yang bergembira tiada tara mendengar kata-kata yang barusan saja keluar, bagaikan angin segar.
Kalau Derya anaknya lebih enak di ajak kerjasama daripada Alen, menurutnya. Lagi pula, dia sudah lama memendam perasaan pada Derya. Melirik Alen yang terkejut mendengar keputusan yang diambil sepihak oleh pemilik stasiun televisi.
Dari atas balkon Rana menatap pemandangan yang penuh dengan kenangan ke bawah. Tepatnya ke arah lapangan pemanah yang terpampang dengan luas di atas rumput hijau. Seolah kenangan itu kembali jadi, kenyataan terlihat olehnya.
"Nya, sudah siap," ucap Benar dari belakang.
Sontak dia langsung tersadar. Memiringkan kepala melirik ke arah samping, seakan dia sedang melihat Benar. "Terima kasih, Bi," balasnya. "Oh, iya, Bi! Kalau Bibi turun ke bawah dan bertemu dengan Pak Altan. Tolong bilang sama Pak Altan! Bawakan koper saya naik ke atas," lanjutnya mengiba kembali melihat lurus ke depan.
"Baik, Non," jawab Benar memutar badan meninggalkan wanita muda itu sendiri di dalam kamar.
Di lantai bawah, tepatnya di dalam lobby perusahaan milik Ilker tampak seorang pria sedang menunggu. Duduk sambil membaca buku bisnis yang terletak di sudut atas meja.
Pria yang bertubuh kekar yang hampir serupa dengan pemilik stasiun TV CCA ini, ingin segera bertemu dengan pemilik stasiun TV itu.
"Sebentar, Pak! Saya akan menyampaikan kepada Pak Ilker," ucap karyawan yang menyambut tamu.
__ADS_1
Pria itu hanya diam mengangguk ramah kepada seorang wanita yang menyambutnya dengan ramah tamah.
Dhyia yang sudah selesai menceritakan kisah hidupnya kepada Sang Khaliq, agak sedikit merasakan ketenangan. Dia sudah bisa menata dirinya kembali menjadi lebih baik dan tidak goyah atas apa yang mendera. Melepaskan mukena dan melipat sajadah lalu setelah itu dia mendekati nampan yang berisi nasi.
Duduk di atas tempat tidur sembari mengambil jilbabnya yang terlepas dari kepala di saat dia setengah tidak sadar. Perlahan mengambil kemudian memakainya. Kamar yang hening membuatnya sedikit merasa kesepian. Hanya ada makanan yang terhidang dan resep obat yang terlihat olehnya di atas meja.
Memaksakan diri untuk menyukai nasi supaya kondisi fisiknya segera pulih, seperti sedia kala. Jendela kamar yang biasanya terbuka dengan lebar kini terlihat hanya terbuka sedikit sebab sang suami memang sengaja menutupnya sedikit rapat agar istrinya tidak terkena angin yang berembus dari luar begitu dingin.
Kepalanya begitu pusing mengahadapi yang tidak tahu datangnya dari mana. Berulangkali Ilker berpikir untuk menemukan jawaban dari semua musibah yang menimpa dirinya. Dia terus menelusuri setiap hal dari kejadian yang menurutnya mencurigakan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu pun terdengar dari luar mengetuk pintu ruangannya. "Iya! Masuk!" katanya langsung sembari fokus melihat layar laptop.
Ilker langsung menghentikan ketikannya. "Siapa?" Dia langsung bertanya penasaran. Menaikkan pandangan melihat lurus ke depan.
"Saya tidak tau, Pak. Tapi katanya Bapak mengenalnya," lanjut sang pegawai.
"Baiklah! Bilang padanya! Sebentar lagi saya turun." Ilker langsung mematikan layar laptop. Mengambil ponsel yang terletak bersebelahan dengan nya di atas meja.
Pegawai itu pun keluar menutup pintu lalu menemui pria yang telah lama menunggu di lobby. "Selamat sore, Pak! Bapak silakan menunggu sebentar di sini! Atasan kami sebentar lagi akan turun," ucapnya.
__ADS_1
"Oke, Baiklah!" Lelaki yang berparas lumayan tampan itu pun mengatur duduknya kembali. Mengalihkan pandangan dari staf pegawai yang sudah pergi meninggalkannya. Mengambil buku yang dipegangnya tadi kembali sambil membaca isinya untuk mengusir kejenuhan menuggu sang pemilik stasiun televisi swasta yang cukup menguras waktu.
Di dalam kamar yang masih hening dan hanya dihuni oleh seorang diri. Dhyia memakan nasi yang dibawa oleh Benar tadi. Perlahan dengan hati yang rapuh dia menelan semua makanan yang masuk dengan lempang. Tidak ingin membuat dirinya semakin pilu dan murung. Dia berusaha tegar menetralkan semua guncangan yang menimpa batinnya belakangan ini. Tidak banyak yang dia harapkan selain memberi kekuatan kepada dirinya dalam mengarungi biduk rumah tangganya.
Tatapan nanar dengan pandangan kosong kembali tertuju ke arah pintu ruangan kerja sang suami yang tertutup rapat. Ingatan pun kembali terlintas mengenai masalah yang belum bisa dia lupakan dari memori.
Sementara Benar yang sudah memasuki dapur sibuk ke sana kemari mencari pak Altan yang setelah kejadian tentang nyonyanya tadi, kini dia pun tidak terlihat lagi. Kebun bunga yang banyak dengan jenis tumbuhan bunga membuat pak Altan mencari kesibukannya sendiri. Memotong dahan bunga yang sudah tidak layak lagi seolah dia bersembunyi disebabkan ada beberapa pohon bunga yang besar-besar menutupi tubuhnya dengan sengaja sehingga membuat Benar merasa lelah dan penat untuk menemukan orang yang dia cari.
"Di mana, sih lelaki itu?" batinnya ngedumel dibawa terik matahari sore. Cemas merasa belum juga menemukan pak Altan sebab dia mendapat pesan harus segera mungkin mencari lelaki itu.
"Pak Altan! Kamu dipanggil, Nona!" teriaknya mengelilingi seputaran kebun. Namun, pria sama sekali tidak sedikit pun mendengar teriakkan nya disebabkan kedua telinganya sedang memakai handset dengan sengaja, untuk menyelamatkan dirinya dari serangan yang tiada henti memanggil namanya dan menyuruhnya dengan tugas yang baru.
Di tempat istirahat tampak seorang diri pria setengah baya, yaitu pak Balin yang tiba-tiba teringat dengan mobil yang rusak. Sontak dia langsung shock dan bergegas mengambil kunci mobil dan kunci garasi untuk melihat mobil yang terlintas di pikirannya.
Melompat keluar meninggalkan pak Edis yang mengambil papan catur. Panik bercampur gusar dia melangkah tanpa melihat-lihat ke sana ke mari.
Ilker pun keluar dari ruangannya masuk menuju sebuah lift yang khusus dibuat untuknya. Dia pun menekan tombol hingga pintu lift langsung terbuka. Segera dengan langkah terburu-buru, dia masuk dan menutup pintunya dengan tangan sebelah kirinya yang memegang ponsel sedari tadi. Jam tangan yang melingkar pun dia lihat seketika, mengejar waktu untuk membeli obat sang istri.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...