Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Dhyia pertama kalinya ke kantor


__ADS_3

Glek!


Alen langsung menelan ludah sebagai isyarat kalau dia harus bekerja keras demi sang pimpinan. Tersenyum tipis. "Baik Pak, dalam waktu yang singkat akan saya temukan." Menggerakkan sebelah kakinya sebagai isyarat merasa cemas.


"Oke, saya tidak akan mendengarkan omong kosong yang keluar lagi dari kamu!" Ilker langsung menyandarkan tubuhnya dan secara berangsur menetralkan wajahnya kembali, seperti semula.


"Kalau saja aku dapat pekerjaan yang lain. Aku pasti sudah meninggalkan tempat ini?!" katanya di dalam hati. Bangun dan berdiri. "Pak, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Alen yang selalu suka berleha-leha.


"Hm!" Ilker mendehem sambil memainkan ponsel duduk berselancar, tidak sedikit pun hatinya tergerak untuk menghubungi wanita yang sudah menjadi istrinya. Dia terlihat asyik melihat berita tentang saingan stasiun TV miliknya. Kedua kaki yang dia silangkan di bawah meja bermain dengan lentur. Di sela dia yang serius membaca, tiba-tiba tangannya dengan ringan ingin menyentuh layar ponsel ke atas, tanpa dia sadari dia melihat sebuah nama yang membuatnya semakin penasaran. Entah kenapa dia begitu tertarik dengan nama yang baru dia baca di layar ponsel miliknya dan mencari tahu tentang identitas itu.


Di tengah keseriusannya, panggilan pun datang kembali dari balik telepon yang terletak di atas meja kerjanya. Ilker langsung tersentak dan segera menghubungkan panggilan itu. "Pak, ada yang ingin bertemu dengan Anda," kata salah seorang dari ruangan yang lain.


"Siapa?" tanya Ilker penasaran sambil berjaga.


"Nyonya Dhyia," jawabnya langsung.


Sontak Ilker langsung terkejut dan bangun dari sandaran yang menyenangkan. "Mau apa wanita itu ke sini?" Menutup tombol panggilan itu langsung. Nama itu seakan ingin melemparkannya terhempas ke dinding.


Sesal bercampur aduk dan keringat dingin mengingat Yilzid yang belakangan ini sering datang tanpa memberi kabar.


Dari balik telepon Ilker tidak ada memberi jawaban apa pun. "Bagaimana? Apa Tuan menjawabnya?" tanya Dhyia kepada sang karyawan.


"Bapak sudah menutupnya, Bu," jawab pegawai itu memberi hormat.


Glek!


Dhyia kembali menelan pil pahit berharap sesuatu yang tidak pasti. Seharian dia menelepon Ilker dengan panggilan lima puluh kali. Akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali. Dia pun panik dan mengajak salah satu penjaga rumah yang pernah menjadi supir pribadi sang ayah dari suaminya yang tidak pernah dikenalnya, terpaksa dia desak untuk menemui Ilker.

__ADS_1


"Kalau begitu saya akan menunggu di sana!" kata Dhyia kepada sang karyawan.


Karyawan yang sudah tahu maksud dari arah tunjukkan istri dari pemilik stasiun TV mempersilahkannya dengan hormat. "Baik, Bu. Silakan!" Menunduk.


"Ngapain, dia datang ke sini? Aku, 'kan sudah pernah bilang, jangan pernah keluar rumah. Sad !" Melompat dan langsung keluar.


Berjalan kencang melawati semua lorong yang dilalui oleh para karyawan dengan muka masam yang membuat mata memandangnya ketakutan.


"Bapak, itu semakin hari, semakin seram," ucap yang satu.


"Iya, kau benar," sambung yang satunya lagi.


"Aku belum tau. Aku bulan depan di sini atau tidak," sahut salah satu karyawan dari belakang dengan wajah pucat. Melihat pimpinan mereka yang berjalan tanpa melihat-lihat orang yang ada di sampingnya. Berjalan kencang dengan jenjang kaki yang panjang membuat langkahnya semakin cepat sampai.


"Di mana wanita itu ?" tanya Ilker kasar keceplosan, menghampiri seorang cewek yang ditemui sang istri.


"Di sana, Pak," jawabnya langsung menunjuk dengan berhati-hati.


"Nya, apa kita pulang?" tanya Barlin serius bercampur heran.


"Iya, Pak. Kita pulang saja sekarang." Membawa kembali rantang yang berisi makanan, menuju parkiran VVIP.


Pak Barlin sangat heran melihat sang majikan yang mendadak berubah. "Silakan masuk, Nya!" Membuka pintu mobil. Lalu dia berlari masuk ke dalam mobil, duduk dan memasang sabuk pengaman.


"Pak, sebaiknya kita cepat saja keluar dari sini," pinta Dhyia dengan nada suara datar dan gurat wajah dingin. Duduk dan menghela napas kecewa padahal dia sudah menyiapkan makan siang untuk suami yang paling dia cintai sekaligus ingin memastikan suaminya baik-baik saja. "Sudah berapa kali aku melakukan kesalahan," umpatnya di dalam hati sambil memegang rantang yang dipangkunya dengan kuat.


Di samping itu pak Barlin yang menyetir mobil untuk yang pertama kalinya setelah kematian sang bos tercinta dengan berhati-hati. Diam menatap dan bercampur panik. "Pasti nanti di rumah, akan ada pertanyaan?! Siapa yang membawa mobil? Hix!" katanya menjerit di dalam hati sambil meremas stir dengan kuat.

__ADS_1


Ilker yang sudah berulangkali mencari di luar kantor masih belum menemukan sang istri sehingga dia terlihat, seperti orang gila. Berjalan sambil melihat setiap orang yang dia temui masuk ke parkiran VVIP dengan mengendap-endap, seperti seorang maling, semakin menambah kemarahannya. "Aku tidak menemukannya," katanya kesal memutar badan dan menemui kembali karyawan yang bertugas sebagai resepsionis itu.


"Wanita mana yang kamu bilang?" tanya Ilker dengan kasar sehingga membuat karyawan resepsionis ingin menangis akibat mendapat semburan dari seorang atasan langsung.


"Ta-tadi di situ, Pak," katanya gugup menunjuk kursi tempat orang menunggu.


Ilker langsung membuang muka masamnya dari hadapan karyawan wanita itu lalu menyeret kedua kakinya dengan kencang mengambil mobil.


Mobil yang dinaiki Dhyia untuk menemui suami tercintanya kini telah masuk ke dalam garasi. "Mari, Nya!" Pak Barlin membuka pintu.


"Terima kasih, Pak," jawab Dhyia tersenyum getir, turun sambil membawa rantang yang masih berisi. Berjalan dengan gontai memasuki kediaman Carya kembali yang membuat hidupnya, seperti di neraka.


"Nya, kenapa cepat sekali pulangnya?" tanya Benar membuka pintu setelah melihat sang majikan berjalan dari balik gorden yang dapat tembus melihat keluar. Berjalan mengikuti mantan teman seperjuangannya kala itu bekerja di dalam kediaman Carya yang berbeda tugas. Benar yang bekerja sebagai asisten rumah tangga sedangkan Dhyia bekerja sebagai seorang perawat untuk merawat sang pemilik rumah, yaitu nyonya Afsheen.


"Iya, Bi. Tiba-tiba saya gak enak badan," jawab Dhyia, meletakkan rantang di atas meja.


"Berarti, Nyonya sudah bertemu dengan tuan?" tanya Benar yang antusias ingin tahu.


Dhyia hanya menggeleng lalu berbalik dan kemudian berdiri tegak lurus di hadapan Benar. "Mas, Ilker mungkin lagi sibuk, Bi," jawabnya lesu, teringat tentang beberapa panggilannya yang tidak di jawab begitu juga dengan pesannya. "Sudahlah, Bi! Engga usah dibahas lagi. Sekarang sudah telanjur siang. Sebaiknya, Bibi istirahat saja," sarannya. "Bibi, 'kan kurang sehat. Saya juga lelah, Bi. Saya mau istirahat dulu." Berjalan dengan gontai meninggalkan sang asisten, melihat ke atas tepat ke arah kamarnya dan sang suami.


"Kasihan sekali, Nyonya," kata Benar membuka rantang yang masih utuh. "Tuan tega sekali. Padahal, Nyonya sudah capek-capek mempersiapkan ini." Menyusun kembali rantang dan menaruhnya di dekat westafel.


" Berani-beraninya, dia datang kemari tanpa seizin dari 'ku," kata Ilker melajukan mobil dengan kencang.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2