Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kegelisahan


__ADS_3

"Terimakasih, Mbak!" ucap Yilzid dengan ramah setelah kunci kamar di serahkan sambil mengigit gerahamnya dengan kuat. "Ilker!" teriaknya dari belakang berlari sedikit mengejar lelaki yang berjalan di depannya.


Sontak Ilker langsung menghentikan langkah. Membalik ke belakang menoleh ke arah wanita yang dicintainya.


"Kamu ini apa-apaan, sih!" katanya. "Ini... !" Memperlihatkan kunci. " Kamu pesan dua kamar?" Yilzid langsung bertanya heran.


"Selama ini, 'kan sudah seperti itu. Apanya yang apa-apaan?"Ilker malah bertanya dengan kesal. Meninggalkan wanita itu seorang diri.


"Apa?" Yilzid terdiam. "Kamu bilang, seperti biasa! Heh!" Menyeringai, menatap sinis lelaki yang memakai jaket kulit itu. Sesal bercampur kesal kini dia rasakan. "Inilah akibatnya kalau aku terlalu mendiamkannya," gumamnya sebal melanjutkan langkah.


Ilker pun berhenti di depan pintu menunggu kekasih hati memberikan kunci. Memutar badan miring melihat ke arah wanita itu yang menoleh ke arah nya juga. Sontak si pria yang berbadan tinggi itu pun membuang mukanya.


Dari jauh model papan atas itu pun tampak mengayunkan kedua kaki dengan raut muka memerah menggigit kedu gerahamnya dengan kuat sambil memegang kedua kunci di tangan kanan.


"Ini!" Menyerahkan kunci. "Kalau aku tau, seperti ini kenyataannya! Aku tidak akan mau mengikuti permintaanmu!" katanya, membuka dan sekilas melirik nomor kamar pria yang mengambil kunci dari tangannya. "Kamu tau engga? Aku tadi begitu bahagia ingin berangkat kemari! Heh! Kenyataannya malah seperti ini. Menyebalkan!" ucapnya, pergi meninggalkan Ilker yang sudah memegang knof pintu kamar.


Saat ini sungguh baik hati Ilker yang tidak mau terpancing oleh emosi. Masuk kedalam kamarnya dan menatap sang kekasih yang membuka kamar dengan tatapan yang dingin.


Bertolak ke London Rana sudah menyusun semua pakaian dan barang-barang yang ingin dibawanya pulang ke Indonesia. Dua koper pun telah terisi penuh oleh perlengkapannya.


"Mmm!" Mengibaskan kedua tangannya ke udara. "Aku sudah selesai!" Membalik kembali ke belakang melihat sekeliling sudut dan tempat tidur, apa ada yang ketinggalan atau tidak. "Besok aku akan meninggalkan kota ini!" katanya menatap dari jendela kamar lantai dua puluh lima, udara sore yang mulai menggelap. Memutar kepala melirik busur dan anak panah yang berdiri tegak di sudut dinding yang terjepit sedikit oleh tolet. Hatinya kembali berkabut mengingat busur panah itu adalah pemberian sang ayah sebagai hadiah untuknya yang memenangkan pertama kali di saat mengikuti lomba meski dia belum mendapatkan juara satu.


Busur panah itu pun dia hampiri dengan menyeret kedua kaki duduk di atas tempat tidur. "Dad! Ini adalah kenang-kenangan yang tersisa dari mu! Untuk putrimu yang paling kau sayangi dulu!" ucapnya mengenang masa lalu, mengelus busur panah itu.

__ADS_1


Udara kota London yang semakin dingin membuatnya menatap ke arah jendela yang masih terbuka. "Dulu, aku begitu benci kalau udara ini tiba-tiba berembus. Tapi, sekarang tidak lagi!" Tersenyum teringat ucapan sang ibu kala itu. "Kalau dingin gunakan mantel dan sale penutup leher juga pakai penutup telinga." Dia pun menutup jendela lalu memasang alat penghangat ruangan. Menyandarkan tubuhnya di atas heardboard sambil memainkan ponsel yang terletak di sudut tempat tidur tepatnya di atas meja.


Kamar hotel yang mewah yang di pesan Ilker untuk Yilzid pun terlihat sangat sepi dan hening. Tidak ada terdengar suara musik yang sering dia bunyikan ketika berada di dalam seorang diri bahkan jendela kamarnya pun tidak dia buka. Dia hanya terdiam melemparkan handbag miliknya di atas tempat tidur dengan kasar.


Baugh!


Tas itu terlempar ke head board dengan keras memantul dan kembali terseret kebelakang. Menatap lurus dengan dada yang berapi-api setelah lelaki yang dicintainya memilih dua kamar yang terpisah. "Biasanya, dia selalu memilih dua kamar di dalam satu ruangan. Ini malah... ! Iiiiih, cih!" rintihnya kesal memukul tempat tidur dengan kepalan tangan. Duduk sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan penuh kebencian.


"Bi, ini adalah bunga kesukaan saya," kata Dhyia berjalan mendekati pohon bunga. "Bunga mawar ini adalah lambang cinta, benar engga, Bi?" tanyanya dengan senang bercanda.


"Nyonya, bisa aja!" sentil Benar menoleh ke arah wajah wanita itu yang tampak bahagia. Tidak seperti biasanya, pikirnya. Benar pun sangat bahagia seakan dia mengikuti kebahagiaan wanita muda itu.


"Benar, Bi! Cinta itu ada lambangnya. Dan bunga mawar ini buktinya!" sambungnya yang tidak mau kalah pendapat dari Benar.


"Terima kasih, Pak," ucap pak Altan langsung pergi. Berjalan seolah-olah dia sedang mencari sesuatu di balik rumput dan mencabut rumput yang panjang, seperti sedang terlihat bersih-bersih.


"Pak! Kamu di situ, toh!" teriak pak Edis yang baru keluar dari kamarnya berganti pakaian.


Pak Altan pun langsung menaikkan pandangan melihat ke arah sumber suara pak Edis yang terdengar.


"Iya, rumputnya panjang," jawabnya menunduk kembali melihat rumput. Layaknya, seperti orang yang benar-benar mencabut rumput jika siapa saja pun yang melihatnya.


"Tadi, kamu dicariin sama, Bi Benar," kata pak Edis menghampiri pak Altan.

__ADS_1


"Aku sudah bertemu kok dengan Bi Benar tadi." Pak Altan langsung menjawabnya dengan lugas.


Dhyia dan bi Benar pun terlihat sangat sibuk. Mereka sangat antusias membersihkan rumah dan pekarangan. Dhyia yang belakangan ini tidak mau bersantai dan hanya melihat saja dia turut andil dalam beberes dapur demi menghilangkan kesedihannya dan melupakan masalah yang dia hadapi.


"Bi, sepertinya sudah masuk ashar! Sebaiknya kita istirahat dulu, Bi. Tidak baik menunda sholat!" Meninggalkan semua pekerjaannya.


"Iya, Nya," jawab Benar yang terlanjur malu dengan wanita yang lebih muda darinya. "Aku belum bisa, seperti Nyonya," gumamnya, menoleh ke arah wanita yang telah beranjak meninggalkannya sendiri.


Di dalam hotel, Ilker pun langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang terdapat di kamar. Membuang penat yang menumpuk di udara. Melepas sepatu dan meluruskan kakinya di atas sofa. Memejamkan mata sambil menenangkan syaraf-syarafnya.


Asil yang tampak merindukan kedua sahabatnya terlihat berdiri menatap sebuah foto yang terpajang di dekat kasir. Foto mereka bertiga saat pergi berpetualang ke pantai dan menyelam. Ilker paling suka menyelam, pikirnya. Memutar badan beralih ke belakang tepat ke arah suara yang menanya berapa jumlah bayaran makanan yang mereka pesan.


Asil pun mengatakannya dan pelanggan itu pun pergi setelah menerima kembalian.


"Terima kasih," ucap Asil.


Sementara Gohan Hakan semakin menekan Yuzer agar lebih cepat lagi bergerak menghancurkan Ilker yang tidak lain adalah kekasih anak kesayangannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2