Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Berita yang membuat Ilker terkejut


__ADS_3

"Dhyia!" teriak Ilker membanting pintu. Berjalan kencang menaiki anak tangga.


Benar yang lagi santai meluruskan pinggangnya yang terbawa khayalan masa lalu ketika dia dulu pernah membuat pak Altan terkejut sampai terkeseleo. Hihihi! Tawanya geli mengingat itu. Tiba-tiba saja terhenti.


"Dhyia!" teriak Ilker lagi dengan keras bercampur kesal karena tidak mendengar sahutan dari sang istri yang telah berani melanggar perjanjian setelah menikah. Berdiri dan membuka pintu. "Dhy... ." Sontak dia langsung terdiam ketika melihat sang istri begitu khusuk dengan sholatnya. Suara yang menggema memenuhi ruangan berteriak-teriak langsung menghilang.


"Loh! Bapak, kok diam?" tanya Benar terheran. selalu ingin tahu. Berlari membuka pintu kamarnya. "Tuan kenapa lagi? Kenapa dia memanggil, Nyonya, seperti itu?" Benar berjalan mengintip ke arah tangga.


"Dhyia, ada urusan apa kamu datang ke kantor?" tanya Ilker langsung sebelum sang istri sempat membuka mukena.


"Astaghfirullah, Mas. Tenang dulu ! Kamu kenapa berteriak, 'kan malu, Mas didengar Benar dan yang lain." Berdiri melihat suaminya. "Aku cuma pengen tau keadaan kamu itu saja," jawab Dhyia pelan.


"Alah, gak usah banyak alasan kamu," sangkal Ilker menepis udara. "Kamu sekarang sudah mulai berani," ucapnya teringat kejadian yang telah dilihatnya di tangga dengan pak Altan. "Kamu sengaja, 'kan datang ke kantor. Supaya aku diserbu sama media," bentaknya.


"Astaghfirullah. Sekali lagi aku gak bermaksud begitu, Mas. Kenapa pemikiran kamu seburuk itu tentang aku? Mas kamu tau gak? Bagaimana perasaanku ketika telponku gak diangkat? Aku khawatir, aku cemas memikirkan kamu di luar, Mas," ungkap Dhyia lirih. Meremas mukena dengan kuat ibaratkan kalau, seperti itulah hatinya remuk. Menunduk menahan air mata.


"Aku tidak butuh perhatian darimu. Kalau kau mau memberi perhatian, beri saja perhatian itu pada dirimu sendiri," sentilnya memutar badan sambil melonggarkan dasinya. "Hari ini kamu sudah membuat kesalahan besar. Kamu telah berani keluar rumah tanpa seizin dariku. Kamu tau kewajiban seorang istri?" tanya Ilker semakin menyudutkan Dhyia.


Dhyia hanya diam menyesali perbuatannya. Dia telah lancang melangkahkan kaki keluar rumah. Bagi seorang, istri kata-kata suaminya adalah ibadah," gumam Dhyia merasa bersalah, menatap lirih sajadah yang masih terbentang. Apalagi, aku sudah berani mendatangi, Mas Ilker ke kantor," lanjutnya semakin menyalahkan dirinya sendiri dengan lirih.


"Dengar Dhyia. Selama kita menikah kamu tidak pernah berbuat selancang ini. Tapi aku melihat belakangan ini kamu mulai berani membangkang!" pekik Ilker dengan amarah yang meluap.


"Mas, Maaf, 'kan aku." Memutar badan lurus melihat punggung sang suami.


Di lantai bawah Benar yang tadi penasaran setelah mendengar suara tuan mudanya, berdiri dengan rasa cemas. "Aku takut kalau tuan melakukan sesuatu yang buruk terhadap, Nyonya," gumam Benar memutar badan sambil meremas kedua jemari dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


"Setiap kali senjatamu hanyalah kata-kata maaf. Semakin aku memaafkanmu. Kamu semakin besar kepala," serang Ilker melemparkan jasnya ke atas tempat tidur. "Kamu tau? Apa akibatnya, kalau kamu tetap keras kepala? Berdiri menatap nanar keluar jendela.


Kata-kata yang di lontarkan Ilker sangat menyakiti sekali bagi seorang Dhyia. Bagaimana mungkin suami yang sangat dicintainya di dalam hati dengan tulus kini malah dengan ringan menudingnya.


Belum lagi pikiran Ilker yang kacau akibat terlalu sering mengingat tentang Dhyia. Itu malah membuat dirinya semakin depresi sehingga dengan lekasnya dia mudah memarahi istri yang sudah menemaninya hampir dua tahun.


"Setiap aku masuk ke dalam kamar ini, aku semakin tidak tenang," ucap Ilker menyindir sang istri dan mengambil kunci mobil.


"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Dhyia yang berusaha menghalangi sang suami.


"Minggir dari sini!" bentak Ilker dengan wajah memerah, seperti api tanpa menoleh ke arah sang istri.


"Mas, kamu jangan pergi! Aku takut kalau di luar sana kamu kenapa-kenapa?" bujuk Dhyia memberanikan diri memegang lengan suaminya yang kekar itu.


"Aagh! Astaghfirullah, Mas. Kamu sekarang sudah sekasar itu?" tanya Dhyia terkejut membelalak mengatur napas menahan sabar.


"Mas, segitukah kebencianmu terhadap 'ku? Sampai-sampai kamu ingin membuatku terbentur ke tembok," lanjutnya. Berdiri dengan pakaian yang masih menutupi sekujur tubuh dan mukena yang masih menutupi kepalanya.


Sesuci apapun tali yang sudah mengikat mereka berdua dan sudah halal. Itu tidak bisa membuat pernikahan mereka terlihat manis. Lika-liku masih terus saja menghampiri pernikahan yang masih seumur jagung itu. Perselisihan dan kesalahan pahaman terus saja datang menerpa. Setiap masalah selalu dianggap besar oleh sang suami yang memang sengaja ingin melepaskan sang istri.


Wanita yang sudah menerima ijab qobul dari seorang pria dan melabuhkan harapannya, kalau lelaki yang dinikahkan dengan nya akan bisa berangsur-angsur menerimanya.


"Mas. Aku hanya ingin menjalankan tugas sebagai seorang istri," ucap sang istri dengan suara serak yang tidak pernah menyerah belajar untuk membuat lelaki yang telah menjadi pendampingnya luluh.Dia terus membuat dirinya sendiri lebih baik di mata suami.


Akan tetapi, sayangnya belum bisa membuat itu kuat sebab sampai saat ini hubungan itu tidaklah, seperti hubungan suami dan istri semana mestinya. Di tambah lagi Ilker yang tidak pernah mau menatap Dhyia dan selalu menyuruh sang istri untuk memakai pakaian yang tertutup. Oleh karena itulah Dhyia selalu memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya dari kaum pria.

__ADS_1


"Mas, aku tidak akan menyerah sebesar apapun kebencianmu terhadap 'ku," kata Dhyia di dalam hati. Menangis meluapkan kesedihannya menatap ke bawah. Butiran kristal pun jatuh menyentuh lantai.


"Aku yang bodoh mau menikahimu meski Ibuku sudah tiada," sesal Ilker keluar kamar, menuruni anak tangga yang akan menjadi pembicaraan semua media ketika mereka meliput kediaman seorang keturunan Carya.


Deg!


Dhyia semakin terpuruk, hatinya semakin bersedih, tatapan kedua bola mata langsung melayang menatap wajah suaminya yang mengatakan telah menyesal menikahinya.


"Miris sekali hidupku," rintih seorang istri yang beranggapan dari awal akan baik-baik saja.


"Altan!" teriak Ilker semakin keras menatap seluruh ruangan rumah. Duduk menjatuhkan tubuhnya di sofa yang empuk dan menaikkan kedua kakinya ke atas meja.


"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya Altan menunduk takut berdiri di samping sofa dan meninggalkan rumput yang dia gunting. Pak Altan sangat panik jika mendengar suara majikan laki-lakinya itu. Semua benda yang dia pegang langsung dia campakkan entah ke mana.


Pernikahan yang terjadi karena menjalankan sebuah amanah semakin menyiksanya hingga tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalam rumah tangga yang sudah berjalan selama hampir dua tahun.


"Dari mana saja kamu? Kenapa baru datang sekarang?" bentak tuan mudanya bertanya. "Cepat buatkan saya minum!" bentaknya dengan meninggi mendelik melihat lurus. Mencengkram sandaran tangan sofa dengan kuat.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2