Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Yilzid tiba di rumah


__ADS_3

Ilker terdiam berpikir sambil memegang ponsel yang masih menempel di telinga kirinya. Berjalan mondar-mandir dan sesekali menunduk melihat langkahnya.


📱"Selain itu saya belum bisa mendapatkan apa pun mengenai yang lain." Alen melanjutkan perbincangannya dari balik telepon meski tidak ada sahutan dari dalam telepon.


📱"Hm! Jangan pernah lengah sedikit pun. Karena musuh jauh selangkah lebih cerdik di depan kita," ucap Ilker dari balik telepon. Berdiri di depan jendela menghadap ke arah jalan raya yang terlihat dari dalam kamarnya.


📱"Baik, Pak! Selamat siang!" Alen lalu menutup telepon setelah mengucapkan salam. Merapikan rambut yang sudah ia sanggul sehingga ia sudah tampak, seperti seorang koki yang handal dan ia pun memasang tahi lalat palsu di ujung bibirnya agar si model papan atas itu tidak mengenalinya kalau ia adalah pekerja yang bekerja di stasiun tv milik Ilker Can Carya yang bekerja sebagai crew di stasiun televisi itu.


Gohan Hakan langsung naik pitan. Dia mengepal jemarinya dengan kuat ingin segera meninju hidung mancung Yuzer. "Kalau bukan karena pertemanan kau mungkin sudah lenyap di sini!" ucap Gohan Hakan dengan wajah memerah. "Matahari tidak selamanya bersinar terang. Ia pasti tenggelam di dalam awan mendung yang hitam yang akan menurunkan air yang deras." Menatap wajah Yuzer dari dekat dengan tatapan yang sangat tajam dan membunuh.


"Heh!" Yuzer menarik bibir dengan sinis ke kiri. Mendung dan hujan itu tidak selamanya, terkadang di tengah air yang turun ada matahari yang bersinar," balasnya menyindir.


"Cih! Kau rupanya sudah berani menunjukkan sifat aslimu. Aku tidak akan pernah memberi maaf kepada seseorang yang berani menyakiti Putriku." Gohan Hakan terus menantang pria yang berdiri di hadapannya itu dengan mencengkram lehernya dan melayangkan kepalan tangan di atas udara tepat mengarah ke arah wajah Yuzer. "Nyawamu bisa dihitung jika sudah sampai di tanganku." Melayangkan kedua sorot mata tajam penuh kemurkaan di hadapan kedua bola mata Yuzer dan bercampur gurat wajah mengetat dan memerah, seperti bola api. Melepaskan tangannya dengan kasar dari kera baju pria yang berkulit putih itu.


Berjalan kencang terburu-buru menghampiri sang putri. "Yilzid," katanya berlari menghampiri sang putri.


"Papa," ucap Yilzid terkejut bercampur pucat menganga dengan kedua bola mata melebar di ikuti kedua tangan mengayun di udara yang sedang memegang ponsel milik temannya Pevin. Lemas dan gemetar sekujur tubuhnya di saat melihat sang ayah berjalan mendekatinya dan bertemu tatap dengan pria yang paling di takutinya.


Pevin pun tercengang pucat di sebelah kiri Yilzid ketika ia pun melihat Gohan Hakan menghampiri mereka berdua. Dia yang berdiri tidak jauh dari sang model papan atas nan cantik itu menelan ludah kasar dengan gurat wajah tegang dan gemetar. Meremas kedua jemari dengan kuat. Mengikuti Gohan Hakan yang memutar langkah mendekati Yilzid dengan kedua sorot mata khawatir.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gohan Hakan memperhatikan dan memegang wajah sang putri yang sudah panik dan gemetar.


Yuzer pun keluar dari dalam ruangan setelah Gohan Hakan keluar lebih dulu. Berdiri melihat kedua orang tersebut dari depan pintu.


"Papa, a-aku baik-baik saja," jawab Yilzid menjatuhkan pandangan cemas. Perlahan ia menurunkan tangannya sebelah kanan lurus tegak ke bawah sambil memegang erat ponsel dengan tas menggantung di siku di tangan sebelah kiri.


Menahan tungkai kaki dengan kuat agar tidak terjerembab ketika pria setengah tua itu berdiri tepat di hadapannya, menatap dirinya yang gusar dengan tatapan cemas.


"Dua hari ini. Papa mencari kamu ke mana-mana," kata Gohan Hakan menghela napas. "Seluruh jalan Papa lalui agar bisa menemukanmu. Papa juga sudah mencari di setiap sudut jalan di malam hari." Membawa sang putri masuk ke dalam.


Yilzid hanya diam saja mendengarnya. Sementara Pevin yang mengikuti mereka dari belakang tampak cemas dan panik ketakutan kalau tiba-tiba saja nanti Gohan Hakan menanyakan perihal sang model itu kepada dirinya. "Aku harus jawab apa?" tanyanya cemas di dalam hati, *******-***** jemarinya menatap lurus ke bawah dengan nanar. "Malah aku belum merangkai kata-kata untuk itu lagi," sesalnya pilu. "Aaagh!" Erangnya kesal terhadap dirinya sendiri yang terjebak di dalam kubu buatannya sendiri.


"Hari ini kecemasan Papa langsung hilang karena Anak yang paling Papa sayangi sudah kembali dengan selamat," ucap Gohan Hakan gembira menyambut kedatangan sang model itu. Melangkah menaiki tangga masuk ke dalam rumah. Tanpa sengaja ia melihat ujung sepatu hitam kilat terpampang jelas di depan pintu.


Yilzid pun menoleh ke arah pria yang berdiri di sebelah pintu. "Pa, seharusnya Papa berterima kasih kepada nya," ucap Yilzid kepada sang ayah yang menyambutnya dengan penuh sukacita. Gohan Hakan pun menaikkan kepala menatap ke arah yang di tunjuk oleh sang putri dengan tatapannya tadi.


Sementara di belakang terlihat Pevin masih membeku diam menutup kedua bibir dengan rapat. Menyeret kedua kaki terus melangkah sambil mendengarkan perbincangan kedua orang di depannya.

__ADS_1


"Dia yang sudah menolongku, Pa," kata Yilzid melirik kembali ke arah pria yang berdiri di balik pintu. Pevin yang berjalan tidak jauh dari temannya itu ikut juga melirik ke arah pria yang sudah lama berdiri di depan pintu itu.


Spontan Gohan Hakan seolah tertunduk malu setelah mendengar ucapan itu yang keluar dengan jujur dari mulut anak perempuannya. Menatap Yuzer yang tampak melayangkan sorot mata penuh dengan kebanggaan dan seakan mendongak angkuh memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Di dalam sebuah ruangan yang gerah. Alen pun keluar dengan dandanan yang sudah rapi ala seorang chef ternama . Berdiri terlebih dahulu di depan cermin sebelum ia pergi melihat penampilannya yang memakai celana bahan yang berwarna hitam dan baju stelan kera kemeja berwarna merah yang terbuat dari bahan katun dan juga tas.


Menaiki sepeda motornya yang terletak di depan rumah, tepatnya di halaman. Memasukkan kunci sepeda motor dan menatap dirinya kembali di depan kaca spion. Rambut yang biasanya tergerai panjang kini terpaksa harus ia sanggul.


"Ibu aku pergi dulu, ya," ucapnya kepada wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu.


"Beri kabar ke Ibu ya. Kalau sudah sampai. Jalanan hari ini terlihat sangat macet. Tadi Ibu begitu sesak terjebak ketika pergi ke pasar," tutur Ilen, melepas kepergian anak semata wayangnya yang bekerja menjadi seorang mata-mata tanpa sepengetahuannya.


"Iya, Bu. Do'akan saja Anakmu ini baik-baik saja," kata Alen mencium punggung tangan ibunya yang menghampirinya mendekat. "Aku pergi dulu, Bu. Jaga diri Ibu baik - baik, ya." Memeluk Ilen. "Bye!" ucap Alen berpamitan dari atas motor yang sudah melaju kencang.


"Pa, dia sudah menyelamatkan aku," ucap Yilzid dengan penuh hati-hati bercampur cemas ketika ia memandangi wajah sang ayah yang sudah mengkhawatirkan dirinya.


Gohan Hakan hanya diam saja sembari menimbang-nimbang penuturan dari sang anak yang membuatnya antara percaya dan tidak mengingat Yuzer juga adalah seorang mafia yang sama, seperti dirinya kejam dan licik.


"Terima kasih kamu telah menyelamatkan putriku," ucap Gohan Hakan dengan berat hati dan memutar badan menatap ke arah lelaki itu dengan gurat wajah dingin.


Sementara di lantai bawah tepatnya di tempat tadi Gohan Hakan dan Yuzer masih terlihat dingin dan bersitegang semenjak perselisihan yang terjadi di antara mereka berdua.


"Huh!" Yilzid menghembuskan napas lega sambil melemparkan tas ke tempat tidur.


"Pev! Kamu tau engga rasanya lega sekali. Akhirnya, aku bisa juga kembali," tuturnya penuh rasa syukur. Membuka sandal high heels nya dan meletakkannya di atas lantai begitu saja.


"Sekarang bernapas lah sepuas mu!" seru Pevin menoleh ke belakang melihat ke arah temannya, di ikuti kedua tangannya mengunci pintu kamar. "


"Hm! Kamu betul," sambung Yilzid menjatuhkan tubuhnya di atas bean bag yang tertata rapi beserta sebuah meja kaca yang di atasnya terdapat vas bunga dengan kedua kaki menginjak lantai tepatnya di depan pintu kaca yang menuju ke balkon. "kalau aku tadi tidak mengikuti saranmu. Kemungkinan besar aku hari ini belum bisa kembali ke sini," lanjutnya dengan bahagia, menatap Pevin yang melangkah menuju ke arahnya.


"Selagi aku masih ada di dekat mu. Kau tidak akan mengalami kesulitan karena dalam setiap kondisi apa pun aku akan selalu membantumu," tutur Pevin menoleh ke arah tas yang teronggok di atas tempat tidur. "Ngomong-ngomong bagaimana kabar mu dengan nya?" tanya Pevin ketika ia memutar kepala menatap ke arah foto yang terletak di atas nakas. "Selama kita berdua tadi. Kamu tidak pernah sekali pun menyebut namanya atau membicarakan mengenai kalian. Ya..., tidak seperti biasanya," ungkapnya menatap ke arah wajah temannya yang tiba-tiba berubah muram.


"Ya!" balas Yilzid singkat. "Bahkan hari ini pun aku belum berbicara apa pun kepada nya," lanjutnya, menatap nanar dengan pandangan kosong seakan ia teringat yang telah terjadi dan sudah melukai hatinya. "Belajarlah untuk memberi kesempatan kepada masing-masing," lanjutnya.


"Maksudnya?" Pevin langsung bertanya mengerutkan kening. Pevin terus menatap serius temannya yang sudah membuatnya bingung.


Yilzid hanya menghela napas kasar. "Semua menjadi rumit. Seakan tidak ada arah untuk ke awal," kata Yilzid, bangun dari duduknya dan berdiri menatap keluar jendela. Menikmati embusan angin yang mengalir menerpa wajah.

__ADS_1


"Apa ada hubungannya dengan surat itu?" Pevin penasaran dan bertanya balik.


Yilzid hanya diam saja, bergeming seolah sedang menikmati embusan angin yang berembus sepoi-sepoi. "Awalnya sih dia marah-marah dengan surat itu. Kamu tau sendiri 'kan? Kalau dia tidak menyetujui akan hal itu," lanjutnya, memegang railing balkon dengan kedua tangannya. Berdiri menatap lurus ke depan membelakangi Pevin.


"Lalu? Apa kau ingin mengatakan kepada nya kalau itu bukanlah idemu?" Pevin kembali melayangkan pertanyaan.


Sontak Yilzid memutar badan. "Apa kau udah hilang akal? Mana mungkin aku mengatakan hal sebodoh itu. Itu sama saja membunuh diriku sendiri," sangkalnya. "Belum lagi wanita itu! Dia sudah melakukan sesuatu yang membuat Ilker terkadang mau perhatian padanya," lanjutnya dengan kedua bola mata tajam dan hati yang membara. "Semakin hari perempuan itu semakin licik. Dia semakin berani menunjukkan sifatnya," ujarnya.


Pevin yang tadi berdiri kini sudah duduk di sofa santai yang sengaja di susun di dekat pintu kaca sebelah kanan yang mengarah lurus ke arah meja nakas. Memiringkan kepala menatap ke arah sang teman. Duduk dengan menaikkan kaki kanan di atas kaki kiri sambil meletakkan tangan kanan di atas pegangan kursi dan tangan kiri di letakkan di atas paha. Duduk manis dengan rambut tergerai yang berwarna hitam itu.


"Siapa engga sebal coba? Bahkan sampai saat ini dia belum pernah sama sekali mengecek keberadaan ku. Semenjak kami pulang liburan," ungkap Yilzid sesal.


"Apa? Kalian liburan?" tanya Pevin terkejut.


"Iya. Kami liburan," kata Yilzid. "Kami liburan berdua. Kau tau? Apa yang di lakukan perempuan itu?" Dia menelepon dan dia bilang dia lagi sakit, ha? Gimana coba aku engga kesal dan marah-marah sama Ilker," terangnya dengan amarah yang terpendam.


Pevin kemudian beranjak dan berdiri tepat di samping Yilzid. "Kamu jangan berpikiran negatif gitu? Siapa tau dia memang sakit? Mu... ." Pevin langsung menutup mulut.


"What? Kamu bilang apa?" Yilzid bertanya menatap sang teman. "Kamu ingin aku harus ngerti? Ja... ."Yilzid pun langsung terdiam.


"Bukan seperti itu. Maksud 'ku, kau jangan terlalu berpikiran yang bukan-bukan. Sebaiknya kamu cari tahu dulu. Kamu tanya betul-betul. Apakah itu benar atau tidak? Biar kamu tidak salah paham dan menuduh Ilker yang bukan-bukan dan akhirnya menghancurkan hubunganmu dengan nya," kata Pevin membujuk model tersebut. "Yil, hubungan kalian sudah terlalu dalam. Kalian itu sangat sulit untuk di pisahkan. Kemungkinan, kalau kalian di pisah ada salah satu di antara kalian yang akan menjadi korban. Tidak mau menikah, selamanya akan sendiri. Mungkin? Atau... ." Pevin menatap Yilzid dari samping."... mengakhiri hidup," tandasnya tegas.


Yilzid pun langsung menjatuhkan kepalanya ke bawah melihat kedua kakinya yang berdiri. Seolah ia sedang menimbang ucapan temannya itu. Sungguh sulit dan tidak mungkin untuk mempercayai perempuan yang sudah berani melakukan pernikahan dengan kekasihnya, cih! Pikirnya meludah. "Aku tidak tau memulai dari mana lagi, agar kami berdua bisa kembali seperti dulu. Atau juga aku tidak tau mengakhirinya, seperti apa dan di mulai dari siapa?" tutur Yilzid menaruh kebencian bercampur dendam. Menatap lurus udara kosong dengan tajam.


Pevin langsung menarik napas panjang. Dia seolah tidak bisa lagi berbicara apa-apa. Saat ini hanya diam menutup mulut yang bisa ia lakukan. Kini yang bisa ia perbuat ialah menahan sesak ketika mendengar yang di ucapkan temannya itu. Menghembuskan napas berdiri di belakang wanita itu sambil menautkan kedua jemarinya. Menatap punggung model itu dan jalan-jalan yang ramai, silih bergantian.


Di lantai bawah kedua lelaki yang tadi terlihat berdiri sudah sekian lama semenjak sang anak memasuki kamar. Kini mulai memanas. Gohan Hakan dan Yuzer masih terlihat adu pandang yang begitu sengit. Hal ini sungguh berbeda dari sebelumnya yang di mana dulunya mereka berdua adalah teman dan saling menaruh rasa saling percaya kini malah telah rusak akibat keserakahan yang mereka miliki.


"Heh! Hari ini aku telah berhutang budi pada mu," ucap Gohan Hakan membuang pandangan dari 7hadapan Yuzer yang sedikit bangga kalau orang yang ingin di tundukkannya telah menunduk dengan sendirinya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2