Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Bingung setelah semburan api


__ADS_3

"Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Menceritakan segala keluh kesahnya yang terjadi di saat mencarinya.


Ilker langsung mengembuskan napas kasarnya kesal karena melihat kedua karyawannya yang berleha-leha nongkrong di kafe. Melihat Cecar yang sama, seperti Alen diam dan menunduk pasrah mau di perlakukan, seperti apapun mereka hari ini sudah pasrah.


"Mulai besok jangan tunjukkan wajah kalian dihadapan saya," sungut Ilker geram sambil melihat kedua karyawannya itu yang sudah memesan makanan. Memutar badan dan pergi meninggalkan mereka.


"Apa tadi maksud dari perkataan bosmu?" tanya Cecar kepada Alen.


"Aku gak mengerti maksudnya apa?" Belum lagi menjawab pertanyaan Cecar. Dia malah bertanya balik.


Diam mengambil mie goreng yang telah di suguhkan oleh sang pelayan tadi. Menarik pelan gelas yang berisi air minum.


"Aku masih belum paham maksud dari ucapannya?" gumam Alen lesu sambil mengaduk-aduk mie goreng. Menatap nanar ke depan dengan pandangan kosong teringat akan hidupnya yang terus berjalan, seperti apa jika dia di pecat.


Mengira-ngira jumlah uang tabungannya yang bisa untuk makan dalam waktu tiga bulan lagi. Bukan aku gak bisa hidup tanpa bekerja akan tetapi, masih ada lagi satu jiwa yang harus aku butuhi, teringat ibunya yang sudah hampir menua.


Mengaduk-aduk mie goreng yang serupa dengan Cecar juga. Semakin lama adukan itu semakin kuat sebab dia geram dengan Cecar yang belum juga menjawab pertanyaannya.


Pluk!


Menunduk piring mie goreng dengan kuat sambil menahan amarah. Sontak Cecar langsung terkejut dan hampir ingin terjatuh dari kursinya.


"Kau kenapa?" tanya Cecar panik berusaha menenangkan diri. Melirik sendok garpu yang terpacak di atas piring. "Kemarahan mu jangan lampiaskan di sini. Ini makanan, pamali kalau makanan di sakiti." Menyeret tubuhnya sedikit mundur dan merapat di sandaran kursi.


Menelan ludah dengan kasar melewati tenggorokan yang kering. Menjauhkan kedua kakinya dari hal-hal yang tidak di inginkan. Sebelumnya Cecar sudah mengetahui kalau temannya itu marah, seperti apa sehingga dia dengan diam-diam berjaga dari hal yang akan membuatnya cidera.

__ADS_1


"Len, sebaiknya kita perjelas kembali pada pimpinanmu itu. Dia gak boleh seenaknya dong. Main pecat-pecat kita," kata Cecar dengan gugup berpura-pura merasa perihatin padahal sebenarnya Cecar tidak peduli akan hal itu. Baginya pekerjaan bukanlah perioritas saat ini karena dia lebih suka bekerja mencari uang dari aplikasi.


Spontan dia pun melepaskan mie goreng milik Cecar yang ingin dia cabik-cabik tadi. Membiaskan mukanya dari temannya langsung.


"Entah kenapa kita di sini bertemu dengan nya," sesak Alen, memasukkan mie goreng ke dalam mulutnya dengan kasar.


"Mungkin sudah jalannya. Kalau gak kayak gitu kita gak mungkin tau apa yang ada di dalam hati bosmu itu tentang kita." Belum mau berpikir Cecar malah menimpali hingga suasana menjadi runyam.


"Jalan mau pulang ke rumahmu!" katanya menyambung ucapan temannya itu seakan meledeknya dengan sebal. "Lalu, setelah itu kau tenang-tenang dan santai-santai, duduk manis di rumahmu, iya!" Merasa sulit bernapas bahkan untuk menelan air minum saja rasanya berat.


"Terus aku mau ngapain lagi. Kalau betul atasan killermu itu memecat kita." Memasukkan mie goreng ke dalam mulut. "Mau mendatanginya ke kantor, ngemis minta kerja lagi? Atau datang ke rumahnya dan memohon di sana di depan istrinya, agar kuat di kasih hani olehnya dan bisa masuk kerja lalu di paksa mencari model yang kayak kekasih gelapnya itu, iya?" Melihat Alen dari ekor matanya. "Kalau memang harus kayak gitu. Mendingan aku cari kerja di tempat kuli saja. Engga banyak tuntutan, eng... ." Cecar langsung diam dan menggigit mie gorengnya sampai *****.


"Sekali pun kamu bekerja jadi, kuli. Tapi kau tidak akan pernah terlepas dari tekanan di bawah pekerjaan." Mengeluarkan suara kesalnya sambil menusuk piring kaca dengan garpu.


Glek !


Kafe yang besar itu yang banyak di datangi para pengunjung. Banyak yang datang membawa mobil sehingga sangat kesulitan untuk seorang Ilker mengeluarkan mobilnya yang sedikit rapat dengan mobil pengunjung yang lain.


Berdecak kesal sambil mengeluarkan napas kasar dia mencari penjaga parkir dengan kedua bola matanya. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Berdiri tegak lurus dengan kedua kaki yang menapak keras di atas tanah menggunakan sepatu pantofel yang hitam dan berkilat itu yang terbuat dari kulit asli.


Gelisah dan terus resah bukan karena terik matahari melainkan isi amplop yang di kirimkan oleh kekasihnya ke kediamannya yang sengaja di tujukan untuk sang istri.


Bergerak ke sana ke mari sambil ngedumel di dalam hati. "Sekian banyak mobil yang datang, masa satu pun aku tidak menemukan orang itu, cih!" Segera ingin buru-buru pulang untuk mengambil amplop itu.


Entah kenapa? Tiba-tiba saja dia tidak ingin kalau wanita yang ada di dalam rumahnya, yang sekarang berstatus sebagai istrinya itu tau akan hal itu. Dia seolah tidak rela kalau sampai sang istri melihat isi amplop itu.

__ADS_1


Mengayun kaki dengan kencang. Mengeluarkan mobil dengan terpaksa dari tempat parkiran kemudian berhati-hati tanpa di awasi oleh sang penjaga parkir. Menutup pintu mobil lalu memasukkan kunci dan melaju meninggalkan parkiran lalu mendadak dia berhenti dan memberi uang parkir kepada sang penjaga yang dari tadi dia cari.


"Terima kasih, Tuan," katanya mengambil uang yang di berikan Ilker cukup banyak, terkejut dan merasa bersyukur, melihat mobil itu terus melaju kencang. "Semoga saja hidupnya bahagia." Terlalu senang sehingga dia dengan ringan hati mendo'akan orang itu.


"Len, lalu?" tanya Cecar dengan pertanyaan yang setengah.


"Lalu apa?" Alin kembali bertanya sebab dia sudah banyak membuang waktu mengabdi untuk bos besarnya itu.


"Rencanamu akan risen?" Cecar bertanya lagi selanjutnya.


Alen tidak menjawab. Dia mengambil gelas yang belum pernah dia sentuh dari tadi. Meliriknya sekilas sambil meneguk air minum hingga habis.


"Hmmm, lega!" pikirnya seakan dia tidak mempunyai masalah. "Belum ada kerja yang lebih baik dari sini!" Menghela napas dalam, menunduk melihat gelas yang dia letakkan di atas meja.


Menatap nanar dengan angan yang hilang terbawa angin. Diam membisu seribu bahasa melihat temannya itu seakan membuat Cecar tidak tega. "Bagaimana? Kita berangkat sekarang?" Cecar memberi saran menanyakan hati temannya yang lagi gundah.


"Berangkat ke mana?" Memikirkan pertanyaan temannya. "Pulang ke rumah atau balik ke kantor," katanya, mengarahkan muka kepadanya.


Dia hanya menaikkan kedua bahunya memberi isyarat kalau dia pun tak tahu. Meninggalkan kafe yang sudah membuat mereka terkena semburan api.


Masuk ke dalam membayar pesanan mereka berdua. "Terima kasih, Mbak," kata Cecar mengambil kembalian.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2