
Pak Altan langsung memutar badan setelah menemui tuannya. Dia langsung mengambil gelas yang tergantung dan gugup."Tuan minum apa, ya?" tanyanya melihat-lihat ingin mencari Benar.
Ilker yang duduk di ruang tamu di atas sofa yang disediakan hanya untuk tamu terhormat tampak memijat-mijat kepala. Meletakkan kunci mobil di atas meja. "Masalah pernikahan ini semakin rumit," keluhnya di dalam hati mengenang masa-masa dia ketika kala itu mengucapkan ijab qobul dan mengatakan pada sang istri kalau dia bersedia menikahinya.
"Tuan ini tehnya," kata Altan yang pandai membuat minuman lemon tea untuk sang tuan. Menaruhnya di atas meja dengan pelan tepat di hadapan sang pimpinan perusahaan. Melihat kedua kaki sang majikan naik ke atas meja. Dia pun langsung terkejut melihat sikap sang majikan yang jauh berbeda. Miris sekali pak Altan melihat perubahan itu. Dia seakan tidak percaya kalau itu bukanlah tuan mudanya yang pernah dia kenal.
"Terima kasih," jawab Ilker yang selalu menghargai para pekerjanya terutama pak Altan yang menjadi tempat dirinya dulu untuk bercanda setelah sang ayah tiada.
Bagi Ilker, pak Altan sudah, seperti ayahnya sendiri yang selalu diperhatikannya dan menanyakan kesehatan serta keluarga sang penjaga kebun. Namun, hal itu berubah setelah pernikahan dikatakan sah oleh penghulu.
"Sama-sama, Tuan," jawab pak Altan.
"Jangan panggil, Tuan!" singgung Ilker merasa bersalah atas perbuatannya menyeruput secangkir lemon tea dingin.
"Iya, Nak. Kalau begitu Bapak permisi dulu!" Pak Altan membungkukkan badan memberi hormat.
"Dan satu lagi tetaplah, seperti yang dulu," harap Ilker seketika langkah pak Altan terhenti dan merasa terharu. Ternyata, anak yang sedari kecil dia anggap, seperti anaknya sendiri masih memiliki hati nurani dan masih menyayanginya.
"Iya, Bapak tau," jawab pak Altan memutar badan miring melihat Ilker yang membenamkam wajahnya di dalam mulut cangkir.
Hari-hari Ilker bagaikan di neraka sedangkan Dhyia bagaikan di penjara dikurung di rumah dan tidak boleh berbuat sesuatu tanpa izin dari sang pemilik stasiun TV bahkan untuk membeli keperluannya saja keluar dia tidak boleh. Dia tidak lagi bisa memberi harapan untuk dirinya sendiri akan kebahagiaan lagi.
Dhyia masih saja terpukul dengan sikap suaminya yang tidak pernah menganggapnya langsung memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri. Menyeret kedua kakinya yang terkulai lemas, duduk di atas bangku tolet dan melihat cincin yang di sematkan Ilker di jari manisnya pada saat pernikahan.
__ADS_1
"Cincin ini!" katanya memegang dan memutar-mutarnya. "Tidak ada lagi gunanya di jari manisku." Menariknya hingga terlepas. Membuka laci dan mengambil kotak cincin lalu menyimpan cincin itu kembali ke dalam kotak. "Sudah hampir dua tahun ia melingkar di jemari ini. Kini inilah mungkin saatnya ia harus di sini." Menutup laci dengan rapat.
Melihat nampan yang masih terletak dan menatap isinya sambil melayangkan ingatannya ke masa lalu.Sewaktu dia tinggal di panti. Tersenyum tipis melihat dirinya yang belum ada perubahan. Semua masih tetap sama, seorang diri dan tanpa apa-apa. Itulah diri seorang Dhyia Kharya yang menikah dengan pemilik stasiun TV ternama.
Ting!
Sebuah pesan masuk. Ilker yang lagi menikmati minuman lemon tea kesukaannya, buatan pak Altan. Spontan terkejut melihat layar ponsel yang berbunyi air yang sedikit lagi ingin diminum langsung terhenti. Mengambil ponsel dan meletakkan gelas.
📱"Pak ada berita buruk. Perusahaan xxc telah menarik semua model yang bertalenta untuk bekerja sama dengan mereka," kata Alen mengirim pesan.
Ilker langsung terkejut membelalak. Kedua kaki yang tadinya terletak di atas meja refleks turun langsung ke lantai. "Ini tidak mungkin. Ada perusahaan yang ingin bermain-main dengan 'ku," katanya bertanya-tanya di dalam hati. "Membuka laptop dan mencari informasi tentang nama perusahaan yang dia baca. Spontan wajah kesombongan sang pimpinan langsung tertoreh menunduk.
"Astaghfirullah," ucap Dhyia terkejut, melihat kakinya tersandung oleh kaki meja rias. "Augh! Sakit sekali," rintihnya. Mengambil tissue . "Luka juga," katanya, melihat kaki yang sedikit terkoyak. Mengelap darah yang mengalir pakai tissue. "Tapi untung aja darahnya sedikit. Kalau tidak... ." Terbayang tentang masa lalu. Di mana ketika dia terluka, Ilker sangat panik padahal hanya luka kecil. Itu pun cuma luka terkena goresan ranting kayu, pikirnya tersenyum.
Membungkukkan badan mengambil sajadah. "Apa Mas Ilker sudah pergi ke tempat wanita itu?" tanyanya di dalam bersedih melipat sajadah.
Sebaliknya di ruan bawah. Ilker masih terus mencari tentang berita yang membuat hidupnya gusar.
Ck! Ck! Ck!
Mencari informasi tentang nama perusahaan yang sedang dia baca. "Orang ini?" tanya Ilker terkejut. "Sepertinya, aku pernah melihatnya." Terus mengingat. "Wajahnya tidak asing bagiku," gumamnya di dalam hati. Menatap nanar lurus ke depan.
Dhyia yang tidak tahu suaminya entah ke mana gelisah dan sesekali melihat ponsel lalu menggeser slide, mencari nama suami yang dicintainya di dalam hati. "Aku telpon, engga ,ya?" Pikirnya, melihat nama yang tertera di dalam kontak. "Aagh sudahlah!" Meletakkan ponsel di atas meja. Mengambil nampan dan keluar menuruni anak tangga yang mewah dan klasik.
__ADS_1
Perlahan dia melangkah. Entah kenapa kalau dia meras suaminya ada di rumah. "Itu tidak mungkin," gumamnya menepis pikiran itu. Dia pun turun dengan santai, membawa nampan yang berisi makanan semalam. Menggeleng melihat dirinya yang sudah mulai semrawut. Turun dari tangga yang terletak di sebelah kiri yang langsung tembus ke arah dapur.
"Bi," panggil Dhyia melihat setiap sudut ruangan. Meletakkan nampan di atas westafel lalu kemudian membuang isinya ke dalam kotak sampah yang terletak di luar halaman dapur.
Ilker yang sedang serius membaca biografi orang yang sudah bermain-main dengan nya, berteriak memanggil pak Altan. "Altan!" Suaranya yang keras itu terdengar memecah seisi ruangan rumah.
Deg!
Dhyia langsung terkejut dan menghentikan tangannya yang sedang mencuci piring. "Itu bukannya suara, Mas Ilker?" tanyanya penasaran.
"Pak Altan!" teriak Ilker bangun dari duduknya kesal sambil membawa cangkir sisa lemon tea. Berjalan dengan jenjang kakinya yang panjang.
Spontan Dhyia memutar badan. "Iya, Mas," sahutnya dengan hati yang senang berdiri tegak lurus tepat menghadap ke arah Ilker dan bertemu pandang. Ilker yang kesal dengan sang istri langsung membuang muka dan meletakkan cangkir lalu mengurungkan niatnya untuk minta buatkan lemon tea lagi.
"Mas, mau di buatin apa?" Melihat suaminya membawa cangkir dengan wajah beramah tamah meski dia sudah tahu jawabannya ketika melihat sikap suaminya yang sering membuatnya terpukul.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1