Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Peringatan keras terhadap Pevin


__ADS_3

Pada pagi hari Dhyia pun bangun lebih awal, sebagaimana biasanya dia selalu melaksanakan ibadah ritual kepada Sang Khaliq. Bermunajat dengan kata yang indah sebagai bentuk rasa syukurnya masih di beri kesempatan untuk menghirup napas.


Melupakan lelaki yang masih tertidur dengan pulas di belakangnya tepat di atas sofa yang berdekatan dengan jendela dan di selimuti oleh kain tebal yang di pakai wanita tersebut tadi malam. Memulai awal hendaklah dengan cerita yang manis. Akan tetapi, untuk seorang wanita biasa, seperti dirinya dia harus berpikir berulang kali untuk mendapatkan hal tersebut.


Diam duduk bertafakur sebentar merenungi jati diri, menyandarkan tubuh yang masih terbalut mukena perlahan ke dinding. Mengingat kembali ucapan lelaki yang sudah menjadi suaminya semalam.


Mengambil mushaf lalu membacanya agar pikiran dan batinnya kembali cerah dan tenang. Karakter setiap insan semuanya berbeda tidak ada yang sama, seperti keinginan di hati, pikirnya. Sambil melantunkan ayat-ayat suci.


Angin pagi bukan hanya membangunkan Dhyia, tapi juga membangunkan Rana. Rana wanita yang manja dan sedikit keras juga melakukan, seperti yang dilakukan oleh kakak ipar. Dia juga melaksanakan kewajibannya menjelang pagi, yaitu menghadap Sang Khaliq. Kebiasaan yang diterapkan oleh kedua orang tua yang tidak pernah dia lupakan. Dia selalu ingat nasihat sang ibu sewaktu mereka dulu masih bersama, harus menjadi pribadi yang baik dan tidak boleh meninggalkan sholat. Itu jelas sekali membekas di relung jiwanya. Membaca ayat-ayat suci sesuai yang dia pelajari sewaktu kecil mau pun beranjak dewasa.


Di dalam ruangan yang mematikan rasa bagi seorang model, seperti Ziya Yilzid ini benar-benar gila dan sangat mengekang. Ponsel pun terus dia lihat sambil menahan kantuk akibat ulah dirinya sendiri dan temannya yang berani bermain gila di tengah malam.


"Pemotretan tidak akan dilaksanakan besok," ucap Yilzid tegas yang terdengar keras sampai ke telinga pria yang sudah selesai dengan obrolannya di baik telepon, refleks dia menoleh ke arah suara yang menurutnya kalau tidak salah berasal dari seorang model.


"Tidak ada yang batal dari kerjasama ini! Perjanjian tetap lah perjanjian yang tidak boleh diingkari walau sekecil apapun!" Pria tersebut berjalan, di ikuti tangan sebelah kanan membuka kaca mata yang membuat Yilzid bertambah shock selain mendengar penolakan dari lelaki tersebut ternyata dia tidak lain adalah rekan kerja ayahnya sendiri.


"Siapa nama pria ini? Aku tidak mengetahui tapi ... aku pernah melihatnya bersama Papa," katanya di dalam hati.

__ADS_1


Mengerang kesal kepada lelaki yang belum dia kenal dengan dalam sama sekali. "Kau tidak bisa melarangku," sambung Yilzid. " Selama aku menjadi model dan bekerjasama di dalam sebuah pekerjaan! Belum pernah ada yang berani menantangku, apalagi memaksa, seperti yang kau lakukan!" serangnya langsung dengan hardikan.


"Tapi itu yang lain. Bukan?" tanya pria itu seolah terlihat dia semakin senang menerima tantangan dari sang model sementara Pevin terdiam melihat mereka berdua. "Bukan aku! Kalau dengan 'ku tidak ada yang boleh membantah walau hanya sekecil apapun!" Apalagi sampai membatalkan kontrak yang sudah di tandatangani." Kali ini pria tersebut benar-benar tidak mau melepaskan wanita cantik nan seksi yang berprofesi sebagai seorang model itu. Melirik Pevin yang mencemaskan keadaan.


Ditengah perseteruan pagi pun mulai terlihat dari awan yang sudah sedikit membiru. Di sela-sela suara yang menggema memenuhi ruangan yang sudah tertata rapi untuk kegiatan semestinya. Kini tidak lagi diminati oleh sang model sebab dia sudah tidak yakin saat kedua bola matanya melihat sebuah ranjang.


Dari belakang, Pevin berbisik menenangkan Yilzid yang berseteru dengan pria itu dan sesekali juga wanita yang suka berpakaian seperti seorang pria ini melirik ke arah Yuzer yang tidak mau kalah adu mulut dari sang model.


"Akhirnya, keributan ini terjadi," batin Pevin menelan ludah. Cemas bercampur panik akan sesuatu hal yang terjadi mengingat kalau Yuzer adalah teman dari salah seorang mafia. Betapa tidak semakin panik, Yilzid berbicara sesuka hati kepada lelaki yang belum pernah dia kenal sama sepenuhnya.


"Yilzid sudah hentikan!" bisik Pevin menarik lengannya mundur ke belakang. "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" ucapnya pelan, berbisik sekaligus berhati-hati dari lelaki yang melihatnya menarik lengan wanita tersebut.


Pria tersebut hanya diam saja. Sepatah kata pun belum ada terlontar dari mulutnya. Memasang sabuk pengaman dengan benar dan memasukkan kunci mobil yang kebetulan dia ingin segera menemui rekan yang sudah menunggu.


"Suruh dia bekerja dengan baik . Aku tidak mau ada kerugian dari iklan ini. Dan ya!" Dia menatap ke arah Pevin. "Ingatkan dia sekali lagi untuk bersikap sopan saat berbicara kepada ku. Sampai detik ini aku masih bersikap baik pada nya karena mengingat dia adalah seorang wanita dan sekaligus rekan kerja," ucapnya, menatap wanita yang berdiri di luar dari balik kaca spion.


Pevin diam mengangguk , di sertai kecemasan sedangkan Yilzid dari lubuk hati sudah tidak bersedia lagi ingin melanjutkannya. Namun, dia juga harus berpikir dengan kepala dingin kalau dia sedang terjebak masalah juga dengan sang ayah yang sampai saat ini dia belum juga memberi kabar sama sekali, mulai sejak dia melarikan diri dari rumah dengan diam-diam. Depresi sudah tentu menyelimutinya. Diam memutuskan pilihan sendiri itu adalah jalan yang terbaik, pikirnya. "Yang sebenarnya akan mencoreng mukaku sendiri karena sudah menjilat ludahku sendiri," umpatnya mendengus kesal. "Mau?" Dia kembali bertanya. "Ya! Aku harus mau! Aku tidak punya pilihan lain, kalau aku ingin kembali ke rumah dengan selamat." Dia terus berperang sendiri dengan batinnya, menatap keluar sesekali ke arah mobil dan wanita yang sedang membicarakan sesuatu. "Ini semua gara-gara Ilker. Dia sudah membuatku tenggelam di dalam masalah yang rumit."

__ADS_1


Kedua sang pengawal tampak terus berjaga dari serangan yang kemungkinan datang menyerang dari luar, sebagaimana perintah dari sang bos. Menatap lekat ke arah mobil dan wanita yang masih berdiri dengan gurat wajah mengerut.


"Kalau begini terus, lama-lama aku terpaksa harus ekstra lebih keras lagi untuk meyakinkan Yilzid, kalau ini cuma bermain iklan saja." Pevin menghela napas menetralkan kepanikan di depan sang pria yang sudah menutup kaca mobil. Melaju kencang seolah mengejar waktu, seperti ingin menemui seseorang yang sangat penting.


Memutar badan dengan perasaan kusut, menatap ke arah pintu yang terbuka dan kedua penjaga yang berjaga ketat hingga pagi buta.


Ilker yang tertidur seketika terbangun saat tubuhnya miring ingin terjatuh ke lantai. Sontak dia langsung terkejut gugup serta linglung melihat kondisinya yang nyaris hampir terjerembab ke lantai. Duduk menepis kain selimut, di ikuti kedua bola mata melihat jam yang tergantung tepat di atas pintu kamar.


Turun dari sofa di tengah keadaan kamar yang sudah sepi hanya ada dia dan cermin yang retak yang sedang sibuk menyiapkan dirinya untuk berangkat kerja. Masuk ke dalam kamar mandi membuka pakaian dan celana lalu menggantungkannya di hunger.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2