
Ilker terus meninju samsak tinju vertikal itu hingga kedua tangannya memar.
Puk!
Puk!
Puk!
Suara keras tinjuan itu pun terdengar sampai ke telinga Rana yang ingin menaiki tangga. "Itu suara apa ya?" tanyanya kepada dirinya sendiri, memutar kepala menghentikan kaki kanannya yang ingin menaiki tangga, setengah melayang di udara. Memutar-mutar kedua boal mata yang di ikuti arah hadapan kepalanya melihat setiap sudut ruangan demi memastikan asal sumber suara yang ia dengar.
Puk !
Puk !
Puk !
Suara pukulan itu pun semakin jelas terdengar melewati gendang telinga yang ia pasang dengan tajam sambil menarik napas. Sejenak ia pun mengurungkan niatnya ingin masuk ke dalam kamar. Mundur ke belakang memutar badan menatap lurus dengan tajam dan melangkah mengikuti arah sumber suara yang terdengar dengan jelas dari sebuah ruangan. Perlahan bercampur penasaran ia kemudian memasuki ruangan tv. Dia pun terus berjalan pelan-pelan seolah terlihat, seperti seseorang yang sedang mengendap-endap.
Puk !
Puk !
Puk !
Suara pukulan itu semakin jelas ketika ia menempelkan telinga sebelah kanannya ke daun pintu yang tertutup di ujung ruangan tv sebelah sudut. Dia pun menempelkan tangan kanannya memegang knof pintu lalu membukanya perlahan dan melepaskannya seketika saat pintu telah terbuka lebar dan kedua bola matanya menatap sang Kakak yang tidak seperti biasanya.
Jeglek!
__ADS_1
Pintu lalu terhempas ke dinding ketika genggamannya terlepas dari knof pintu. "Kakak," kata Rana panik dengan kedua bola mata melebar ketika ia melihat tangan yang melayang ke arah benda yang besar dan keras. "Apa yang Kakak lakukan?" tanyanya berdiri di depan pintu ketika ia melihat kedua tangan yang melayang tanpa menggunakan alat pelindung. "Kenapa Kakak menyakiti diri Kakak sendiri?" Rana shock dan berlari panik serta khawatir bercampur cemas seketika kedua bola matanya menatap ke arah wajah sang pria.
Ilker masih tetap membisu seribu bahasa bercampur gurat wajah mengetat. Pukulan pun masih saja berlanjut bersama hati yang kacau. Sekali pun ia tidak menoleh ke arah sumber suara yang menegurnya dengan panik. Malah ia terlihat sangat serius meninju samsak vertikal itu.
Rana pun tampak diam saja dan hanya menatap lengan pria yang belum mau berhenti dan masih saja terus meninju benda keras itu berulang kali sehingga membuat kedua tangannya cidera. Tangan yang baru saja sembuh kini kembali memar akibat meninju samsak dengan keras dan tanpa pelindung sedikit pun.
Puk !
Puk !
Puk !
Samsak yang berdiri tegak itu pun seolah terpental melayang di udara dan terlepas dari pukulan yang keras. Rana yang tadi sengaja masuk untuk memastikan suara yang ia dengar masih saja berdiri menemani pria yang sedang berkecamuk dengan masalah yang belum juga usai.
"Huh!" katanya menghembuskan napas kasar memutar badan mengabaikan wanita yang berdiri di sebelahnya. Berdiri menatap ke arah luar dari balik dinding kaca yang tepat mengarah ke arah tanaman hijau dan air pancur. Menatap lurus dengan gurat wajah kesal sambil menahan tangannya yang cidera akibat pukulan keras tadi.
Memutar badan di ikuti kedua tangan memegang perlengkapan yang dibutuhkan dan berjalan menghampiri pria yang masih saja berdiri di depan jendela. "Kenapa Kakak melukai diri Kakak sendiri? tanya Rana, menaruh perlengkapan di atas meja. "Kakak tau? Aku sangat sedih melihat Kakak seperti ini," katanya, mengambil obat oles dari atas meja menghampiri pria yang masih enggan menoleh ke arahnya lalu memegang tangan lelaki yang masih membisu seribu bahasa itu dengan pelan dan hati-hati Rana menaruh obat oles tersebut di atas punggung tangan pria yang ada hubungan darah dengan nya hingga menutupi sebagian yang memar. "Apa Kakak tidak menyayangi diri Kakak sendiri ? Sehingga Kakak membuat tangan Kakak seperti ini," sambungnya kembali, memutar badan, melangkah dan menaruh obat oles di atas meja lalu kemudian selanjutnya ia mengambil perban yang terletak di atas meja itu juga. "Aku sangat khawatir melihat kondisi Kakak tadi, saat memukul benda itu dengan keras tanpa rasa sadar," ungkapnya dengan segala kecemasan. "Apa harus seperti itu Kak?" Rana melanjutkan pertanyaannya menaikkan kepala menatap lelaki yang terus saja menutup mulut. "Kalau tangan Kakak cuma memar saja tidak jadi masalah Kak. Ini malah ada luka walaupun itu hanya kecil. Ini 'kan perih," ucapnya , menatap punggung tangan lelaki itu yang ia letakkan di atas telapak tangannya dengan lekat bercampur sedih. "Tangan ini bukan hanya memar saja, tapi ada sobekan kecil di kulitnya juga tampak memerah," katanya pelan, memandangi tangan yang terluka. "Kak, kalau Kakak kenapa-kenapa. Aku bagaimana?" tanyanya dengan gurat wajah sedih, menatap pria tersebut. "Tidak seharusnya Kakak melukai diri Kakak sendiri," lanjutnya dengan lirih sambil membalut tangan lelaki yang berusia kepala tiga itu.
Ilker yang berdiri memakai kaos abu-abu berlengan pendek dan celana setengah lutut yang berbahan kain katun itu tetap diam saja seperti patung. Pakaian yang ia pakai sebelum turun ke bawah memasuki ruangan olahraga untuk bermain boxing itu sama sekali tidak bergerak atau menggerakkan kedua bibirnya. Dia masih saja membisu seolah seperti orang yang tuli. Menatap lurus ke luar dengan pandangan kosong.
"Kita cuma berdua Kak. Kalau Kakak kenapa-kenapa lalu aku nanti sama siapa Kak," ucap Rana sendu menunduk bercampur gurat wajah sedih. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Kakak. Jadi, aku mohon mulai sekarang jangan pernah lakukan ini lagi!" Aku engga bisa kehilangan Kakak," tuturnya dengan sedih, berdiri mematung menatap punggung sang Kakak yang tidak mau menoleh ke arahnya.
Sontak pria itu sedikit tersentuh dengan kata-kata dari wanita yang berdiri di belakangnya. Dia perlahan memutar kepala sedikit miring ke kanan melirik ke arah orang yang berbicara di belakangnya seakan melihat adik perempuannya yang masih berdiri.
Suara balasan belum juga terdengar dari pria yang bermuka kusut itu. Tiba-tiba saja Ilker memutar badan dan Rana seketika pergi meninggalkan lelaki itu sendiri setelah sekian lama ia menunggu lelaki yang ia temui di dalam ruangan olahraga yang tidak mau menoleh ke arahnya apalagi berbicara.
Rana kemudian menutup pintu ruangan tersebut. Menyeret kedua kaki dengan kencang bercampur kekesalan sebab seseorang yang sering ia sebut sebagai kakaknya tidak mau membuka mulut kepada dirinya.
__ADS_1
Sedikit pun kepergian Rana tidak membuat Ilker tersentuh malah ia kini terlihat tenang seolah wanita tidak memasuki ruangan itu. Berjalan menyeret kedua kakinya menghampiri meja yang ada di sebelah sudut kanan jendela mengambil ponsel dengan penuh hati-hati berhubung kalau tangan sebelah kanannya sedang cidera.
"Yilzid juga kenapa nomornya sampai sekarang belum aktif?" gumamnya bertanya kesal sambil menatap lurus ke arah ponsel teringat tentang wajah kekasihnya di saat bertengkar di atas kapal. "Belum lagi dengan Dhyia. Pergi dari rumah tanpa berpamitan dengan ku," lanjutnya semakin kesal menaikkan kepala melihat keluar dari balik jendela kaca.
Ruangan olahraga yang terbuat dari dinding kaca itu terlihat hening seketika semenjak Rana meninggalkan ruangan tersebut. Ilker pun kembali mengulangi hal yang sama, yaitu menaikkan tangan kembali setengah di udara dan menyalakan ponsel. Melihat kembali nomor sang kekasih yang masih tetap sama.
Hari sudah hampir gelap, pikirnya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan undangan dari rekan bisnisnya tadi. "Oh, sial. Hampir saja aku lupa," katanya ketika ia melihat nama Alen di kontak panggilan keluar dan melihat jam yang terpampang jelas di layar ponsel miliknya.
Bergegas dan terburu-buru ia langsung melompat keluar sambil menahan tangannya yang nyeri dan kram akibat kelakuannya tadi. Menutup pintu ruangan dan berjalan memerhatikan setiap sudut ruangan untuk melihat seseorang yang mana tahu ada yang berjalan mendekati tempat yang barusan saja ia masuki.
"Benar!" Panggil Ilker ketika ia melihatnya di ruang santai merapikan bantal yang ada di atas sofa.
"Iya Tuan," sahut Benar seketika menghentikan bantal mengayunkan setengah di udara yang ingin ia susun di atas sofa.
"Sudah segelap ini. Kamu belum juga ada informasi mengenai Dhyia?" tanya Ilker, berdiri menatap ke arah Benar yang tidak terlalu jauh darinya, di ikuti tangan kanannya yang cidera itu memegang ponsel.
"Tuan maaf! Setahu saya, Nyonya cuma berasal dari panti asuhan," jawab Benar langsung dengan nada suara pelan, menatap ke arah lelaki yang berdiri sedikit jauh darinya.
Sontak wajah lelaki itu tiba-tiba berubah. Dia tampak menyatukan kedua alisnya di saat mendengar jawaban itu. Melayangkan kedua sorot matanya ke arah Benar seketika dan menurunkan kembali tatapannya melihat ponsel yang berada di genggamannya. Meninggalkan asistennya itu begitu saja ketika ia melihat jam yang sudah mulai berputar.
Benar lalu kembali merapikan bantal-bantal yang sedikit berubah tempat sambil melayangkan kedua sorot mata mengikuti langkah tuannya yang ingin menaiki anak tangga.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...