
"Tidak, Nya, sebaiknya yang keluar dan perlu angin segar itu adalah Nyonya. 'Kan selama menikah, Nyonya belum pernah keluar rumah." lanjut Benar dengan gamblang. "Lagi pula, 'kan Tuan, hari ini di rumah." Melihat ke arah perempuan yang duduk sambil meneguk air minum.
Saran itu tanpa sengaja seakan telah menyindirnya. Air yang sudah sampai di tenggorokan pun terasa berat di telan. Menghembuskan napas panjang. "Bi, Mas Ilker, 'kan sudah kerja seharian. Otomatis dia perlu istirahat." Menutupi kenyataan pahit yang sebenarnya terjadi dari Benar.
"Meskipun demikian, Nya, yang namanya suami itu, 'kan sekali -kali pasti ingin membawa istrinya keluar rumah," lanjutnya memberi alasan. "Masa, harus terus menerus kerja." Menutup counter table dan masih membelakangi sang nyonya.
Dhyia semakin pusing dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembunyikan beberapa hal yang lain dari asistennya yang menurutnya dia tidak perlu untuk mengetahuinya. Menyusun piring kotornya dan menaruhnya ke westafel.
"Bi, Mas Ilker, sudah resmi memegang perusahaan. Jadi, pasti dia butuh waktu senggang untuk itu. 'Kan gak enak, kalau nanti tiba-tiba kita keluar. Banyak pekerjaan terkendala, takutnya malah membuat Mas Ilker, kewalahan lagi." Meletakkan piring basah ke rak piring yang terletak di dekat westafel. Menutupi rahasia di balik rumah tangganya dari Benar.
Benar terdiam dan mengangguk membenarkannya, bahwa yang di katakan oleh wanita yang ada di hadapannya adalah benar, melanjutkan beberesnya.
"Nya, kalau begitu biar Bibi, aja deh yang gantikan untuk keluar rumah, hehehe!" katanya, nyengir. Bertemu tatap menarik senyum.
"Ya, sudah! Kalau Bibi memang mau pergi silakan! Di luar jangan teledor, Bi. Nanti barang-barangnya bisa hilang lagi," ledek Dhiya dengan candaan garing. Menaruh spons pengelap westafel ke tempatnya dengan rapi.
Sementara di ruang kerja. Amplop cokelat telah terhempas di atas meja. Menarik kursi dengan penuh kebencian. Duduk dengan mulut yang masih terkunci. Menyobek alat pelapis amplop lalu mengambil lembaran kertas putih yang terlihat.
Dia yang sudah tidak sabaran ingin melihat isinya. Bercampur dengan rasa penasaran yang sangat teramat dalam untuk membuka surat itu.
Deg!
Hatinya begitu terkejut dan langsung gemetar. Kedua bola matanya mendelik melihat isi bacaan tersebut.
Kepada Yth. Dhyia Kharya
Di tempat
__ADS_1
Perihal : Perpisahan
Assalamualaikum
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Atas Nama : Ilker Can Carya bin bla bla bla...
Isi surat itu pun dibacanya sampai selesai.
Braugh!
Dia langsung meninju meja dengan kuat dan menahan rasa sakit di tangan kanannya yang cidera itu ketika melihat isi surat yang ditujukan sang kekasih ternyata bukan hanya ancaman kosong.
"Omong kosong apa ini?"
Lemas menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Menatap nanar surat yang terletak di atas meja, yaitu sepucuk surat perpisahan. Menarik napas panjang mengingat sang istri dan bercampur iba, bila dia memilih ini, pikirnya. Remuk redam sudah pasti dia rasakan saat ini. Terpukul oleh arus hidup yang dia pilih dan terpaksa dia jalani selama bertahun-tahun.
"Iya. Mungkin, kalau Bibi sesekali keluar. Pasti pikirannya akan jadi, tenang?! Kasihan juga Pak Altan, dia jadi, sasaran Bibi terus-menerus. Terkadang sering, Bibi omelin."
Dhyia hanya menghembuskan napas panjang setelah mendengar curhatan bi Benar. Selain itu dia teringat juga tentang dirinya dan sang suami yang sering ribut.
"Pak Altan memang laki-laki penyabar, Bi. Dia tidak pernah marah ketika Bibi, omelin. Dia Hanya ngedumel lalu pergi," balasnya mengagumi pak Altan.
"Nyonya betul. Selama ini Bibi, terlalu galak sama, Pak Altan." Menyapu sampah sambil termenung. "Belum lagi kalau Tuan, sudah pulang. Pasti memarahinya?! Terkadang Bibi kasihan,Nya. Melihat Pak Altan yang sudah tua di perlakukan, seperti itu. Wajahnya yang lesu itu langsung memelas." Menyapu sampah hingga bersih.
Dhyia sangat terpukul mendengar ucapan Benar atas perlakuan suaminya. Termenung mengingat kejadian yang terjadi tadi sangat membuat dirinya shock. Dia tidak menduga selepas dia selesai sholat. Dia sudah di hadapankan dengan wajah masam suaminya yang masuk, seperti kesambet setan.
__ADS_1
"Bi." Melihat ke arah Benar yang mengambil cabai dan bawang setelah meletakkan pengkik dan sapu di sudut dinding yang tertutupi counter table.
"Iya, Nya." Memutar kepala, di ikuti tangan memetik cabai dan mengupas bawang. "Ada apa, Nya?" tanyanya dengan kedua sorot mata sedih, menggiling bumbu masakan untuk stock di dalam kulkas.
"Aku pengen jadi, kayak Bibi." Melirik ke arah Benar yang memegang blender cabai lalu menuangkan cabai giling ke dalam mangkuk kecil yang bertutup.
Benar memutar ke belakang dan terkejut sambil meletakkan tempat cabai langsung. "Pengen Kenapa, Nya?" tanyanya penasaran kepada istri tuan mudanya yang belum mau menjawab. Melanjutkan kembali omongannya. "Bibi, 'kan cuma seorang pekerja. Kalau dilihat engga ada yang enak, seperti, Nyonya," lanjutnya, memasukkan bumbu yang digiling ke dalam mangkuk kecil yang bertutup. "Asal, Nyonya tau, hidup kayak Bibi ini gak enak, banyak masalah. Itu karena Nyonya tidak tau." Melihat nyonya mudanya sekilas, menghela napas dalam.
"Masalah yang mana, Bi? Kenapa Bibi tidak pernah cerita?" tanyanya melihat lurus ke arah bi Benar yang berjalan.
"Bibi engga pernah mau cerita sebab engga ada gunanya kalau di ceritakan." Lagi pula, Bibi sudah terbiasa tidak pernah menceritakan masalah Bibi kepada orang lain. Bibi paling tidak suka, Nya," katanya. "Kalau sudah banyak masalah, Bibi pasti menyelesaikannya satu per satu?!" Menyusun kotak-kotak kecil yang sudah berisi cabai giling ke dalam kulkas. Memutar badan, melihat istri tuannya yang membantu menyusunnya juga.
"Bi, tolong suruh, Pak Altan, ngantar air minum ke ruangan kerja saya sekarang!" Terdengar suara memanggil dari balik kotak perekam suara digital yang terpasang di dinding dapur tepat di sebelah counter table.
Dhyia spontan terkejut dan tangannya yang memegang kotak kecil itu seketika terhenti. Menoleh ke arah belakang tepat ke arah counter table.
"Bi, itu Mas Ilker. Bair saya saja. Sekalian saya ingin ngajak, Mas Ilker makan," katanya menutup pintu kulkas.
"Tapi, Nya yang di panggil, Pak Altan," ucap Benar cemas. Mencuci blender dengan terburu-buru.
"Pak Altan lagi sibuk, Bi," balasnya mengambil gelas.
"Nya, jangan Nya. Biar Bibi cari Pak Altan dulu." Mengambil gelas dari tangan Dhyia. "Nya, karena yang Tuan Muda, suruh, Pak Altan." Menggigit kedua bibirnya khawatir. "Biar Bibi, cari sebentar. Karena Tuan, tadi sudah menyuruh, Bibi. Bibi mohon jangan Nya, letakkan saja!" Benar, semakin cemas, penuh dengan ketakutan hal-hal yang akan terjadi di belakangnya kalau sampai dia melanggar perintah tuan mudanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...