
"Awas aja! Kalau ketemu! Tak peras kamu, seperti kelapa." Mempraktekkan dengan kedua tangannya seolah dia sedang benaran memeras kelapa .
Masuk dan ingin mengatakan kepada sang nyonya kalau dia tidak menemukan pak Altan. Sedari tadi Benar sebenarnya sangat khawatir tentang tuan mudanya.
Dia yang sudah lama mengabdi kepada keluarga Carya begitu sedih melihat anak sang majikan semenjak kepergiannya.
"Tenggorokanku kering, seperti tanah ini." Melupakan tentang majikan dan mengambil minum.
Dhyia pun memandangi wajah suaminya dengan dalam. Selama ini mas Ilker sangat baik . Namun, semua berubah karena amanah itu. Jika, dia memutuskan untuk berpisah dari suaminya dia takut kalau suaminya terjerumus semakin dalam dengan wanita itu.
Dia tidak pernah berkata kasar atau pun membentakku selama ini. Dia selalu ramah menyapaku dulu ketika bertemu. Namun, sekarang semuanya telah berubah, pikirnya terus berkata.
Lelaki yang dulunya baik sekarang menjadi beringas. Dia tidak tahu lagi siapa yang berdiri di hadapannya, apalagi ketika dia sedang marah.
Wajah sendunya terus memandangi sang suami yang belum membuka mata.
"Mas, badan kamu masih panas." melihat suaminya yang diam saja kalau sedang sakit. Mengompresnya kembali dan mencium pelan tangan suaminya yang terluka.
Lain lagi dengan Pak Altan pun, sibuk menelepon dokter yang sudah menjadi langganan keluarga Carya. Dia begitu serius terlihat menjelaskan dari balik telepon.
"Iya, Dok. Saya akan melakukannya. Baik Dok," katanya langsung menutup telepon.
Memutar badan kembali menaiki anak tangga yang melelahkan. "Permisi, Nya," sapa pak Altan dari depan pintu. Melihat sang nyonyanya yang duduk memandangi tuan mudanya.
Spontan Dhyia langsung menoleh ke arah pintu. "Bagaimana, Pak? Apa dokternya bisa kemari?" tanyanya dengan gurat wajah panik penuh harap.
"Mungkin agak lama, Nya. Karena beliau katanya, "Masih ada beberapa pasien yang harus di tangani di rumah sakit," sesal Altan yang tidak tega menyampaikannya.
Dhyia pun langsung memalingkan wajahnya menoleh ke arah sang suami dengan sedikit kecewa bercampur sedih.
"Mas, dokternya sebentar lagi baru akan datang. Kamu sabar sebentar ya, Mas." Menatap tangan sang suami yang memegang tangannya dengan erat.
Dhyia pun memandangi tangan itu. Ini adalah tangan yang sering digunakan olehnya untuk bekerja. Tangan itu adalah tangan yang belum pernah menyentuhnya sama sekali.
Luka ini memang parah tapi ini akan hilang dengan sendirinya meski meninggalkan bekas. Tidak, seperti di dalam yang terluka akan tetap terasa meski waktu sudah berubah arah. Bekas memang tidak terlihat tapi rasa akan tetap tergores.
__ADS_1
Dhyia terus memandangi luka sang suami yang membuatnya gemetar. Suhu tubuhnya pun semakin tidak normal. Panasnya turun naik bahkan semakin meninggi.
"Pak, tolong bilang sama, Bibi. Ambilkan saya lagi air hangat. Saya mau mengompresnya, Pak. Panasnya masih tinggi." Dhyia memohon dengan lemah lembut kepada pak Altan.
"Baik, Nya." Memutar badan turun ke bawah untuk menyuruh Benar kembali mengantar yang diminta oleh sang nyonya.
Pak Altan sebenarnya tadi bingung. Namun, karena kasihan melihat tuan mudanya dan nyonyanya makanya dia dengan entengnya mengatakan iya.
"Aduuuh! Pusing kepalaku." Memijat -mijat keningnya yang mengetat berkerut. "Jangankan, Dokter, Benar juga tidak kelihatan," gumamnya terus ngedumel dengan puas dengan perasaan bercampur aduk.
Sementara Benar sangat ceria dan wajahnya langsung sumringah melihat air yang dituangkannya ke dalam gelas. "Hehehe!" Tertawa bahagia melihat air minum yang dipegangnya. " Hausku pasti hilang?!" katanya pelan.
"Jadi, kamu di sini!" singgung pak Altan dari belakang.
Gelas yang ingin menyentuh bibir seketika terhenti, mendengar suara itu semakin membuat Benar, pias kembali. Gelas yang berisi air minum pun dia letakkan kembali.
"Nyonya, membutuhkanmu dari tadi!" Semburnya langsung membalik ke belakang.
"Kapan?" tanya pak Altan. "Kapan, Nyonya mencariku?" Pak Altan malah bertanya balik.
"Barusan." Mengulangi yang dikatakan Benar dengan pelan, mengingatnya. "Sok tau kamu!" ucapnya. "Yang ada malah kamu itu! Yang dipanggil Nyonya."
Benar langsung tersedak dan tidak jadi, mengambil gelas. "Dipanggil untuk apa?" tanyanya.
"Kata Nyonya, "Dia minta lagi air untuk mengompres, Tuan muda," jawab pak Altan, mengikuti ke mana arah Benar berputar.
"Apa Dokternya belum datang?" tanya Benar ingin tahu.
"Belum, katanya, "Dia masih ada pasien. Tapi nanti kalau sudah selesai dia pasti kemari kok?!"
"Kenapa kayak gitu?" tanya Benar bingung.
"Mana ku tau," jawab pak Altan acuh.
"Apa dia tidak bilang datang kemari jam berapa?" tanya Benar kembali yang sedang gundah gulana . Menaruh air ke dalam mangkuk. "Seharusnya kamu bilang, jangan lama-lama. Karena kalau, Tuan Muda sakit dia, seperti anak kecil," lanjutnya, sedih melihat tuannya yang akan merindukan nyonya Afsheen.
__ADS_1
"Kamu itu aneh. Mana mungkin aku mendesaknya untuk kemari secepatnya. Ya, namanya kita telat mengabarinya. Ya harus sabar." kata pak Altan.
"Itu gara-gara kamu keluyuran, entah ke mana," sentil Benar.
"Kamu yang keluyuran." Pak Altan membalas balik sentilan Benar.
"Aku itu dari tadi mencari kamu," ungkap Benar serius, menoleh ke arah pak Altan. "Bukan gitu, kalau tuanmu sakit, kita semua bakalan kucar kacir, tau!" Meninggalkan pak Altan membawa air.
Saat ini Dhyia sedang bolak balik menatap pintu kamar. Wanita itu terlihat cemas menunggu Benar dan juga sang dokter yang bertugas untuk mengobati suaminya. Bingung dan gelisah ke sana kemari berjalan mondar mandir sambil melirik jam yang terus berputar.
Tok! Tok ! Tok !
"Permisi ,Nya," sapa Benar.
"Bi! Sini, Bi!' kata Dhyia memutar badan ke arah benar yang datang membawa air. Mengambilnya segera lalu duduk kembali meremas handuk kecil dan meletakkan di atas kening sang suami.
"Dokternya, kenapa lama sekali?" Dhyia bertanya sembari memeras handuk, sedih melirik ke arah Benar yang masih di sampingnya.
"Sebentar lagi juga pasti datang, Nya?!" sambung benar, menenangkan hatinya. "Tadi, kata Pak Altan, "Dia masih nanganin pasiennya." Ingin membantu sang nyonya, namun, dia tidak berani karena takut kalau tiba-tiba tuannya sadar dan melihatnya dia akan marah sebab tuan mudanya bukanlah tuan muda yang dulu dia kenal.
"Tapi jam berapa Bi?" Dhyia melirik jarum jam yang tergantung di atas dinding tepat di atas pintu kamar. "Sekarang sudah jam segitu." Menatap jam yang menunjukkan pukul 16 : 25 WIB. "Sebentar lagi mau malam, Bi, lebih dari lima menit lagi," ucapnya gelisah mengawatirkan ke adaan suami yang belum kunjung membuka mata.
"Untung saja Tuan, menutup matanya. Kalau tidak semua pasti kucar kacir kena semprot olehnya?!" kata Benar di dalam hati, melihat tuan mudanya yang begitu tidak berdaya.
"Apa dia masih bisa marah-marah atau gak, ya?" Pikirnya terus bertanya dan melihat sang nyonya yang begitu khawatir sekali.
"Bi! Apa Pak Altan sudah ada kabar lagi?" Sebelum Bibi, naik ke mari." Bukannya dia menjawab menjawab sang majikan malah dia memperhatikan tuan mudanya yang terbaring lemah.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1