
Setibanya di rumah, seorang Ilker pun mengucapkan terima kasih karena cecar telah mengantarkan sampai ke kediamannya.
"Sama-sama, Pak!" balas cecar, berlalu begitu cepat meninggalkan pria itu.
Dia pun berjalan masuk, seperti biasanya pintu telah di buka oleh pak Altan. "Selamat sore, Tuan!" sapanya. Membuka pintu.
"Benar di mana?" tanyanya yang membuat pak Altan melongo terheran.
"Benar?" gumamnya bertanya terheran, melihat lelaki itu yang berjalan melenggang membelok ke arah dapur.
Sontak pak Altan menelan ludah. Membuka mata dengan lebar. Tidak biasanya dia, seperti itu, pikirnya. Meninggalkan pintu utama, menoleh sedikit ke arah lampu hias.
"Altan! Buatkan saya, lemon tea!" katanya, menarik kursi menyandarkan tubuhnya yang lelah, bersandar ke sandaran kursi, menatap langit-langit sambil meregangkan otot-otot yang keram.
Altan yang menuangkan minuman sekilas melirik ke arah pria yang terduduk malas. "Ini Tuan," katanya, menyerahkan secangkir lemon tea dingin. "Apa Tuan, membutuhkan sesuatu lagi?" tanyanya. Melihat lelaki itu mengaduk lemon tea dengan lembut.
"Pergilah!" Ilker mengayunkan tangan ke udara sebagai pertanda kalau dia pengen sendiri.
"Permisi, Tuan!" Dia pun berlalu sambil mengelus dada. Aman, pikirnya berjalan dengan kencang keluar tanpa menoleh ke belakang.
Sebenarnya, dia sedikit kehilangan dengan Dhyia. Semalaman wanita itu tidak ada terlihat di kamar. Kedua sorot matanya pun berputar seolah mencari sesuatu melihat ke semua sudut yang sedikit pun tidak terlewatkan olehnya. Di ikuti tangan masih mengaduk minuman.
Benar yang setiap sore hari menyapu teras rumah yang sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Mendengar suara siulan dari arah yang berlawanan, seolah siulan itu memanggil dirinya.
Dia pun menoleh setelah sekian lama mencari suara itu. Pak Altan, pikirnya menunduk kembali melihat ke lantai dan melanjutkan kembali sapuannya yang tertinggal.
"Benar!" Panggil pak Altan dari belakang, memukul pundaknya sebab dia sama sekali tidak mau menoleh.
Sontak si Benar pun terkejut dan menoleh ke belakang. "Tuanmu! Menanyai kamu!" kata Pak Altan, berbisik ke telinganya lalu meninggalkan wanita itu.
__ADS_1
Bergegas dia buru-buru berlari menghampiri lelaki yang di barusan dibisikkan oleh pak Altan ke telinganya. "Iya, Tuan! Tuan, memanggil saya?" tanyanya menunduk.
"Bersihkan! Kamar saya!" Ilker langsung menyuruh Benar setelah dia melihat Benar datang. Beranjak dari kursi, melihat cangkir yang sudah kosong.
"Kamarnya sudah di bersihkan, Tuan," jawab Benar, melihat punggung pria yang sudah membelakanginya.
Sementara di dalam kamar belakang, Dhyia masih tertidur, menahan sedih di dalam hati dengan mukena yang masih menutupi seluruh tubuhnya. Bersandar di tembok melepaskan semua pikiran yang menumpuk di dalam kepala.
Ilker langsung mengangguk sebagai isyarat mengucapkan terima kasih kepada asisten rumah tangganya itu. Memutarkan terus badannya meninggalkan Benar.
Kembali lagi dengan Ziya Yilzid yang sudah selesai dengan rendamannya dan kini melihat dirinya di dalam cermin. Kamu tidak boleh kalah," bisiknya di dalam hati, menatap dirinya yang sudah tersulut dengan emosi. "Dia tidak boleh lepas dari mu! Dia adalah akar dari semua masalah ini!" Batinnya, seolah dia sedang menatap bayangan wanita yang lemah dan tidak berdaya itu di dalam cermin.
"Non! Setelah nona selesai! Di suruh tuan turun ke bawah," kata Burcu dari balik pintu kamar yang terbuka saat dia membukanya.
"Sebentar lagi! Aku akan turun! Bilang pada Papa," ucapnya, menyisir rambut lalu kemudian memakai alat riasnya yang bernuansa ala rumahan.
Burcu pun langsung memutar badan meninggalkan wanita itu setelah sekian lama dia menemaninya berbelanja ke mall.
"Apa? Tuan sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Benar berputar melihat punggung kekar yang menaiki anak tangga yang berhenti seketika dan menoleh ke arahnya.
"Tidak ada!" jawab Ilker acuh menahan keinginannya untuk menanyakan tentang wanita yang telah menjadi istrinya itu, memutar badan dan menaiki anak tangga kembali. Di ikuti tangan kanannya memegang ponsel.
"Saya permisi dulu, Tuan! Kalau ada!" ucap Benar dari belakang pria itu dengan ramah y bercampur rasa takut. Memutar badan meninggalkan pria yang menaiki anak tangga.
Dia pun terus menaiki anak tangga sambil melihat ponselnya, sedikit pun tidak ada panggilan dari sang kekasih.
"Aku pikir? Entah apa? Eh! Tau! Taunya di usir," umpat Benar, melihat pintu kamar sang nyonya yang masih tertutup . "Pintunya masih saja, seperti itu! Apa? Nyonya tidak lapar?" Menatap pintu dengan cemas sambil menyeret kedua kaki.
"Nya! Nya! Nya!" Panggil Benar mengetuk pintu dari luar. "Nya! Kalau Nyonya, ngambek jangan lama-lama!" kata Benar bergumam, melihat pintu ke belakang.
__ADS_1
Sontak Dhyia pun tiba-tiba tersentak dari lelapnya. Melihat sekujur tubuh yang masih mengenakan mukena.
"Astaghfirullah! Apa aku ketiduran?" Bertanya melihat dirinya yang berbalut mukena saat mendengar suara ketukan dari luar meski itu samar-samar. Menatap ke arah pintu seakan dia sedang melihat ketukan itu. Beranjak dan melepaskan mukenanya langsung.
Menatap keluar mencari asal suara yang terdengar oleh telinganya tadi. Tidak ada, pikirnya. Aku pikir tadi ada orang? Apa mungkin aku salah dengar, ya?" Memutar badan menutup pintu.
Di dalam kamar, Ilker Can Carya yang sedang menghadapi masalah pelik mengenai stasiun TV miliknya terlihat menghampiri jendela yang belum terkunci. Sebentar lagi malam, pikirnya. Melihat pohon yang penuh dengan kenangan.
"Ma, hari ini aku begitu banyak masalah. Semenjak kepergianmu semua datang begitu saja. Apa Mama tau?" Menatap ke arah pohon seolah dia melihat senyuman sang ibu, kemudian dia kembali melihat ke belakang tepatnya ke arah tempat tidur. Seolah dia sedang sesuatu yang enggan di ungkapkannya tadi kepada Benar.
Tidak bisa dipungkiri bahwa hati seorang Ilker benar- benar sangat merindukan wanita yang menjadi teman bertengkarnya di dalam kamar. Dia bolak-balik mendekati dan menjauhi kotak perekam suara yang terpampang jelas di dinding. Begitu enggan tangannya ingin memencet perekam itu. Dia yang masih memakai pakaian kerja berdiri menatapinya sekilas dia juga melirik memo yang masih terletak di atas mejanya.
Sementara di halaman luar terlihat seorang lelaki, yaitu pak Altan yang senang meledek Balin. "Pak! Kamu enak sudah naik jabatan!" ledeknya garing. Berpikir hidup Balin akan sama, seperti dirinya. "Ptttfff!" Menahan tawa.
"Cengar cengir! Kamu senang, ya! Hidupku kayak gini!" ucap Pak Balin langsung menyentil saat melihat gurat wajah yang mulai menua itu meledeknya.
Di ruangan dapur Benar masih bertanya-tanya. "Nyonya, sebenarnya puasa atau tidak, ya?" Kembali melihat ke arah pintu kamar wanita yang sedari tadi mengurung diri. "Sebenarnya, Nyonya tidur atau engga, sih? Menatap lekat pintu kamar. Benar yang selalu mencari kesibukan tak henti-hentinya beristighfar memohon ampun kepada Sang Pencipta untuk dirinya sendiri agar dijauhkan dari segala malapetaka.
"Nya! Nyonya, makan dulu!" bisik Benar dari balik pintu yang terdengar oleh Dhyia dan membuka pintu. " Bi! Saya puasa," jawabnya. "Oh! Iya, Bi! Apa mas Ilker sudah pulang?" tanyanya dengan suara parau.
"Apa? Nyonya sakit?" Benar malah bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan wanita yang berdiri di hadapannya dan yang selalu dia perhatikan.
"Tidak, Bi!" Dhiya terpaksa menjawab pertanyaan Benar yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. "Saya baik-baik saja! Mungkin karena saya habis bangun tidur, Bi," lanjutnya, agar wanita separuh baya itu terlihat senang.
"Tapi Nyonya! Nyonya jangan tidak makan!" Benar kembali memberi peringatan kepada wanita yang menatapnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...