
Benar buru-buru turun dan menyiapkan keperluan untuk makan malam. Termasuk juga memanggil pak Balin yang belum kunjung membeli perlengkapan dapur termasuk ikan dan sayuran yang lengkap.
"Pak! Kamu mau ke mana?" tanya Benar dari belakang menghentikan langkah pak Balin yang terlihat buru-buru.
"Kamu ada keperluan apalagi?" Pak Balin memutar badan kembali bertanya.
"Aku mau! Bapak beli sekarang ikan dan sayuran! Dan juga, Bapak jangan lupa beli perlengkapan dapur, seperti biasa yang sering Bapak beli. Nona muda minta disiapin makanan untuk nanti malam," ucap Benar.
"Ya sudah!" Lelaki yang ingin mengambil mobil tadi lalu membalik ke belakang, pergi ke swalayan untuk belanja perlengkapan dapur.
Setelah melihat pria itu pergi. Benar kembali masuk dengan tenang. Mengambil pisau, mengiris bahan-bahan makanan yang ada. Merajang semuanya dengan halus.
Dhyia yang tanpa sengaja mendengar nama 'Nona' tadi menuruni anak tangga untuk menemui asisten rumahnya yang menyebut nama agak berbisik pelan darinya.
" Bi! Bibi lagi apa?" tanyanya dari belakang mencoba menguatkan tungkai kaki yang sebenarnya ingin terjerembab ke lantai akibat rasa pusing yang kembali datang menyerang.
"Bibi lagi menyiapkan makanan untuk nanti malam, Nya." Benar langsung menjawab dan terus melanjutkan mengiris semua bahan.
Dhyia semakin menutup mulut dan hanya melihat asistennya itu dengan tatapan yang sendu. Melihat punggung sang asisten yang bergerak dengan lincah.
Sampai saat ini Dhyia belum juga mendapatkan kabar dari pria yang sudah menjadi suaminya. Meninggalkan Benar sendiri dan masuk ke dalam kamar yang selama bekerja di kediaman yang sudah menampungnya selama empat tahun. Duduk bersandar di balik pintu dengan keadaannya yang belum membaik. Diam dan termenung meneteskan air mata ini yang bisa dilakukannya demi menjaga keutuhan rumah tangga.
Braugh!
Belanjaan sudah terletak di atas meja. Benar spontan memutar badan melihat ke arah sumber suara yang telah membuatnya tersentak. Melihat punggung pak Balin yang sudah melangkah keluar.
__ADS_1
Sampai saat ini Yuzer dan Ilker masih berbincang hangat dengan menikmati secangkir kopi yang disuguhkan oleh OB baru yang membantunya kemaren untuk pergi liburan tanpa seorang pun dari karyawannya yang mengetahuinya.
Berbicara panjang lebar mengenai seluk beluk perusahaan. Ilker pun tanpa curiga menceritakan semuanya kepada Yuzer. Dia berharap kalau sahabatnya itu bersedia membantunya untuk menyelesaikan permasalahan yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya, apa? Dan dari mana dia mempunyai musuh.
Lain lagi di luar, pak Altan yang belakangan ini terlilit perintah yang membuat hatinya risau. Berpikir positif kalau dia besok pasti mendapatkan orang baru untuk bekerja di kediaman Carya. Mengambil gunting yang tadi dilemparkannya.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" Yuzer semakin penasaran tentang kabar mengenai permasalahan yang mengguncang sahabatnya itu mengorek berita lebih dalam lagi agar lebih mudah untuk menjatuhkan perusahaan tersebut.
"Sampai saat ini aku belum tau harus melakukan apa. Dan memulainya dari mana," ucap Ilker lirih melihat cangkir kopi yang mengayun di udara.
"Kamu, 'kan lelaki yang cerdas. Dari dulu kamu engga pernah, seperti ini!" lanjut Yuzer, menyeruput kopi. "Menyerah dan berputus asa. Aku engga pernah melihat itu dalam dirimu dulu!" Menatap sang lelaki dengan tatapan lurus. " Kau selalu bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi." Yuzer dengan sabar memancing emosional lelaki yang duduk di depannya. "Sekali pun masalah itu hanya sekedar lelucon, tapi kau tidak mau melepaskannya begitu saja!" Menaikkan kaki kanan di atas kaki kirinya. "Kau dulu pernah bilang, "Kalau hidup pasti ada masalah?! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya?! Lantas, kenapa sekarang kamu berubah kawan? Mengekang dirimu di dalam masalah yang kau biarkan terus hinggap... ." Yuzer kembali berucap dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya setelah raut muka temannya berubah hampa. Meletakkan kopi di atas meja, melirik muka pria tadi dengan tawa licik di dalam hati.
Sang pria kini tidak lagi mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya melihat dengan lirih kejadian yang menimpa stasiun televisi miliknya yang sudah dibangun oleh sang ayah dengan susah payah.
"Masalah kali ini berbeda dengan masalah yang dulu!" Ilker kembali membuka perbincangan setelah temannya menutup mulut. "Masalah ini seakan ada yang sengaja ingin menusukku dari belakang," ujarnya melihat dalam ke arah lelaki yang datang mengunjunginya.
Mendadak Yuzer tiba-tiba tersedak dan batuk. Air yang mengalir di tenggorokannya tiba -tiba terhenti dan ingin keluar. Mukanya spontan pucat dan merah seakan dia sedang menahan malu akibat ulahnya sendiri yang dengan sengaja memancing kejadian tersebut.
"Bagaimana kau tau? Ada yang sengaja ingin menjatuhkan mu?"Yuzer bertanya kembali.
"Itu hanya firasat 'ku saja." Ilker langsung menjawabnya. Menaikkan kaki di atas kaki kirinya sama seperti Yuzer. Mengambil kopi yang masih tersisa.
Yuzer sebenarnya sudah panik . Namun, dia harus tetap berjaga, agar Ilker tidak mencurigainya. Dia seolah berlaku layaknya sebagai seorang teman yang memberi simpati atas apa yang menimpa sang pria itu.
"Semoga ini tidak berlanjut. Kuharap kedepannya kau mendapatkan jalan untuk menyelesaikannya dengan mudah," tuturnya berpura-pura baik di depan pria malang tersebut.
__ADS_1
Jam terus berputar semakin kencang. Benar yang menyiapkan makanan tidak kunjung usai disebabkan dia mendapat kabar dari anaknya kalau keluarganya datang dari kampung yang sudah lama tidak pernah mengunjunginya.
"Nya!" Panggilnya mengetuk pintu.
Wanita tersebut seketika tersentak dan membuka pintu. "Iya, Bi! Ada apa?" Dia bertanya dari balik pintu.
"Bibi, mau minta izin, Nya," katanya dengan penuh harap.
"Emang, Bibi mau ke mana?" Dhyia langsung membuka pintu lebar dan keluar.
"Kerabat Bibi ada yang datang dari kampung. Mereka ingin bertemu dengan Bibi. Bibi dan mereka sudah bertahun-tahun tidak pernah ketemu, Nya. Semenjak suami Bibi meninggal, kami jarang sekali berjumpa." Benar sama sekali tidak ingin mengecewakan kerabatnya.
"Ya sudah Bi. Kalau begitu, Bibi pulang saja. Saya akan menyuruh pak Balin untuk mengantarkan Bibi," tutur wanita cantik yang lemah lembut tadi. Berdiri memandangi asistennya yang tampak terburu-buru masuk ke dalam kamar supaya bertemu secepatnya dengan kerabat dari keluarganya yang jauh.
"Kalau begitu Bibi izin pulang sebentar, ya, Nya!" pamitnya membawa tas yang tidak terlalu besar.
"Iya, Bi!" kata Dhyia mengikuti sang asisten berjalan menuju pintu tersenyum tipis bercampur sedih sebab dia tidak mempunyai lagi orang yang bisa menjadi penyemangatnya tinggal di rumah yang sekarang dia tempati. Memanggil pak Balin. "Pak, tolong antarkan Bi Benar, ya!"
Pak Balin pun mengangguk mengiyakan permintaan sang majikan.
Menutup pintu setelah asisten itu pergi dengan mobil yang diantar oleh pak Balin. Dhyia pun merasa sunyi, berjalan memegang pegangan wanita paruh baya tadi yang belum selesai. Malam ini kepergian Benar membuat sang wanita merasa sedih sebab karena dirinya lah wanita tersebut bisa bertahan selama itu di dalam rumah yang membuatnya tercekam.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...