
Ilker yang ingin segera tiba di kantor memanggil pak Balin setelah pintu di tutup oleh pak Altan.
"Pak Balin! Di mana kunci mobil?" Ilker bertanya ketika dia melihat mobil yang tertutup.
Pak Balin tiba-tiba pucat seolah keringatnya bercucuran membasahi kedua pipi. Gemetar menatap ujung sepatu yang berdiri tegak di hadapannya. "I-itu, Tuan," jawabnya gugup.
Ilker yang tidak banyak bicara, terpaksa menghembuskan napas dan berkata . "Itu apa, Pak?" Pagi ini dia tidak ingin terpancing emosi sehingga dia menjawabnya sedikit lembut.
Lelaki yang hampir sebaya dengan sang ayah pun, menunduk menahan rasa takut. "Maafkan saya, Tuan! Saya kelupaan," tuturnya berterus terang.
Ini semakin membuat lelaki yang berpakaian rapi itu ingin menghardik pekerja tersebut. Namun, karena dia tidak ingin merusak paginya, dia terpaksa menahannya. "Ya sudah! Antarkan saya sekarang ke kantor!" katanya melihat jam yang melingkar.
Dengan sigap pak Balin mengambil kunci mobil dan mengeluarkannya dari dalam garasi. Mobil yang terparkir dan jarang dibawa kini mulai sering keluar membelah jalanan.
📱"Kak, Kakak bawa mobil, Mama?" Rana bertanya, mengirim pesan singkat setelah melihat dari atas balkon.
"Kali ini dia benar-benar ngambek," batin Ilker membuka pesan. "Menunjukkan wajahnya saja dia tidak mau." Merasa sesal atas kejadian yang terjadi tadi malam.
📱 "Kamu masih punya mobil satu lagi. Kakak membutuhkan mobil ini," balasnya tegas mengirim pesan dengan harapan agar adik perempuan satu-satunya tidak menjadi pribadi yang manja. Mematikan ponsel lalu masuk ke dalam mobil yang sudah berada di dekatnya.
Merasa tidak enak hati, pak Balin menoleh ke arah belakang tepat ke arah lelaki itu yang duduk sambil menutup ponsel, melalui kaca spion yang tergantung di atas kepala.
__ADS_1
"Setelah ini! Saya harap mobil itu sudah selesai," katanya, mengambil dan membuka laptop yang sudah tersedia di dalam mobil lengkap dengan meja yang di desain khusus oleh nya agar dia tidak terganggu di saat bekerja di dalam mobil. "Bilang juga pada Pak Altan supaya dia segera menelepon tukang cermin."
"Baik, Pak." Pak Balin langsung menjawab. Melirik sekilas lelaki yang sedang melihat layar laptop.
"Begitu saya tiba saya mau hari ini sudah selesai." Dengan tegas dia mengatakan sebab belakangan ini kedua pekerjanya itu begitu lalai, menatap lurus ke arah layar yang menyala dengan kedua kaki lurus ke bawah.
"Baik, Pak." Pak Balin kembali mengangguk gemetar menatap raut muka pria yang berada di belakang sangat pias. Memegang stir mobil dengan sangat hati-hati.
"Aagh! Sebel." Tidak senang melihat sikap kakak lelaki yang sudah berubah terhadap dirinya.
Rana pun memutar badan setelah mobil mewah yang diinginkannya menghilang. Menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur sambil meletakkan ponsel di sebelahnya di ikuti kedua mata menatap ke arah busur yang terletak di meja sudut tepat bersebelahan dengan tempat tidur.
Di kamar yang luas Dhyia berjalan terseok-seok sambil membawa pakaian di genggamannya. Menuruni anak tangga dengan langkah gontai, menatap lurus dengan kedua bola mata berkaca-kaca dan angan yang melayang. Tidak pernah membayangkan kalau sang suami ternyata pergi bermesraan dengan wanita yang memang tidak pernah bisa dia lupakan, menangisi dirinya yang sudah masuk ke dalam jurang yang dalam.
Refleks Dhyia meredakan kesedihannya, menoleh ke arah yang memanggil namanya. Wanita itu tampak begitu bahagia sehingga dia tersenyum ceria kepada wanita yang dilihatnya di atas tangga. Dhyia ikut tersenyum juga ketika dia melihat senyuman itu.
Pak Balin yang sudah masuk ke dapur setelah mengantarkan tuan mudanya. Menegur Benar ketika dia melihatnya. "Bi!" Panggilnya berteriak pelan dan menunduk tersenyum ketika dia juga melihat sang nyonya berada di dapur tersenyum kepada nya. Mengikuti langkah wanita itu yang membawa pakaian dan menaruhnya di dalam mesin cuci.
"Benar sungguh keterlaluan, begitu sampai dia langsung memegang pekerjaannya. Bukannya dia menjawab sapaan. Malah asyik di situ," gerutu pak Balin yang ingin mengatakan kalau uang belanjaan semalam kurang jadi, dengan terpaksa dia harus mengutang. Sebal melihat Benar yang tidak mau menoleh.
Di tengah-tengah kesedihannya Rana menghampiri busur dan berdiri menatapnya dengan lirih. Ilker yang mengetahui kalau adiknya masih merajuk, dia pun menelepon adiknya kembali setelah dia sampai dan duduk di dalam ruangan.
__ADS_1
Rana yang masih ngambek mendengar panggilan ponselnya berdering berulang kali. Namun, dia sama sekali tidak mau menoleh sepanjang dia di telepon oleh sang kakak. Sekali pun dia tidak mau mengangkat panggilan tersebut. Dia hanya menatapnya saja ke belakang ke arah layar ponsel yang menyala, mengabaikan lalu beranjak ke tempat yang lain di ikuti kedua telinga masih mendengar deringan tersebut. Mendekati anak panah lalu mengambil dan membawanya turun. "Sering kali dia seperti itu! Suka membuat aku kesal. Lalu kemudian dia menelepon dengan semaunya," batinnya berjalan kencang menuruni anak tangga dengan sebelah tangan kiri memegang busur dan anak panah.
Melangkah ke arah pintu tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu. Dia keluar menuju lapangan pemanah yang berada di lokasi sekitaran kediaman. Menoleh ke arah Benar yang sedang sibuk lalu mengambil gelas membasahi tenggorokan yang terasa kering.
Diam dan bermuka masam menatap wanita yang semalam membuatnya kesal. Berlalu begitu cepat melewati wanita tersebut tanpa menyapanya. Bersikap dingin memandangi ujung kaki si wanita yang memakai pakaian tertutup, meletakkan gelas sedikit kasar.
Dhyia yang berpapasan dengan Rana menarik bibir tersenyum tipis sambil menahan perlakuan Ilker yang sudah kelewatan batas. Menatap lurus punggung Rana yang cuek, memegang busur dan anak panah. Berjalan dan menyandarkan tubuhnya di depan meja melihat sikap adik ipar yang serupa dengan sikap sang kakak.
Di dalam ruangan kantor yang berada di lantai dua puluh. Ilker terlihat memijat keningnya seolah dia sedang bingung. Duduk dan diam seakan tidak bersemangat ingin melanjutkan segalanya.
Namun, dia harus melakukannya dengan terpaksa membuka media mencari tahu tentang seorang pria yang di katakan oleh Alen tadi pagi sebelum dia berangkat kerja.
Ting!
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponsel. Sontak dia pun menoleh lalu mengambil ponsel dan membukanya. Shock bercampur terkejut setelah dia melihat isi pesan tersebut. "Ini tidak mungkin," katanya panik dan tidak percaya dengan yang telah dilihatnya.
Dia pun langsung lemas dan melepaskan ponsel seketika. "Seolah ini sebuah omong kosong. Mungkin Alen salah kirim. Tidak mungkin pria ini... ." Dia pun terdiam membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...