
Sementara Dhyia lagi sibuk dengan munajatnya demi meminta kelapangan hati di saat nanti dia tidak lagi mendapatkan harapan.
Alen kembali lagi dengan tenang setelah nyamperin ke ruangan itu. Namun, dia masih juga bingung. Kenapa mereka begitu sulit untuk mendapatkan seorang model? Bahkan menurutnya ranting stasiun TV mereka saat ini sangatlah buruk. Iklan yang masuk tidak ada tidak, seperti biasanya, pikirnya.
"Alen!" panggil salah seorang karyawan.
Alen langsung menoleh ke arah sumber suara. "Masuklah!" serunya dari dalam. "Ada apa?" Alen bertanya langsung setelah melihat dia masuk kemudian melihat layar laptopnya kembali. "Duduklah!" Dia mempersilakan orang itu. "Apa yang membuatmu memanggilku?" tanyanya membaca berita yang ter-update hari ini mengenai masalah seluruh ranting siaran TV.
"Apa kau tidak bisa menelpon, atasan?" Bukannya menjawab pertanyaan Alen malah dia balik bertanya sambil menarik kursi.
"Ada apa? Emang, kenapa? Kau terlihat panik begitu?" tanya Alen seketika melihat rekannya duduk, menghentikan pencarian berita.
"Ada kabar buruk yang berembus! Dan ternyata memang benar," katanya, menunduk lesu. Membuat Alen semakin penasaran.
"Maksud kamu! Ada yang menyerang perusahaan ini?" tanya Alen menduga-duga.
"Aku pikir begitu," jawabnya. "Makanya, aku minta kamu segera hubungi atasan dan beritahu, apa yang terjadi. Aku rasa, dia pasti shock ketika mendengar berita ini?!" ungkapnya.
"Berita ini?" Bergumam penasaran. "Berita apa maksud kamu?" tanyanya semakin cemas seolah dia ingin mengetahui informasi.
"Kalau stasiun TV IC2 mengalami kemerosotan," ucapnya sedikit penuh penyesalan akan hal itu.
"Apa?" teriak Alen shock. "Tapi kenapa bisa? Bukankah itu sudah berjalan cukup lama," tuturnya menganga bingung.
Sementara di luar ruangan terlihat beberapa karyawan yang tertunda dalam acara program yang mereka jalankan. Karyawan pun terlihat berjalan tak tentu arah tujuan ke sana kemari. Seolah mereka ada yang menunggu dan ada yang kebingungan. Semua terlihat hilir mudik dengan muka gelisah yang mengetat.
"Baiklah! Aku akan mencoba untuk menelponnya. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Seperti yang terlihat belakangan ini. Dia sedang dirundung masalah. Jadi, aku tidak bisa memastikan dia meresponnya atau tidak," ucap Alen menjelaskan.
"Lalu, apa yang harus kita perbuat?" tanyanya dilema. Melirik Alen yang sedang memencet nomor atasan. "Kalau semakin didiemin bisa-bisa semuanya semakin hancur. Semua akan berantakan dan berakhir Alen."
__ADS_1
" Kamu tenang! Oke! Jangan panik gitu kenapa, sih! Berhentilah! Berbicara sebentar. Biarkan aku berpikir. Apa yang akan aku katakan kepada nya? Yang membuat dia tidak menyerangku balik, pikir Alen sambil menekan tombol dengan deg-degan.
Sambungan pun masuk ke ponsel sang atasan. Dia berusaha berjaga sebaik mungkin dari serangan yang tiba-tiba menghadang.
Ilker yang barusan bertengkar dingin dengan sang kekasih menatap nomor yang memanggil sedikit terkejut, melihat nomor yang masuk yang sudah tentu dia tahu kalau itu adalah nomor dari kantor.
"Halo!"Dengan cepat dia meraih dan mengangkatnya.
Setelah mendengar suaranya Alen pun sembari langsung pucat. Dia tentu sudah panik dengan kejadian beberapa hari ini.
📱"Pa-pak! Masalah program kita ada sedikit yang mengganggu, Pak," katanya dengan langsung terbata akibat rasa ketakutannya kepada sang pimpinan, teringat kembali kejadian yang di kafe.
📱"Gangguan apa?" tanya Ilker panik. Mengerutkan keningnya perasaan sedikit tidak enak.
📱"Ada yang menutup iklan masuk ke stasiun TV kita, Pak. Bahkan hari ini kita tidak ada mendapat job tawaran apapun. Semua telah diambil alih oleh stasiun TV yang lain. Jadi, kita sedikit pun kehabisan akal buat mengatasinya." Melirik seorang teman yang duduk di depannya.
Ilker langsung memutuskan sambungan dan bergegas pergi ke kantor. Membuka lemari dan mengambil pakaian dinas yang sering dia kenakan serta mencari dasi kesukaannya.
Kring! Kring! Kring!
Suara ponsel yang dia kantongi pun berbunyi di sakunya. Sontak dia langsung mengambilnya setelah nada dering itu membuatnya terkejut.
📱"Pak Ilker,' katanya sambil melihat ponsel. "Iya, ada apa, Pak?" tanyanya spontan dan berhati-hati. Berjalan sambil menatap lurus dengan pikiran yang penat memikirkan pekerjaannya, berjalan dengan tergesa-gesa mengikuti salah satu rekannya yang sedang sibuk.
📱"Datang ke kantor sekarang," katanya berjalan terburu-buru sambil memegang ponsel yang menempel di telinga. "Kita harus meeting sekarang juga," lanjutnya, menganyunkan tangan sebelah kirinya memanggil Balin yang sedang bermain catur, di ikuti kedua matanya bertemu pandang dengan lelaki yang mulai sedikit killer.
"Balin cepat keluar kan mobil,' pintanya memutuskan telepon sambil berjalan mendekati tempat di mana mereka sering duduk bersantai bermain catur dan berdiri tegak di hadapan mereka.
Sontak Balin dan Edis pun terkejut, pak Altan yang menoleh dari jauh pun terpaksa menghentikan langkahnya seketika dengan kedua kaki yang berjarak kaki kanan mengayun ke depan sedangkan kaki kiri di belakang. Menatap nanar sang bos dengan menelan ludah, di ikuti tangan sebelah kanan memegang teh manis dingin.
__ADS_1
Bisa gawat ini, pikirnya memutar badan setelah melihat pak Balin tergugup di hadapan sang tuan muda.
"Baik, Tuan," jawabnya spontan, melihat tuan mudanya yang tidak pernah menyuruhnya mengeluarkan mobil. Mengambil kunci dari lelaki yang bertemu tatap dengan nya sambil melirik ke tangan sebelah kanan.
Pantesan saja, pikirnya setelah melihat tangan itu. Bergerak dengan cepat mengambil mobil yang sesuai dengan kunci yang dia pegang. Aneh, pikirnya kembali setelah melihat mobil yang sudah lama terparkir bahkan mobil itu keluar baru semalam setelah sekian lama. Itu pun untuk menemani sang nyonya ke kantor tuan muda mengantarkan makan siang, pikirnya. Melirik terus mobil yang terparkir terasing di tempat yang sedikit jauh yang tertutup oleh penutup mobil.
Masuk ke dalam mobil dan menghidupkannya lalu memutarnya untuk menghampiri pria itu. "Sudah, Tuan," katanya, melirik ke tangan lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Sekarang, tugas kamu adalah mengantar saya ke kantor!" katanya, menutup pintu mobil sambil memasang sabuk pengaman.
"Baik, Tuan," jawabnya, mematuhi perintah lelaki itu. Melajukan mobil dengan tenang dan sesekali melirik tangan yang masih terbalut perban agak sedikit tipis.
"Balin! Ngomong-ngomong! Mobil ini kemaren ngapain sampai datang ke kantor?" tanyanya yang melihat dari rekaman CCTV di dalam ponselnya.
Deg!
Dia pun langsung mengerem mendadak sehingga membuatnya ingin terjungkal ke belakang. Namun, seorang Ilker terlihat santai dia seolah sudah memahami pak Balin lebih dalam.
Pak Balin pun sedikit pucat, tubuhnya gemetar mengatur napas, melihat jalan lurus kembali dengan normal.
Ilker yang duduk di samping diam menunggu jawaban dari pak Balin. Memainkan kembali ponsel.
"Nyonya, mau mengantarkan makanan buat, Tuan," katanya, mengulangi kembali ingatan itu. "Nyonya, merasa cemas. Kata Nyonya , "Beberapa hari belakangan ini, Tuan tidak makan. Makanya! Nyonya, meminta tolong kepada saya mengeluarkan mobil ini, Tuan." Mengulangi ingatan itu kalau mobil yang sedang dibawanya saat ini adalah mobil yang sering digunakan oleh Nyonya besarnya kemarin.
"Kau tahu aturan di rumah?" tanya Ilker langsung melirik dengan tajam dan sama sekali tidak tersentuh dengan jawaban yang diberikan oleh Balin kepada nya. "Setelah sekian lama! Tidak ada yang berani memakai mobil ini! Setelah, Nyonya besar tiada," ungkapnya melihat lurus kembali dan memutar kepala melihat sekilas ke arah pak Balin.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...