Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kepanikan Dhyia Kharya


__ADS_3

Dhyia yang baru saja selesai berdandan langsung panik dan gemetar setelah mendengar suara keras dari bawah memanggilnya. "Itu pasti Mas Ilker," katanya bergegas memutar badan, meninggalkan cermin.


"Dhyia!" teriaknya kembali semakin keras dan marah melihat lurus ke atas tangga sebab istri yang di panggil belum juga turun.


"Iya, Mas." Dhyia berlari terburu-buru menuruni anak tangga.


"Apa kau sudah tuli?" bentak Ilker, menatap istrinya dengan kedua bola mata memerah dan luapan amarah yang menggebu-gebu. "Ini semua gara-gara mu! Hubunganku dengan Yilzid semakin rumit. Kau tau? Tadi dia baru saja menangis di hadapanku. Apa kau tau penyebabnya?" Menatap serius wanita yang dinikahinya dengan sah.


Dhyia terdiam dan gemetar mendengar suara suaminya yang meninggi yang menatap ke arah dirinya dengan sangat tajam dan wajah memerah, seperti api. Diam dan menggeleng berdiri dihadapan suami sambil meremas kedua jemarinya yang di silangkan di depannya, itulah jawaban yang bisa diberikannya.


"Itu semua gara-gara pernikahan ini!" pekik Ilker mencengkram kedua bahu istrinya dengan kuat. "Kau bisa lihat, 'kan, pernikahan ini seperti apa, ha?" tanyanya, mendelik. "Kalau saja aku tidak bodoh pada waktu itu. Hidupku tidak akan, seperti ini. Ini semua adalah salahmu! Kau sudah berani masuk ke dalam rumah ini serta merampas hidupku. Dan juga sudah berani memisahkanku dari wanita yang sangat mencintaiku dan telah bersama dengan 'ku bertahun-tahun. Apa kau puas sekarang? Puas?" teriaknya kembali memenuhi langit- langit rumah dan mencengangkan para asisten.


Dhyia tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya semakin tumpah menyentuh lantai. Serangan yang menghantamnya hari ini semakin membuatnya terhenyak dan berusaha sekuatnya agar dia tetap tegar menahan cengkraman sang suami yang mencengkram bahunya dengan kuat.


" Ma-mas, maafkan aku," pinta Dhyia berlinang air mata. Isak tangisnya pun semakin pecah terdengar mengiris hati di hadapan wajah sang suami. "Aku tau Mas yang salah aku," katanya dengan suara lirih, menunduk melihat lantai sambil menahan cengkraman sang suami yang semakin kuat. "Aku tidak akan memaksamu, Mas," lanjutnya berserah dengan segenap jiwa dan raga dengan nada suara dan air mata yang semakin membasahi kedua pipinya.


Melihat tangisan wanita yang berdiri di hadapannya dia langsung melepaskan cengkramannya. Menghela napas lalu seketika memutar badan membelakangi sang istri . Sedikit penyesalan tersirat di hatinya atas perbuatannya kepada sang istri.


"Mas, jika bukan aku jodohmu. Aku akan siap melepaskanmu." Menatap punggung suami yang memiliki bidang lebar itu dengan kedua bola mata berkaca-kaca. "Pernikahan ini terjadi karena kemauan, Tante. Jadi, tidak ada yang boleh tersakiti di antara kita," katanya dengan rela yang sangat mengiris hati lelaki yang telah menikahinya.


Janji suci itu kini sudah menjadi belenggu besar terhadap seorang Dhyia Kharya. Dia terus berjaga sepanjang hari dari emosional suami yang selalu berubah-ubah. Hal ini sangat mencekam bagi seorang gadis, seperti dirinya. Menikah tanpa cinta dan hidup terbelenggu bagaikan di dalam sangkar.


"Mas, aku sangat mencintaimu. Jadi, kebahagiaanmu lebih penting dari pada kebahagiaanku. Jika, memang ini jalannya kita harus berpisah. Aku siap, Mas. Aku ikhlas untuk melepaskanmu," rintihnya di dalam hati menahan sembilu yang menyayat tanpa henti.

__ADS_1


Berdiri menatap nanar punggung suami yang masih enggan berputar untuk melihat wajahnya yang memerah dan sembab. Luka yang teramat dalam akibat ikatan suci yang menjeratnya terlalu dalam, seperti ini.


"Mas, demi Allah aku tidak pernah bermaksud merebutmu dari wanita yang paling kamu cintai," ucapnya dengan nada suara serak bercampur segugukan.


Ilker hanya diam saja dan tidak sedikit pun dia merubah pendiriannya, menatap wanita itu. Dia tetap membelakangi dan mendengarkan semua omongan dari istrinya.


"Mas, sekiranya kamu memutuskan untuk menceraikan aku. Aku siap Mas," kata Dhyia menunduk semakin menghancurkan hatinya dan meremas ujung baju yang dipakainya dengan kuat. Menahan bibir yang bergetar untuk meluapkan isak tangis yang terpendam.


Ilker Can Carya sontak terkejut mendengar ucapan wanita yang dulu pernah diberinya perhatian. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terhenyak dan perih ketika wanita itu mengatakan hal itu. Menahan amarah sambil mengepal tangannya dengan kuat dan mengigit kedua gerahamnya.


"Lagi pula, aku selalu mendapat tuduhan yang bukan-bukan dari mu, Mas. Atas hancurnya hubunganmu dengan Yilzid." Menunduk dengan pasrah. "Sekarang tidak lagi. Aku tidak mau mendengarkan tuduhan itu lagi," ucapnya dengan suara getir, melihat ujung sepatu suaminya. "Dan aku akan melupakan permintaan nyonya Afsheen yang sering terdengar dikedua telingaku," katanya lirih di dalam hati.


Dari depan pintu ruangan setrika. "Benar, kalau mereka berpisah sayang sekali. Padahal, Tuan dan Nyonya adalah pasangan yang serasi," bisik pak Altan di telinga Benar. Mengintip dari balik tembok.


"Ssttt! Kamu engga boleh ngomong gitu. Gusti Allah tidak suka mendengar yang namanya tentang perceraian." Memukul dada pak Altan dengan sikunya.


Benar pun menatap Dhyia dengan lekat. "Bagi seorang wanita. Siapa yang betah dibuat, seperti itu." Menatap punggung Dhyia yang tegar. "Untuk menimbang dan mencari kebenaran dari omongan itu. penjaga kebun yang selalu menjadi temannya bertengkar dan bahkan tidak sepaham.


Terlepas dari penilaian asisten. Ilker yang lebih memahami Dhyia setelah mereka menikah dan hidup bersama.


"Apa kau yakin?" tanya Ilker membelakangi istri yang sudah mengurus dan menjaganya. "Kau tidak menyesal dengan keputusan mu?" tanyanya kembali.


"Aku ingin yang tebaik saja, Mas di antara kita," jawab Dhyia singkat yang sangat membuat Ilker ingin mencengkram perempuan yang berdiri tepat di belakangnya kembali.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau itu permintaan mu. Aku akan mengabulkannya," tantang Ilker memberi ancaman terhadap wanita yang sudah memasuki relung hatinya. Kesal bercampur sebal Ilker pergi meninggalkan Dhyia yang telah memberi keputusan yang sangat membuat dirinya akan lebih sedih dan sengsara lagi.


"Ya, Allah jika, memang ini dapat membuat suamiku bahagia aku akan ikhlas melepasnya," rintih Dhyia di dalam hati sambil mengusap air matanya yang terus mengalir lalu menjatuhkan dirinya teronggok di atas lantai menahan kepedihan seorang diri.


Isak tangisnya terus saja terdengar oleh telinga lelaki yang sudah menikahinya ketika menaiki tangga. Sontak dia merasa iba dan tidak tega mendengar segugukan yang menyedihkan itu. Akan tetapi, demi ego dan gengsinya dia melawan rasa itu dengan kuat.


Di ruang dapur Benar dan pak Altan sangat sedih. Mereka tidak rela kalau majikan mereka berpisah.


"Aku suka dengan mereka berdua," kata Benar mengilap gelas sambil melamun. "Mereka adalah pasangan yang serasi baik dan penyabar." Meletakkan gelas di atas gantungan.


"Iyo, aku juga. Tuan Ilker sebenarnya adalah laki-laki yang baik." Mengenang masa kecil majikannya.


Sementara Ilker masih bingung. Dia merasa berat untuk melepaskan Dhyia. "Aagh!" teriaknya meninju cermin.


Baugh!


Spontan darah pun menetes. Serpihan kaca yang masuk ke dalam tangannya tidak lagi dia hiraukan. Dia hanya terngiang dengan isak tangis wanita yang dinikahinya.


"Bodoh, bodoh, bodoh!" Meninju kembali tolet sehingga membekas. Menatap wajahnya yang ketat itu di dalam cermin seakan menyesali hidupnya yang keliru.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2