
"Bi!" Panggil Dhyia setelah melihat Benar berlalu.
"Iya, Nya!" Memutar badannya kembali.
"Apa? Mas Ilker sudah makan?" Dhyia mengulangi pertanyaan kembali setelah lama menunggu jawaban yang tidak kunjung di jawab oleh Benar.
"Aduh! Nya, Bibi lupa!" Menempelkan tangan di jidat, melihat ke arah wanita yang tersenyum tipis melihat tingkahnya yang nyeleneh. "Bibi kurang tau, Nya. Tadi Tuan, memang menanya, Bibi. Tapi! Bibi tidak tau! Tuan mau ngapain, Nya," jawab Benar.
Dhyia pun tersenyum kembali setelah mendengarnya. Senyum itu sebagai isyarat kalau dia menyuruh benar melanjutkan urusannya. Keluar dengan pakaian yang sangat menaruh simpati karena baju yang dia kenakan tidak sebagus pakaian milik sang kediaman Carya.
Perlahan tangan lembut itu pun mengambil talam, seperti yang dia lakukan belakangan ini melayani suaminya sebelum kepergiannya. Dengan senyuman getir dia pun menyiapkan semua dengan senang hati. Setelah melaksanakan kewajibannya.
Menaruh nasi dan air minum ke dalam talam. Berjalan sambil melirik jam yang tergantung di dinding, menaiki anak tangga. Menatap lurus dan berpikir kalau suaminya pasti lapar, pikirnya, mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pun dilayangkannya dengan lembut melihat nampan sedikit cemas kalau dia akan mendapat perlakuan, seperti mana yang telah dia alami.
"Masuklah!" katanya dari dalam yang berdiri di depan jendela, masih terlihat rapi dengan pakaian kerja dan perban yang belum juga di ganti.
Kali ini dia tidak ada meninggalkan memo karena dia bertemu langsung dengan sang suami. Masuk dengan deg-degan lagi. Melihat lantai yang dia lewati.
"Assalamualaikum, Mas," sapanya dengan lembut. Meletakkan talam yang dibawa oleh nya. Mas, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu, kata Tante , "Dulu kamu sangat menyukai makanan ini. Jadi, aku tadi teringat, lalu aku membuatnya," katanya dengan senang meski sang suami yang tidak mau menoleh ke arahnya sama sekali.
__ADS_1
Dia pun menghembuskan napas panjang. Jemarinya kembali terlihat dia remas menahan sabar.
"Mas, anginnya terlalu kencang! Dan udaranya terlalu dingin! Jika terlalu lama berdiri di situ! Tidak baik untuk kesehatan, Mas. Apalagi dengan perut kosong." Menatap punggung lelaki itu yang masih bersikeras dengan sikapnya. 'Lagian, 'kan! Ini juga sudah malam. Sebaiknya, Mas mandi dan bersihkan diri, Mas dulu! 'Kan! Mas, habis dari luar," katanya melihat pria yang berdiri di hadapannya masih bergeming.
Dia terlihat resah sebab lelaki itu tidak mau juga bersuara dan akhirnya, membuat dia mengatakan sesuatu mungkin akan membuat suaminya membuka mulut.
"Mas, tidak baik kalau kita mendengar salam tidak di jawab," katanya melanjutkan ucapan memberanikan diri setelah sang suami tidak memberikan tanggapan apapun. Melihat punggung lelaki itu yang belum menoleh ke arahnya. "Kalau Mas, ada masalah! bicaralah Mas! Aku siap kok mendengarkan semua keluhan, Mas," lanjutnya dengan berhati-hati.
Namun, sedikit pun Ilker tidak tersentuh dengan hal itu. Dia masih bertahan dengan egonya yang selalu menurutnya benar. Bahkan adiknya sendiri pun belakangan ini tidak pernah dia sapa, semenjak dia bermasalah dengan pilihannya di tambah lagi dengan kabar mengenai stasiun TV miliknya yang kemungkinan besar tergambar akan mengalami kebangkrutan.
Masalah ini semakin membuatnya diam membisu, menutup semua jalan mengenai hal yang mungkin bisa membuatnya lebih terpuruk. Diam dan murung untuk saat ini adalah hal yang paling tepat, pikirnya sehingga dia tidak bisa di senggol akan hal yang lain, selain masalah yang merundungnya saat ini.
Mendengarkan ocehan dari belakang dan menanggapinya dengan kebisuan tanpa terpancing oleh emosi kembali itu adalah hal yang tepat, batinnya. Menatap nanar bawah pohon yang terdapat bangku panjang yang kecil, di mana tempat sang istri dulu duduk menemani sang ibu.
"Pikirkanlah! Dirimu sendiri! Jangan pernah hiraukan aku! Aku masih bisa menjaga diri 'ku sendiri," katanya spontan. "Aku sudah lama bergelut dengan ini. Tidak ada yang akan membuatku rapuh. Dari dulu, aku sudah melatih diriku sendiri untuk tidak menjadi orang yang lemah," tuturnya, masih terus menatap ke arah luar.
"Baiklah, Mas! Aku mengerti," katanya, mengerutkan bibir sedikit kecewa. "Aku tau! Kalau kamu tidak selemah yang aku pikirkan. Kamu adalah pria yang kuat. Yang bisa mengatasi semuanya sendiri. Aku akan ada. Jika, Mas membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya," lanjutnya, melihat pria yang keras kepala.
Ilker sedikit tersentuh dengan ucapan dari wanita yang berdiri di belakangnya. Sedikit kebahagiaan tergores di hati. Melirik ujung kaki wanita itu dari ekor mata secara diam-diam yang masih juga menasihati pria yang sudah menjadi suaminya.
"Bersedih boleh, Mas. Tapi jangan pernah lampiaskan ke makanan. Karena ia tidak salah. Justru kita lah yang sebenarnya membuatnya terbuang," ucapnya kembali mengulanginya dan sedikit membuat Ilker tersindir yang melirik langkah wanita itu keluar dari ekor matanya.
"Aku masih bisa melakukannya sendiri," sahutnya sebelum wanita itu melangkah keluar. "Meski tanganku lagi sakit. Aku belum pernah menyusahkan siapa pun. Terutama diri mu! Oh, ya! Satu Lagi! Meski dengan kondisiku yang, seperti ini! Aku jauh lebih baik dari sebelumnya. Engga usah mempedulikan diriku karena kita sama-sama sudah dewasa," ucapnya yang membuat Dhyia Kharya seakan merasa malu.
__ADS_1
"Aku tau, Mas! Dari dulu kamu itu adalah lelaki yang kuat. Engga ada yang mengelak akan hal itu," ucapnya kembali mengulangi. "Tapi, mungkin! Aku saja yang belum mengetahui semua," katanya.
Dhyia pun menutup pintu dan menuruni anak tangga itu kembali. Bolak-balik naik turun tangga bukanlah hal yang melelahkan baginya, asal dia bisa melihat wajah lelaki yang dicintainya dalam diam, sebentar saja.
Menatap nampan yang berisi makanan sudah menjadi kebiasaannya dalam beberapa hari ini. Ini membuat Ilker terharu sebenarnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau wanita itu masih menaruh kepedulian terhadap nya. Inilah salah satu yang paling tidak bisa menjadikannya harus membenci wanita itu sepenuhnya. Rasa iba yang dulu pernah dia berikan kepada sang istri hingga sampai saat ini masih ada tersisa di dalam hatinya.
Menjadi seperti mu tidaklah mudah, pikirnya meninggalkan jendela dan menghampiri talam yang terletak di atas meja. Mengambil sendok dengan tangan sebelah kanan yang masih sakit.
Di lantai bawah, Dhyia yang barusan saja turun, tiba-tiba merasa tubuhnya seketika lemas, hampir saja dia ingin menabrak guci yang besar. Penglihatannya begitu berputar-putar dan ingin terhempas ke lantai.
"Nya! Nyonya kenapa?" tanya Benar panik meletakkan langsung jilbabnya di atas meja. "Apa? Nyonya sakit?" tanyanya menuntun si wanita duduk.
"Engga, Bi! Belakangan ini, saya mungkin kurang tidur," katanya menjawab pertanyaan sang asisten rumah tangga.
Benar begitu sedih ketika menatap wanita malang itu. "Dari semalam, Nyonya tidak makan. Mungkin itu pengaruhnya. Di tambah lagi! Nyonya katanya, "Puasa hari ini!"
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1