
Sementara Ziya Yilzid sang model papan atas itu mulai melupakan sang kekasih sejenak. Dia lagi sibuk bersiap untuk acara penampilannya di sebuah acara yang di selenggarakan oleh sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan sang ayah tanpa sepengetahuannya.
Melihat telepon yang berbunyi kembali. Dia pun dengan senang menerimanya raut mukanya seketika ceria yang tadinya sangat kesal atas pengabaian lelaki yang sudah lama menaruh hati terhadapnya, menoleh ke arah ponsel sedikit penasaran.
📱"Dari, Pervin," katanya terheran bercampur penasaran. "Iya, Vin. Kamu ada apa, nih? Nelpon aku?" Semakin menempelkan pipinya di bantal dengan posisi tubuh telungkup.
📱"Haaa! Syukurlah! Kau mengangkat telponku. Aku pikir! Aku Akan menunggu lama sampai merajuk mu kelar."
📱"Eeemm!" Mendehem berlogat manja. "Kamu bisa aja!" jawabnya tak bersemangat.
📱"Beberapa hari lagi! Kamu akan mendapatkan kembali tawaran projects. Ada sebuah perusahaan yang ingin menampilkan kamu dengan brand-brand miliknya. Dia bilang, dia tidak akan bisa mendapatkan model sehebat kamu," katanya dari balik telepon.
📱"Baiklah! Baiklah! Aku akan menerimanya dan melakukannya sebaik mungkin, seperti yang kalian inginkan dan menyiapkan diriku sebaik mungkin. Agar semuanya berjalan sesuai yang diharapkan, oke!"
📱"Ya, semoga saja kamu tidak berubah pikiran lagi. Oh, ya! Apa kabar dengan cintamu? Aku harap masalah itu tidak mempengaruhimu lagi! Hingga sampai saat ini. Kau belum juga mau menerima satu pun tawaran. Apa kau tahu? Jika kau, seperti ini Yilzid! Karirmu akan hancur dan kau akan kehilangan semuanya."
📱"Baiklah! Baiklah! Bawel banget, sih! Aku akan mengontrol emosiku, agar aku bisa berkonsentrasi untuk ini. Tapi ingat! Jangan pernah bawa-bawa cintaku."
📱"Hahaha! Mmm! Oke, Baiklah! Aku tidak akan membawa cintamu lagi. Cukup kejadian kemaren yang membuatku turut andil dalam cintamu itu. Aku takut! Kalau aku nanti ikut campur lagi. Aku bisa jadi, gila! Dan kau akan terombang ambing, antara cintamu yang nyata atau tidak! Hahaha!" ledeknya dengan candaan garing tertawa. Mematikan sambungan telepon langsung.
📱"Untung aja kau temanku! Kalau tidak! Aku akan meremas bibirmu itu. Tapi aku akan tetap mengalah, karena kau berguna bagiku! Kalau tidak! Kau sudah 'ku buat tidak bisa mengingat siapa dirimu!" katanya bergumam pedas.
Yilzid pun tidak lagi memikirkan tentang apapun, selain masalah penampilannya ke depan.
Menelepon semua manajemennya untuk pengurusan yang akan datang. "Aku mau, siapkan sebaik mungkin! Aku tidak mau ada kesalahan apapun. Dan aku tidak suka! Kalau tidak sempurna, seperti keinginanku," katanya dari dalam telepon genggam.
📱"Baik! Kami akan menyiapkan semuanya dengan baik, sesuai yang Anda inginkan. Anda tidak perlu cemas, Nona! Memikirkannya. Serahkan saja semuanya kepada kami. Kami sudah paham dengan Anda dalam setiap penampilan di setiap acara apapun," jawab dari balik telepon.
__ADS_1
"Oke!"
Yilzid pun memutuskan sambungan telepon dan tidak melihat-lihat kembali ponsel miliknya. Membuang jauh dari hadapannya dengan meletakkan di atas tolet. Beranjak ingin mendinginkan pikiran berendam di dalam bathtub juga, seperti kebiasaan kalangan-kalangan yang seprofesi, seperti dirinya.
Nasi yang di bawa wanita yang sering dia pandang dengan sebelah mata dan rasa belas kasihan itu telah berkurang setengah . Obat yang terletak pun yang seharusnya dia minum dari semalam kini sudah di minum olehnya, itu hanya semata demi rasa kasihan terhadap wanita cantik yang berhati lemah lembut itu.
"Bi, makanannya sudah aku serahkan! Bahkan sudah aku taruh di atas meja," kata Dhyia berbicara, seperti anak kecil yang baru belajar berbicara yang membuat Benar menoleh. menceritakan kejadian hari ini.
"Berarti, Nyonya hari ini! Dah dapat dong," katanya, dengan celetukkan garing kepada si wanita yang berhati lemah lembut.
"Dapat apa, Bi?" tanya Dhyia penasaran.
" Dapat pahala, hehehe!" balasnya tertawa kecil.
"Ooh! Dhiya langsung tersipu malu mendengar ucapan dari asisten rumah yang dulu tidak pernah merelakan sang anak yang malang itu menangis.
Sambungan telepon pun di angkat oleh Yilzid yang tidak bisa jauh-jauh dari lelaki yang telah berhasil membuatnya melupakan semua kebahagiaan selain cinta yang bersarang di hati.
"Bukannya aku mengabaikan kamu," katanya langsung tanpa basa basi. Dengar lah Dudu! Sewaktu kamu tadi menelpon aku. Aku lagi di kamar mandi," lanjutnya tanpa henti menjelaskan dari balik telepon yang terdengar hening. "Kamu tau? Aku sudah memberi keputusan, kalau beberapa hari lagi. Kita akan pergi liburan." Mengingat sang cewek yang paling suka berjalanan. Belum lagi dengan nya yang tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya merajuk dan mendiamkannya walau hanya beberapa jam.
Yilzid hanya diam saja dari balik telepon seakan dia enggan berharap kembali sebab, seperti biasa dia tidak menyangka, kalau lelaki itu kembali akan mengingkarinya. Sedikit pun dia tidak mau menyahut, apalagi menanya kabar pria yang menjadi lawan bicaranya dari balik telepon.
"Dudu! Aku harap percayalah kepada 'ku. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikan panggilanmu. Apa kau tidak mempercayai aku lagi?" Dia pun menghela napas. "Aku tau! Kalau aku sudah membuatmu sakit dan sangat kecewa," ucapnya mengulangi ingatan kembali.
"Lantas! Kenapa kamu memarahiku? Ketika aku mengirim surat itu ke rumahmu? Kenapa?" tanya Yilzid memanas, menyambut ucapan sang kekasih.
Ilker kembali menarik napas. "Saatnya tidak tepat, sayang. Masalah itu! Bukanlah masalah sepele. Tapi itu masalah yang serius dan harus di putuskan dengan kepala dingin."
__ADS_1
"Alah! Aku tau siapa kamu? Dari dulu kamu selalu begitu," singgungnya. "Setiap kali wanita itu menelpon. Kau pasti kembali?!" Balas sang wanita semakin panas. "Tapi kalau aku! Kau selalu menganggapnya tidak penting. Hari-hari mu selalu berada di dalam rumah, bahkan ketika aku bertanya sama karyawanmu, kau tidak ada di kantor. Emang kamu di mana, sih?" tanyanya semakin kesal.
"Dudu! Dengarkan aku kembali. Itu karena Ibuku lagi sakit, sayang. Jadi, dia merindukan 'ku dan menyuruhku kembali," sambut Ilker meluruskan kekeliruan. "Untuk saat ini aku memang jarang ke kantor. Semua pekerjaan aku selesaikan di rumah," ucapnya.
Ilker adalah pria yang baik. Dia tidak mau membuat kekasihnya kepikiran akan dirinya sampai wanita itu terus menerus menyerangnya dengan ocehan dan dia hanya diam saja mendengarkan.
"Belakangan ini! Aku selalu memikirkan mu. Aku berpikir! Kalau kau adalah wanita yang kuat. Setiap kali aku selalu menyakitimu," ucap Ilker berdalih menutupi kondisinya.
"Hmmm!" Yilzid pun mendehem kekesalan panjang. "Aku lupa! Kalau kau, bukanlah milikku lagi," sindirnya langsung. "Aku salah! Kalau aku mengharapkan perhatian dari mu lagi. Karena kau sudah milik yang lain," lanjutnya, memukul hati pria yang sangat mencintainya. "Oh, ya! Lagi pula! Aku baru sadar! Kalau kau sudah mempunyai wanita di sana. Wanita yang baik, seperti yang di inginkan ibumu dari dulu ," balasnya dengan tawa kecil bercampur sedih dan kecewa. "Lalu untuk apa? Kau lagi menginginkan aku?" tanyanya berputus asa. "Semua telah usai, sayang. Semua telah berantakan! Tidak ada lagi yang bisa di perbaiki. Kau tetaplah di sana dengan belahan jiwamu. Aku akan tetap di sini dengan kesendirianku," ucapnya dari balik telepon berputus asa.
Ilker semakin terhenyak dan diam seribu bahasa. Telepon itu masih terlihat menempel di telinganya meski hatinya gusar mendengar ucapan dari wanita di balik suara itu.
"Kau lupa? Siapa kau bagiku? Sekuat apapun kau berusaha menjauh. Itu tidak akan bisa. Aku tidak akan melepaskanmu," kata Ilker dari dalam telepon.
"Kita lihat saja! Aku akan melihat sampai mana perjuanganmu! Siapa yang yang akan kamu pilih?" Tersenyum tipis bercampur kepahitan luka yang mendalam.
Sontak Ilker langsung menutup telepon selulernya setelah si wanita itu menutup teleponnya langsung.
Sementara Dhyia lagi sibuk dengan munajatnya demi meminta kelapangan hati di saat nanti dia tidak lagi mendapatkan harapan.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1