
Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, Dan apa yang akan ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.
~. Umar bin Khattab .~
Dhyia keluar dari ruangan kerja sang suami dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah dia melihat lembaran itu tanpa sengaja.
Berjalan gontai sambil menatap sang suami yang masih terbaring, mengatur napas menempelkan tangan di dada menguatkan sanubari dari hempasan ombak yang kembali menerjang sekaligus menguatkan kaki berdiri kokoh.
"Aku baru tau. Siapa aku sebenarnya?" Bertanya pelan menatap lirih suaminya dari jauh. "Ternyata! Inilah aku." Barulah dia menyadari yang sebenarnya. Terbangun dari mimpi yang selama ini menggantung di harapan.
Menyeret kedua kaki terseok-seok, berdiri di depan cermin yang retak. "Jika, ini memang suratan takdirku. Aku siap menerimanya." Berbicara pada diri sendiri di dalam cermin. Sekujur tubuhnya gemetar dan lemas mengadukan nasibnya kepada Sang Khaliq yang terlalu mencintai suaminya begitu dalam.
Cinta yang tidak akan pernah dia katakan kepada siapapun, terkecuali cinta dalam diamnya itu datang menghampirinya. Bangun dari mimpinya dan menata diri.
Membalik ke belakang dengan tabah, melihat kondisi suami yang membuatnya khawatir bercampur cemas. Berlari bimbang ingin memencet tombol perekam atau turun ke bawah.
Bolak balik bingung, takut kalau suaminya tiba-tiba terbangun dan histeris melihat tangannya yang telah berganti perban.
"Sebaiknya aku turun saja," gumamnya melihat jam yang tergantung. Teringat kalau suaminya harus makan dan minum obat.
Menuruni anak tangga dan masuk ke dapur dengan tenang. "Bi, apa Pak Altan sudah selesai ?" Memanggil bi Benar yang serius mencuci handuk yang bekas mengompres.
"Ma-maaf, Nya! Saya gak lihat," jawab benar menghentikan cuciannya, berdiri merapikan diri.
Jilbab yang menutupi kepala pun tidak terlihat menempel di kepalanya. Benar, memang suka memakai jilbab, seperti nyonya mudanya. Akan tetapi, sedikit berbeda jilbab yang dia kenakan dengan jilbab sang nyonya, berbeda jauh, kalau jilbab nyonya mudanya adalah jilbab yang panjang sampai ke pinggang. Namun, dia jauh terbalik , suka memakai jilbab yang sebatas dada saja bahkan terkadang tidak.
Jikalau dia malas dia pasti melepasnya dengan ringan. Jikalau dia rajin dia akan memakainya sambil tidur.
"Apa Nyonya, ada perlu?" tanyanya khawatir melihat wajah majikannya itu. Diam sambil mengikuti bola mata majikannya berputar. "Ada hubungannya dengan Tuan, Nya?" Kembali bertanya sedikit panik sebab nyonya itu tidak menjawab.
__ADS_1
"Iya, Bi," jawabannya langsung yang membuat benar membelalak panik. "Saya lupa, Bi. Membilang sama pak Altan, balik lagi ke kamar tadi. Untuk menebus resep obat,' jawabnya, memegang resep.
"Ya. Ampun, Nya!" Benar pun panik dan meninggalkan cucian. "Sebentar Nya! Bibi panggil dulu!" Berlari kencang bercampur cemas takut kalau dia tidak bisa menemukan pak Altan lagi.
"Iya, Bi. Tolong agak cepat, ya Bi!" kata Dhyia melihat Benar berlari. Diam bercampur aduk memikirkan hal-hal yang menimpa dirinya.
Menghembuskan napas dan berdo'a di dalam hati pada Sang Khaliq agar diberi kemudahan dalam menjalaninya. Duduk tepat di samping teras yang terhubung dengan lokasi tempat memanah. Melihat dinding panah dengan lekat, andai aku seperti itu," katanya tersirat di dalam hati yang pabila anak panah di lepaskan langsung mengenai benda itu. Menunjuk tempat itu dengan kedua bola mata yang sayu dan bening.
"Nya! Ini Nya! Pak Altan," kata benar.
"Iya, Nya," sapanya dengan santun. " Nyonya memanggil saya. Ada apa Nya?" tanyanya.
"Pak, kita harus menebus obatnya mas Ilker," ucapnya.
"Nya, maaf! Kalau untuk itu, bukan saya yang tahu. Dari dulu! Kalau masalah obat. Itu pak Balin. Dia yang tahu, Nya. Dimana apoteknya," terang pak Altan.
Wanita itu pun segera ingin bertemu pak Balin menyuruh pelayannya untuk memanggilnya. "Kalau begitu di mana Pak Balin ?" tanya menatap kedua pelayannya.
"Sudah lama bekerja, tapi gak tau!" Pak Altan melirik jejak Benar, ngedumel di dalam hati, menunggui sang nyonya.
"Pak, terima kasih. Sekarang istirahatlah!" ucapnya merasa kasihan kepada pak Altan.
"Kalau begitu, Bapak permisi dulu." Lekas berpamitan meninggalkan sang majikan.
Dhyia pun menggembungkan kedua pipinya bahagia ke arah pak Altan yang menghilang sebab suaminya akan sembuh segera . Meninggalkan bangku yang didudukinya dan menyiapkan makan malam sang suami.
Menyiapkan ikan kesukaan sang suami yang tersimpan di dalam kulkas yang baru di beli oleh pak Balin. Hanya pak Balin lah yang paling tahu selera tuan mudanya. Sejak awal Dhyia masuk ke rumah Carya dia sudah mengetahui kalau pak Balin lah yang paling banyak mengetahui tentang suaminya.
Dia pun menjaga teflon yang sudah di atas kompor, agar ikan itu tidak gosong lalu membuat sambal kecap kesukaan lelaki itu yang tidak terlalu suka pedas. Sembari menunggu kedatangan Benar membawa pak Balin.
__ADS_1
"Nya! Ini Pak Balin," kata Benar dari belakang, mengayun tangan memanggil pak Balin mendekat.
" Mana, Bi?" Memutar badan tidak sabaran menyuruh pak Balin menebus obat. " Pak, saya mau minta tolong! Untuk menebus resep ini." Dia langsung menunjukkan resep. Hanya Bapak yang tau. Di mana menebusnya." Menyerahkan resep, di ikuti oleh Benar yang menyaksikannya.
Pak Balin langsung mengambilnya. "Kalau begitu, Bapak permisi dulu!" Meninggalkan nyonyanya dan mengantongi resep. Di ikuti Benar yang kepingin obat itu segera ada.
"Nya, apa Tuan sudah bangun?" tanya Benar menyelidiki.
"Tadi, sewaktu saya turun, Mas Ilker belum sadar, Bi. Mungkin akibat panasnya terlalu tinggi." Menyiapkan makanan sebelum suaminya terbangun.
Ikan pun sudah tertata rapi di dalam piring dengan aroma yang lezat. Ikan Bawal kesukaan sang suami pun telah siap dihidangkan beserta perlengkapan yang lainnya, terutama nasi putih.
Dari jauh, Benar tersenyum bahagia melihat wanita itu gembira. Sebilah pisau pun hampir terjatuh ke lantai mengenai kakinya.
"Augh! Untung saja!" Seketika dia tersadar dan menaruh pisau ke tempatnya.
Ilker pun terbangun dengan gelagapan. Terkejut dan linglung terheran melihat kondisinya yang tertutupi oleh selimut dan pakaian yang sudah berganti.
Refleks dia menyandarkan tubuhnya di heardboard, mendengar dengan tajam langkah kaki di luar. Melihat tangannya yang sudah di perban dengan rapi sambil melirik jemari yang menempel di pintu, menunduk berpura -pura seolah tidak mengetahui kalau ada yang masuk.
"Mas, kamu sudah bangun?" Dhyia tersenyum bahagia bertanya meski pertanyaannya tidak di jawab, di ikuti kedua tangannya memegang talam. Menghela napas kembali sabar melihat raut muka suaminya di dalam cermin.
Begitu miris sekali perlahan dia memutar badan mengkemas muka sedih di tengah perhatian yang ingin dia berikan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...