
Rumah kediaman Ziya Yilzid pun terlihat dari jauh. Pagar rumah yang minimalis itu menutupi halaman langsung ditelekson oleh Ilker.
"Iya, sabar tuan!" teriak sang penjaga berlari mengambil kunci dan membuka pagar.
Mobil mewah milik Ilker pun masuk menembus halaman rumah Yilzid yang lebarnya setengah dari halaman rumah milik Ilker. Rumah yang minimalis bertingkat dua itu sudah terbuka menyambut mereka.
"Dudu, kita sudah sampai," kata Ilker berbisik pelan di telinga sang kekasih yang membuatnya tidak bisa move on. Menatap hangat pujaan hati. Ilker yang sudah pernah mengatakan kalau dia adalah pria yang sudah kecanduan terhadap kekasih hatinya itu belum bisa melepaskan pandangannya. Sekali pun demikian yang yang dia katakan, seorang Ilker yang berwibawa dan bermartabat tidak pernah melakukan hal yang memalukan, apalagi melakukan dosa besar. Itulah yang diajarkan oleh ibu Afsheen terhadap putra semata wayangnya menjaga kehormatan dari setiap wanita yang ditemuinya, termasuk Ziya Yilzid sendiri.
"Kamu pasti capek?! Capek memikirkan dirimu yang tidak ada kepastian," gumam Ilker menatap Yilzid dan menggeser tubuhnya tanpa sadar. Nyenyak sekali Yilzid tidur hingga akhirnya, memaksa Ilker untuk menggendongnya.
Rumah yang besarnya hampir sama dengan kediaman Carya pun telah dimasuki Ilker melewati dua orang pelayan yang membuka pintu yang terbuat dari papan yang mahal dan tinggi.
Berjalan kencang menaikki anak tangga yang hampir sama, seperti di kediaman Carya. Tanpa disadari olehnya ternyata salah satu pelayan rumah Yilzid mengikutinya dari belakang.
"Akan saya bantu, Tuan," tawarnya, melangkah ke depan membuka pintu yang membuat Ilker terkejut. Pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun itu yang sangat di percaya oleh orang tua Yilzid untuk mengawasi anaknya sekarang sudah berada di kediaman Gohan Hakan.
"Silakan masuk, Tuan!" sambut sang pelayan dengan hormat. Membuka pintu kamar dan mempersilakan masuk. Berdiri memperhatikan Ilker yang meletakkan Yilzid di atas tempat tidur.
Tempat tidur yang empuk dan berharga mahal itu dihampirinya dan meletakkan Yilzid dengan hati-hati. Lalu menarik bad cover yang lembut dan tebal menutupi tubuh sang pujaan hati.
Berdiri di depan pintu sambil memegang knof pintu dengan tangan sebelah kanan pelayan itu terus memperhatikan mereka berdua sehingga membuat Ilker risih dan sedikit curiga. Dia belum juga pergi dari sini, pikir Ilker melirik dari ekor mata. "Sepertinya, dia mengawasiku," batinnya mencurigai.
__ADS_1
"Bi, Yilzid tadi kelelahan. Jadi, dia ketiduran di mobil," kata Ilker menjelaskan, menatap ke belakang melihat Yilzid yang masih tidur akibat lelah memikirkan cintanya.
"Terima kasih, Tuan. Telah mau mengantarkan, Nona kami sampai ke rumah," ucap sang pelayan menunduk. Berdiri menatap lurus Yilzid.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Ilker yang selalu menjaga Yilzid, keluar kamar dan berhenti memutar badan kembali melihat Yilzid dari celah pintu yang mau ditutup. Ilker sangat sedih melihat Yilzid yang frustrasi. Perlahan memutar badan dan langsung menuruni anak tangga.
Pintu kamar pun ditutup oleh penjaga yang dibayar secara diam-diam oleh ayahnya yang bernama Gohan Hakan seorang mapia kelas kakap yang sangat mengkhawatirkan nyawa putrinya terancam, apalagi ayahnya tahu kalau Yilzid menjalin hubungan dengan Ilker, anak dari sahabatnya Ajnur Barian Carya. Sahabat yang pernah dia hianati dan dia hancurkan salah satu stasiun TV-nya. Inilah yang membuatnya selalu waspada terhadap Ilker.
"Nona, lain kali kalau ada apa-apa beritahu kami," gumam pengawal. Membuka high heels dan menatap waja majikannya sekilas.
Di tempat yang lain, di luar kamar Ilker yang sedang menuruni anak tangga tidak sengaja melihat foto keluarga Yilzid beserta dengan Gohan Hakan yang membuat Ilker berhenti dan menatapnya dalam, seolah dia tidak asing dengan foto lelaki tua itu. Mengerutkan kening untuk lebih mengingatnya. "Aagh, sudahlah mungkin aku salah orang," gumamnya menepis. Melanjutkan langkah kembali dengan kencang.
"Selamat siang, Tuan," sambut penjaga pintu.
Di rumah Carya, Dhiya yang tadi gelisah karena Ilker belum juga pulang kembali bertanya pada Benar. "Benar!" teriak Dhiya dengan pakaian tertutupnya menuruni anak tangga yang besar. "Benar!" Dhiya pun berteriak lagi berjalan ke dapur.
"Iya, Nya!" teriak Benar menyahut dari luar. Dhiya yang selalu baik dan santun itu menghampiri Benar. "Bi, apa Tuan sudah ada kabar?" tanya Dhyia sopan.
"Aduh, Nya. Kenapa sih dari tadi menanyai, Tuan terus?" kata Benar di dalam hati. "Engga ada, Nya," jawab Benar singkat yang lelah melihat nyonyanya.
"Hmm!" Dhyia bergumam mengangguk.
__ADS_1
Benar yang melipat pakaian yang ingin disetrika menatap majikannya dengan kasihan. "Nya, Nya. Andai saja Tuan belum punya pacar. Mungkin dia akan sayang padamu," sesal Benar di benaknya sedih. Menatap kembali baju yang dia lipat.
Mobil mewah sang pemilik stasiun TV ternama itu melintasi jalan yang tidak asing lagi . Jalan yang dulu pernah dia lalui. Diskotik itulah tempatnya saat ini. Kisah lampau masa lalunya dia datangi lagi hanya untuk menenangkan diri. Sebuah mobil mewah pun langsung berhenti di parkiran.
Seorang Ilker yang pemilik stasiun TV ternama keluar dari dalam mobil dengan memakai topi untuk menutupi wajahnya serta jaket kulit asli berwarna hitam memasuki diskotik sambil menunduk.
"Bi, aku takut, kalau Tuan kenapa-kenapa di luar!" kata Dhyia gelisah.
"Nya, sebaiknya kita berdo'a saja semoga, Tuan tidak apa-apa," sambung Benar menyusun semua pakai ke dalam keranjang.
"Bibi, benar," sahut Dhyia berjalan meninggalkan Benar. Masuk ke dalam kamarnya sambil mengambil wudhu dan sholat sunnah demi keselamatan sang suami. "Biar pun, Mas Ilker masih membenciku. Tapi aku harus tetap mendo'akannya agar dia baik-baik saja di luar," gumam Dhyia memakai mukena.
Di lantai bawah tepat di ruangan setrika Benar tersenyum kagum melihat Dhiya yang masih mengkhawatirkan tuan mudanya. "Tuan muda beruntung memiliki istri, seperti Nyonya. Yang penyabar, penyayang dan tidak pernah marah kepada para pekerja." Benar terus berkata di dalam hati.
Diskotik yang tidak pernah sunyi dan selalu dikunjungi oleh kaum adam dan kaum hawa itu telah dia masuki dengan mulus. Suara musik yang berisik pun membuat telinganya mau pecah. "Tempat ini sebenarnya bukanlah tempatku lagi," gerutunya di dalam hati dengan jijik. "Tapi pikiranku lagi kacau sekarang," lanjutnya sambil menduduki bangku yang di atasnya banyak terletak jenis minuman keras.
Sedangkan Yilzid yang masih tidur terus di jaga oleh pengawal suruhan Gohan Hakan. "Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya sang pengawal, melihat nonanya menggeliat. "Kamu siapa? Aku baik-baik saja," terangnya. Melihat sekeliling. "Ilker di mana?" tanya Yilzid panik.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...