Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Di cafe


__ADS_3

Ilker sedikit terkejut. "Engga Dudu," jawab Ilker menoleh Yilzid.


Yilzid yang berjalan mengikuti langkah kaki Ilker tidak percaya. Dia yang sudah memahami tentang pria yang berjalan bersamanya selama lima tahun tidak mungkin rasanya, kalau Yilzid tidak memahaminya dengan dalam.


Ilker pun telah sampai di meja yang sering mereka duduki berdua ketika makan di cafe milik temannya itu. Cafe red black adalah cafe langganan mereka berdua ketika berkenalan di sebuah kerjaan yang sama.


"Hai, Ilker! Sudah lama kita tidak berjumpa," sapa temannya, pemilik cafe yang bernama Asil.


"Hai, juga! Apa kabar?" tanya Ilker. "Aku lagi sibuk," lanjutnya menarik kursi dan mempersilahkan Yilzid duduk. "Duduklah!" perintah Ilker tersenyum yang masih berjaga dari temannya itu.


"Aku kabar baik," jawab Asil langsung melihat hubungan mereka yang terlihat sedikit aneh. Memutar badan dan duduk di meja yang sering menjadi tempat istirahat para karyawan.


Ruangan VVIP yang menjadi kenyamanan bagi mereka berdua sementara diduduki oleh Yilzid sendiri. Ilker yang tadi bertemu dengan temannya pergi menghampirinya sebentar.


" Masih sama dia?" tanya Asil. Duduk di meja tempat menghilangkan lelah sejenak.


"Iya," jawab Ilker singkat. Menutupi kegelisahannya, bingung melihat perubahan dirinya yang tidak dia ketahui.


"Aku dengar kabar. Katanya, "kau sudah menikah?" tanya Asil meneguk secangkir kopi.


Uhuk ! Uhuk! Uhuk!


Ilker langsung tersedak. Mukanya memerah menahan rasa sakit di tenggorokan. "Kau tau dari mana? Aku gak pernah memberi tahumu," kata Ilker bertanya sambil meletakkan cangkir dan sesekali melirik Yilzid dengan gelisah.


Asil yang memahaminya. "Pergilah temui dia! Mungkin dia juga sudah gelisah?!" ucap Asil memukul pundak temannya itu.


"Kau benar. Aku harus menemuinya. Sebelum dia marah," kata Ilker bangun dari kursi dan meninggalkan kopinya yang belum habis.


"Hahaha!" Asil seketika tertawa karena tiba-tiba dia teringat masa lalu Ilker yang berputus asa membujuk Yilzid kalau sudah merajuk.


"Sayang! Apa urusannya sudah selesai?" tanya Yilzid yang selalu pengertian, terkejut melihat Ilker.

__ADS_1


"Sudah. Apa makanannya sudah di pesan?" tanya Ilker yang duduk di samping kekasihnya. Merasa tidak enak hati karena telah melukainya.


"Sayang! Apa kamu lupa tentang aku?" tanya Yilzid yang ingin mengorek perubahan dari Ilker.


"Dudu sayang! Aku adalah kekasihmu. Masa aku lupa," jawab Ilker mengatur dirinya agar terlihat tenang di depan Yilzid.


Yilzid langsung tersenyum melihat sikap Ilker yang sudah agak baikan. "Makanan kesukaan kamu sudah aku pesan, Sayang. Sebentar lagi akan datang," tersenyum manis menggoda.


"Aku sudah bisa menebaknya, kalau kau selalu perhatian," balas Ilker sambil memegang tangan Yilzid.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberi perhatian dan kasih sayangmu," puji Yilzid menyandarkan tubuhnya di samping Ilker yang takut kehilangan akibat perubahan yang terjadi.


"Permisi! Makanannya sudah datang," kata sang pelayan meletakkan makanan favorit di atas meja. Brokoli lada hitam adalah menu favorit Ilker yang jarang diketahui siapa pun terutama Ibu Afsheen dan jus berry adalah jus favorit Ilker juga.


Selama ibu Afsheen sakit, dia tidak pernah makan di rumah, di tambah lagi dulu Ilker yang suka bepergian keluar kota maupun keluar negeri. Karena inilah orang yang ada di kediaman Carya tidak mengetahui semuanya tentang Ilker, termasuk Dhiya.


"Terima kasih, Mbak," ucap Yilzid ramah duduk dengan rapi. Menatap sang pelayan dengan malu.


"Silakan dinikmati hidangannya!" kata pelayan, meninggalkan mereka berdua.


"Hm," jawab Ilker singkat. Memasukkan brokoli lada hitam ke dalam mulut.


"Tadi pagi kamu tidak sarapan? Apa istrimu tidak memasak, Sayang?" tanya Yilzid dengan nada suara berat. Memotong daging sedikit pelan sambil melihat Ilker sekilas.


Ilker langsung menghentikan tangannya yang akan mengambil brokoli. Sedih sekali rasa Ilker melihat Yilzid yang menanyakan itu untuk pertama kalinya. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya, seperti itu?" Ilker menatap Yilzid dengan rasa bersalah bercampur sesal meletakkan sendok.


"Engga apa-apa, Sayang. Aku cuma sedih aja mendengar kamu bilang, "Kalau tadi kamu kelaparan." Tatap Yilzid yang tidak pernah tahu apa yang terjadi. "Dulu! Semenjak kita bersama. Aku gak pernah dengar kamu bilang, "Kalau kamu itu lapar," katanya memegang tangan Ilker. "Kalau kamu tidak menerima pernikahan itu. Kenapa kamu tidak melepaskannya? Dan menikah dengan 'ku saja," kata Yilzid yang membuat Ilker tersedak.


Uhuk ! Uhuk! Uhuk !


Ilker langsung menyeruput jusnya. Tubuhnya bagaikan tersambar petir dan membuatnya sesak. Meletakkan gelas dengan kedua bola mata melebar.

__ADS_1


"Menceraikan Dhiya?" tanya Ilker di dalam hati. Melirik kekasihnya yang berharap besar atas itu.


Masalah pernikahan, Ilker tidak pernah sedikit pun terbersit di hati untuk melepaskan Dhyia meski pernikahan mereka, seperti di neraka. Bibir Ilker hanya tertutup rapat. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya untuk menjawab pertanyaan Yilzid.


"Kenapa Sayang? Apa ada yang salah?" tanya Yilzid yang mencoba ingin merasuki pikiran Ilker.


Ilker langsung menutup sendoknya. Yilzid sangat keterlaluan gara-gara dia Ilker jadi, kehilangan selera makan. Dia pun merasa aneh melihat dirinya yang mendadak resah. Dia yang dulu dengan enteng ingin berpisah. Namun, malah sekarang menjadi dilema.


"Sayang! Apa tidak ada pembahasan yang lain?" tanya Ilker kembali mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah! Aku akan menikmati makanan ini ," ucap Yilzid memberi jawaban yang tidak sepadan. Takut melihat pertanyaan Ilker yang dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


Menurut Ilker masalah pernikahannya dengan Dhiya Kharya hanya dialah yang tahu ke depannya. Berpisah atau tetap bertahan. Rumah tangga yang di bangun tanpa cinta itu membuat keduanya terbelenggu.


"Sayang! Sebaiknya kita bicarakan tentang kita saja," saran Ilker yang bingung melihat dirinya.


"Bicara tentang kita, Sayang?" tanya Yilzid meletakkan pisau. Menyeringai. "Kalau tentang kita. Apa yang mau di bahas?" tanya Yilzid memutarkan kembali pertanyaan pada Ilker.


Ilker semakin terjebak dengan pertanyaannya itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dia terlilit oleh masalah yang rumit.


Yilzid menghela napas . "Kamu tahu sayang. Dulu sebelum pernikahan! Kamu pernah bilang, "Kalau kamu akan melepaskan wanita itu," tutur Yilzid mengulangi yang diucapkan Ilker dulu.


Sontak Ilker semakin terhimpit oleh keduanya, antara cinta dan amanah sang ibu yang menyuruhnya untuk menjaga Dhiya.


Meski Ilker anak yang sangat cuek pada ibu Afsheen. Tapi dia tidak pernah bisa meninggalkan pesan yang dikatakan ibunya kepadanya. Itulah nilai baik dari diri Ilker.


"Sayang! Aku 'kan sudah pernah bilang, "Kalau aku akan selalu ada untukmu," kata Ilker yang berat untuk melepaskan Dhiya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2