
Kring ! Kring ! Kring !
Suara telepon Ilker pun tiba-tiba berbunyi. Ilker yang sudah bersiap untuk keluar menuju kediaman sang pujaan hati. Menghampiri tolet melihat panggilan yang masuk. Begitu terkejut dia melihat nama yang memanggilnya. Kedua bola matanya langsung membelalak bercampur senang karena tanpa harus merayu kekasihnya. Dia sudah menghubungi terlebih dahulu itu semakin mendapat angin segar untuk bisa masuk ke rumah Yilzid dengan aman, pikir Ilker.
"Kamu rindu ?" tanya Ilker menggoda sang kekasih dari balik telepon yang sengaja dia jepit di telinga sambil mengancing tangan kemejanya. "Ada niat ingin keluar?" tanyanya kembali yang dengan sengaja ingin memancingnya, melihat dirinya sendiri di depan cermin yang kesulitan mengancing tangan baju.
"Emang kamu bisa keluar? Bagaimana dengan istrimu?" tanya Yilzid dari balik telepon sedikit ragu dengan pertanyaan sang pujaan hati yang mulai menggodanya.
"Jangan hiraukan dia. Lupakan saja! Yang penting kita hari ini senang-senang, bagaimana?" usul Ilker, menggerutu di dalam hati kesal karena tangan bajunya belum juga terkancing.
Dhyia yang tiba-tiba masuk ingin mengambil sebuah buku yang sudah lama tidak dia pelajari, tiba-tiba melihat suaminya yang mulai pias. "Mas Ilker kenapa?" Berjalan gontai menoleh ke arah tolet yang membuatnya menganga dan takjub melihat kebiasaan suaminya belum juga berubah. Tersenyum dan tidak sengaja, dia melihat lelaki yang sudah menjadi teman hidupnya hampir dua tahun itu terlihat resah dan sebal. Dhyia yang selalu peka dan pengertian langsung menyeret kedua kaki mendekati suami yang tidak pernah menerimanya sebagai istri.
"Sini, Mas." Dhyia mengambil lengan baju dengan rasa takut dan sedikit berhati -hati lalu mengancingnya.
Ilker seketika membeku jantungnya berdegup dengan kencang melihat istrinya secara langsung dari dekat. Belum lagi aroma parfum yang harum dan menenangkan pikiran ketika mencium aromanya yang slow dan senada dengan kriterianya.
"Kenapa Mas, tidak mau minta tolong? Kalau Mas sungkan dengan 'ku. Mas, bisa minta tolong sama Benar atau Pak Altan," katanya secara halus dan lembut.
Telpon yang masih menyala dan bersuara tidak lagi diresponnya dengan serius. Dia hanya menatapi wajah sang istri yang selama ini selalu dia sakiti. Segores rasa bersalah terasa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
"Mas. Mas mau keluar, ya?" tanya Dhyia dengan lembut dan berhati-hati dari amukan sang suami yang bisa keluar kapan saja.
Ilker mematikan ponsel dan seketika berhenti berjalan. "Iya," jawabnya dengan datar, membelakangi Dhyia dan melanjutkan menuruni tangga.
"Hati-hati, ya Mas," kata Dhyia. Berdiri di depan pintu kamar melihat suami yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya, apalagi menyahutnya. Dhyia tersenyum di dalam hati sebab suaminya tadi sudah memberi ruang terhadap dirinya meski suatu saat bisa kembali memudar. Dia terus melihat suaminya yang tidak mau menoleh ke arahnya sedikit pun. Tiba-tiba dia mengehentikan langkahnya seketika dan kaki sebelah kanan pun terlihat mengayun di udara. Ilker terdiam, ini untuk pertama kalinya dia mendengar kata-kata kalau istrinya mengkhawatirkannya. Teriris rasanya hatinya atas perbuatannya selama ini.
Dhyia wanita yang paling sabar dan lembut itu tidak lagi tampak berdiri di depan pintu, apalagi berharap besar kepada sang suami. Dia seakan sudah ikhlas dan rela dengan perlakuan suami yang dinikahinya karena sebuah amanah. Meneruskan niatnya mengambil buku.
Kring ! Kring ! Kring !
Ponsel Ilker kembali berbunyi di atas tangga yang terdengar oleh telinga sang istri di dalam kamar. "Kenapa kamu lama?" tanya Yilzid dari balik telepon.
"Sebentar lagi akan sampai," jawab Ilker mematikan ponsel yang kesal dengan kancing tangan bajunya tadi. Menuruni anak tangga dengan kencang.
Berulang kali dia duduk dan menyadarkan tubuhnya di sofa. Membolak balik ponsel yang berada digenggaman. "Aku gak tau. Bagaimana kamu nanti bila bertemu dengan, Papaku?" Melihat foto lelaki yang sangat dia cintai yang tersimpan di dalam memori ponsel. "Semoga kamu tidak meninggalkan aku." Tatapnya lirih melihat foto mesra mereka berdua ketika liburan di pantai pasir putih.
Ilker mengendarai mobil dengan kencang menembus gerbang rumah yang telah terbuka lebar dan membelah jalanan sunyi yang banyak di tumbuhi pohon-pohon kecil maupun besar serta bunga-bunga yang berbaris rapi. "Ngomong-ngomong, apa aku tidak terburu nafsu ingin secepat itu tahu tentang orang itu?" Merasa takut kalau sang kekasih sedikit curiga dan akan mengawasi dirinya. "Ah, sudahlah. Semoga saja dia mengerti," harapnya dengan sangat besar.
Dhyia yang telah menata dirinya ke arah yang lebih baik, menghampiri sebuah lemari kecil tempat penyimpanan barang-barang miliknya. Membaca buku yang hampir usang. "Sudah lama ini tidak pernah kulihat lagi." Menatap buku yang tebal. Memutar badan dan duduk di atas kursi yang tidak jauh dari tempat tidur. "Mungkin aku tidak lupa." Membuka lembaran yang sudah tercoret dan mempelajari tentang desain baju yang sudah lama tertunda.
__ADS_1
Kring ! Kring ! Kring !
Suara ponsel kembali nyaring terdengar. "Siapa lagi ini?" tanya Ilker sebal karena telah mengganggu konsentrasinya. "Hah!" Mengeluh kesal dan meletakkan ponsel. "Apa dia pikir aku tidak akan datang? Aku pasti akan datang, sayang?!" Demi mewujudkan keinginannya untuk memastikan yang membuatnya sudah penasaran.
"Kenapa telponnya gak diangkat?" tanya Yilzid dengan penuh tanda tanya. Apakah dia itu sudah tidak ada rasa lagi terhadap 'ku. "Uh!" Melempar ponsel ke tempat tidur dengan kasar. "Awas aja, kalau sampai ini terjadi lagi," ancam Yilzid menatap lurus ke depan.
Kamar tamu yang luas dan besar sangat memanjakan diri sang pengawal dan bersandar di heardboard, membaca buku tentang bisnis asing dan membuka majalah yang lain yang dia temukan di atas meja. "Wow, aku jadi, ngiri dengan wanita ini." Melihat berita tentang seorang wanita yang sukses di usia muda. Terkagum sambil membuka lembaran berikutnya, melihat nama yang tertulis di bawah lembaran kertas tepatnya di sebelah ujung kiri, 'Ziya Yilzid '.
"Jadi, dia wanitanya." membuka lembaran berikutnya. "Pantesan saja dia banyak di gandrungi, pria," kata Burcu.
Ilker menekan tombol dengan kencang. Para penjaga gerbang langsung berhamburan dari pondok- pondok kecil yang sering mereka jadi, 'kan tempat ngerumpi. " Silakan masuk, Tuan," sapa sang pengawal.
Para penjaga gerbang pun melihat mobil mewah itu melaju begitu saja dan memasang kaca hitam. Melihat mobil Ilker yang masuk melintasi sebuah parkiran yang telah di sediakan oleh sang kekasih khusus untuknya.
"Sayang!"teriaknya senang dan berlari setelah melihat dari atas balkon. Kekasih hati yang tidak pernah terlupakan olehnya telah turun dari mobil. "Masih saja dia tetap sama." Memutar badan meninggalkan balkon.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..