
Perlahan kedua bola matanya yang tajam melirik ke tempat tidur. Dia pun melirik suaminya dengan diam-diam yang berjalan lurus tepat di belakangnya dengan penasaran, apa yang sedang dilakukannya di belakangnya. Memandanginya dengan lekat dari gerangan suaminya dengan serius, di ikuti oleh kedua bola matanya melihat sebuah paket besar berbentuk, seperti amplop di atas tempat tidur.
Dia pun perlahan mengulurkan tangannya mengambil amplop itu lalu membawanya ke ruangan kerja. Dhyia yang sedari tadi memperhatikan merasa curiga dan bertanya- tanya melihat sikap sang suami yang terlihat seakan mengetahui sesuatu.
"Mas, kamu sudah makan?" Memberanikan diri memancing sang suami, bertanya . Melihat punggung suaminya dengan deg-degan.
"Makanlah sendiri. Aku tidak lapar," jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah sang istri.
Ilker sangat penasaran dan cemas ketika melihat amplop yang dia pegang. Dia terus melirik amplop yang di pegangnya di tangan sebelah kirinya dengan erat dan rasa penasaran. Dia pun terus memegangnya dengan erat, agar amplop itu tidak terjatuh dari tangannya kemudian membuka pintu dengan tangan sebelah kanannya.
"Mas, aku tidak tahu itu dari siapa," kata Dhyia dari belakang menghentikan langkah suaminya sebab sang suami tidak bertanya apapun tentang amplop itu.
Dia hanya diam saja. Berdiri di tengah pintu dan sedikit tubuhnya agak menempel ke daun pintu.
"Tadi, yang mengantarnya ke kamar adalah Bi Benar." Melanjutkan ucapannya yang setengah menggantung dengan berhati-hati dan pelan, meremas jemarinya menunduk.
Dia sangat adem ketika angin masuk mengibaskan jilbabnya. Pikirannya pun seketika merasa senang.
Lagi-lagi dia hanya diam saja, mendengarkan suara istrinya yang terasa berat itu. Menatap lurus tiang penyangga pintu. Ingin mendengarkan kata-kata istrinya selanjutnya.
"Setelah itu aku taruh di situ saja, Mas. Sampai saat ini aku belum membukanya. Aku hanya menaruhnya di situ. Agar Mas bisa segera melihatnya." Menyampaikan segala isi yang ada di dalam kepalanya dengan berhati-hati dari amarah suaminya yang tiba-tiba saja bisa mencuat. Namun, hari ini berbeda. Sebanyak apapun dia bicara, suami yang berdiri di depannya hanya diam saja sambil mendengarkannya dengan tenang.
"Mas!" panggilnya lagi dengan sedikit takut. Meremas jemarinya yang dingin itu dengan kuat. Tubuhnya kini terasa gemetar dan ingin terjerembab.
Ilker masih tetap diam membisu seribu bahasa, amplop cokelat masih digenggamnya dengan erat.
"...boleh tidak aku minta sesuatu." Membuka mulutnya kembali dengan nada suara getir, menelan ludah, takut dan menghembuskan napas dalam.
__ADS_1
Deg!
Ilker langsung gemetar. Jantungnya tiba-tiba memompa darah tidak beraturan. Tangannya sedikit dingin, kakinya lemas dan ingin terjerembab ke lantai perasaannya semakin tidak karuan, belakangan ini terhadap sang istri ketika mendengar suaranya. Namun, sayang sekali dia masih tetap diam membisu seribu bahasa melawan hal itu. Tidak sekali pun rasa itu dihiraukannya.
Dhyia juga di sisi lain sebenarnya sudah panik sebab suaminya sedari tadi hanya diam dan mematung. Dia tidak tahu suaminya itu sebenarnya mendengarkannya atau tidak. Namun, dia harus tetap memberanikan diri demi menepati janjinya kepada dirinya sendiri.
"... Mas, aku mau minta... ." Diam sambil menarik napas dalam. Menahan rasa takut yang menganak. "...boleh tidak, Mas?" Dia kembali bertanya yang membuat sang suami hampir hilang kesabaran. Menggigit geraham dengan kuat lalu ingin melepaskan suaranya ke arah sang istri yang plin plan.
Wanita itu pun ternyata sama juga. Dia kesal karena suaminya dari tadi hanya mendengar saja. Sesekali dia menggenggam ujung hijabnya kuat untuk melampiaskan kekesalannya terhadap sang suami. Menaikkan kedua sorot mata melihat punggung suaminya yang berdiri miring di depan pintu.
"...Aku mau minta asisten, Mas," katanya terbata, menarik napas dalam.
Ilker spontan terkejut lalu menghela napas. Pria yang ada di hadapannya itu sebenarnya ingin tertawa terbahak mendengar permintaan istrinya yang polos. Akan tetapi, rasa terkalahkan oleh kebenciannya terhadap sang istri. Kebutaan hati dan ambisiusnya akan cinta kini menjadikannya pria yang berhati batu. Cinta yang telah digantungkannya kepada pujaan hati, baginya bagaikan mata dewi yang membawa keselamatan.
"Sudah?Ada lagi?" tanyanya setelah melihat istrinya diam. Meninggalkan istrinya dan masuk ke dalam ruangan kerja begitu saja, membawa amplop yang masih berada di dalam genggamannya tanpa menoleh dan memberi jawaban atas permintaan istrinya lalu menutup pintu dengan sikap yang dingin.
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Terkadang ada yang datang hanya untuk sekedar singgah dan ada yang menetap hanya untuk menguji kesabaran, sampai di mana kau bisa mendayung perahumu.
Tersenyum tipis itulah yang dilakukannya sekarang. Berjalan keluar kamar sambil melihat pintu ruangan kerja suaminya.
"Bi, apa ada yang bisa aku makan?" tanya Dhyia menggembungkan kedua pipinya tersenyum menahan sedih.
"Eee, Nyonya." Benar langsung memutar badan setelah meletakkan sayur dan ikan.
"Ada, Nya. Tapi cuma ini," jawab Benar, merasa bahagia sekali karena nyonyanya sudah mau ke dapur. "Apa Nyonya lapar?"
"Mmm." Mengangguk. "Iya, Bi saya lapar," jawabnya, menarik kursi, duduk lalu menuangkan minum ke dalam gelas yang sudah di ambilnya.
__ADS_1
"Nya, makan yang banyak. Biar Nyonya sehat. Dan pusingnya biar hilang." Benar memutar badan meletakkan piring yang diambilnya. Benar begitu perhatian dengan Dhyia.
"Baik, Bi." Tersenyum menutupi hatinya. Sebesar apapun suaminya membencinya namun, dia masih punya orang yang sangat menyayanginya. Mengambil Nasi, sayur dan ikan. Bersyukur karena dia masih bisa di beri kekuatan oleh Sang Khalik untuk menghadapi pernikahannya.
"Nya, kalau saja, Nyonya Afsheen masih hidup." Benar begitu senang mengatakan itu. Menarik napas dalam. "Semua pasti, seperti kayak dulu?!" katanya. "Pasti Nyonya, akan selalu tertawa dan tiap hari pergi jalan-jalan keluar."
Sendok makan yang ingin menyentuh bibirnya pun sentak ingin terjatuh. Nasi yang masih berada di dalam mulut begitu berat terasa ingin mengunyahnya. Dia sangat sedih ketika kenangan itu terucap oleh Benar.
Benar pun semakin senang bercerita. "Meski jalan-jalan keluar, cuma sebentar, Nya. Itu tidak membuat, Nyonya Afsheen sedih. Dia malah senang karena sudah bisa membawa Nyonya keluar."
"Tante memang tidak suka, Bi di dalam rumah terus. Apalagi dulu, 'kan Mas Ilker di luar negeri." Berharap hal itu bisa kembali lagi dan merubah segalanya, seperti semula.
Benar kemudian menghembuskan napas kasar, perihatin melihat yang sudah terjadi kenapa? Seperti saat ini. Melihat majikannya makan dengan hati yang murung. Melipat kain lap lalu di susunnya dengan rapi. Di bawah counter table.
Dhyia yang seorang diri duduk mengunyah nasi hingga habis. Berharap yang tidak pasti. Sudah tentu menyakitkan bahkan akan menambah luka yang teramat dalam. Menahan air mata demi harapan yang kosong.
"Nyonya, memang benar, ya! Kalau sesekali kita harus keluar," gumam Benar teringat kata-kata nyonyanya yang sudah tiada, melanjutkan berbenahnya.
"Bi, kalau begitu. Sesekali Bibi keluar. Lihat di luar sana, mana tau Bibi dapat angin segar supaya tidak jenuh," lanjutnya mengunyah makanan yang tinggal terakhir di dalam mulut.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1