
"Drrrtttt" ponsel Mahen berdering.
Mahen saat ini sedang bermain dengan geng the king dan kelas 12 lainnya. Beberapa orang terlihat meneriaki mereka.
Bagaimana tidak, kumpulan laki-laki terganteng di sekolah itu berkumpul jadi satu dalam satu lapangan basket.
"Ayo ayang, semangat" teriak Sindy di antara kerumunan.
"Dih, alay banget" ucap Nadin sambil memandang sindy kesal. Dia masih belum terima jika kakaknya bersama dengan sindy. Lebih tepatnya sampai kapanpun dia tidak akan terima.
Nadin kembali lagi fokus melihat ke arah lapangan basket. Pandangannya tertuju pada satu laki-laki yang saat ini tengah berlari mengejar bola.
"Ganteng" batinnya.
"astaga, Ada apa dengan diriku. Sadar Nad sadar" ucapnya lagi, menyesali ucapan spontannya tadi.
Sedangkan saat ini, Hp Mahen terus berbunyi. Dia tidak menyadarinya karena sibuk mencari peluang untuk merebut bola.
"Ayo kak Mahen. Kak Mahen! Kak Mahen!" teriak dari beberapa siswi perempuan yang diketahui adalah kelas 10 dan 11.
Disisi lain, Clarissa saat ini sangat kesal sekali. Beberapa kali dia menelpon Mahen tidak kunjung ada jawaban.
"Kemana sih dia" ucap Clarissa sambil memegang hpnya erat. Rasanya dia ingin membanting hpnya sekarang.
"Kenapa bisa pecah sih pak" ucap Clarissa sambil melihat ban mobilnya.
Sehabis pulang sekolah tadi, dia langsung berganti baju dan langsung pergi lagi, dia menyetir sendiri karena pak Tono harus menjemput Kirana. Tidak ada yang tahu dia menyetir mobil sendiri, kalau ditahu papa dan Mama nya pasti akan di marah.
__ADS_1
Dan sekarang, ban mobilnya bocor. Kualat memang.
Hari ini Mahen sudah mengabarinya bahwa dia akan bermain basket. Clarissa ingin pergi menonton. Tapi di tengah jalan, ban motornya pecah.
"Tidak mungkin kan aku menelpon papa" batinnya.
"Bisa kena semprot aku" ucapnya lagi.
"Lalu bagaimana sekarang. Kak Mahen saja tidak bisa dihubungi" ucap Clarissa lagi.
Lama dia berdiam sendiri di mobil. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depannya.
Pemiliknya turun dari motor dan langsung membuka helmnya.
"Kak Lee" ucap Clarissa saat melihat orang yang cukup dia kenal berjalan ke arahnya.
"Kenapa?" Tanya Lee pada Clarissa.
Clarissa langsung menjelaskan semuanya, bahwa ban mobilnya pecah dan dia juga harus menonton pertandingan basket.
"Mau kakak antar kesana. Kebetulan kakak juga satu arah" ucap nya.
"Hmm, nggak deh kak. Mobilnya ini nanti gimana? Aku takut papa marah" ucap Clarissa.
"Tenang saja. Sekarang kakak telpon bengkel kenalan kakak. Nanti kakak kasi alamatnya jadi kamu tinggal ambil kalau udah jadi" ucap Lee lagi.
Clarissa terlihat menimbang-nimbang. Dia tidak terlalu dekat dengan Lee. Dia hanya tahu Lee adalah temen Mark. Apa aman jika dia bersama dengannya.
__ADS_1
"Tenang, aku nggak akan apa-apain kamu kok
Ayo. Keburu pertandingannya selesai loh" ucap Lee lagi.
Clarissa pun mengiyakan. Dia pun naik ke motor Lee.
"Pegangan Ca" ucap Lee.
Clarissa tentunya tidak berani berpegangan erat. Dia takut Mahen marah nantinya. Jadi dia hanya bisa memegang jaket Lee.
"Oke, berangkat ya" ucap Lee
Setelah itu Lee melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Jadi Clarissa merasa sedikit aman karena berpegangan hanya pada jaket Lee.
Karena Lee melajukan motornya sedikit lambat, jadi mereka juga semakin lama sampai tujuan.
"Yah, udah selesai" ucap Clarissa saat melihat beberapa orang keluar dari gerbang sekolah.
"Maaf ya Ca. Aku takut kamu kenapa-kenapa tadi, makanya aku tidak berani ngebut. Kamu pegangannya di jaket aku sih" ucap Lee lagi.
"Nggak apa-apa kok kak. Nanti kabarin ya kalau mobilnya udah diperbaiki. Oya, makasi juga kak atas tumpangannya" ucap Clarissa.
Lee hanya mengangguk. Dia pun izin pamit.
"Hati-hati kak" ucap Clarissa sambil melambaikan tangannya.
Clarissa pun langsung berjalan menuju ke dalam sekolah. Namun baru beberapa langkah. Dia melihat seseorang di depan gerbang tengah menatapnya.
__ADS_1
-Bersambung-