
Setelah keluar dari kelas Clarissa, Bryan tidak henti-hentinya tersenyum sambil mengelap keringat yang ada di wajahnya.
Tidak sia-sia dia berlari dari kantin ke kelas Clarissa hanya agar tidak telat.
Dia bersenandung ria sambil melempar-lempar sapu tangan itu di udara.
"Hey, kau. Kau tidak masuk kelas?" teriak pak Anton pada Bryan.
Bryan yang saat itu sedang dalam keadaan mood baik langsung saja mencium tangan pak Anton.
"Pagi pak. Ini mau masuk" ucap Bryan sambil tersenyum pada pak Anton.
Pak Anton yang pertama kalinya mendapat perlakuan seperti itu oleh Bryan langsung saja kaget.
Seorang Bryan, salah satu anak elit yang jarang sekali tersenyum dan selalu bersikap dingin ini mencium tangan guru dan tersenyum sangat manis.
"Ini di luar nalar" batin pak Anton.
"Kau tidak sakit kan?" Tanya Pak Anton pada Bryan.
"Tidak pak, saya sehat wal afiat. Saya masuk dulu ya pak Anton" ucap Bryan sambil tersenyum.
Pak Anton hanya mengangguk sambil memasang wajah tidak percaya.
__ADS_1
"Sudahlah" ucap Pak Anton mencoba untuk tidak mengambil pusing perubahan sikap muridnya itu.
Sesampainya Bryan di kelas, dia langsung bertemu dengan Alex, Nathan dan Mahen.
Bryan yang melihat Mahen di sana saat itu juga ekspresi nya langsung berubah.
Ingatan bahwa Mahen menjemput Clarissa tadi pagi masih membuatnya sangat kesal. Tanpa banyak bicara dia langsung saja duduk di samping Nathan dalam diam.
Mahen yang duduk di depan Bryan memilih diam dan tidak peduli. Berbeda dengan Alex dan Nathan yang langsung melihat ke arah Bryan.
"Kau habis dari mana?" Tanya Nathan pada Bryan.
"Habis nganterin ayang sarapan" ucap Bryan.
"Hey, kau sakit?" Tanya Alex sambil meletakkan tangannya di jidat Bryan.
"Tapi tidak panas. kenapa kamu jadi sealay ini? Dan siapa yang kau maksud ayang itu? ihhh mengucapkannya saja aku geli" tambah Alex lagi yang tentu saja membuat Nathan langsung tertawa.
"Aku masih sehat kali. siapa lagi kalau bukan Clarissa" ucap Bryan sambil tersenyum karena mengingat kejadian tadi.
Mendengar nama Clarissa disebut. Mahen langsung memasang telinganya baik-baik.
"Hey, astaga. Lihat senyummu itu, sejak kapan kau menjadi seperti ini. Cinta ternyata bisa merubah siapapun. ckck" ucap Alex sambil melihat ke sekelilingnya. Ini momen langka yang tentu saja langsung diabadikan secara diam-diam oleh beberapa teman wanita di kelasnya.
__ADS_1
"Udah, nggak usah senyum-senyum. Lebih baik wajahmu seperti ini. Lebih ganteng" ucap Nathan sambil menekan pipi Bryan.
Dia sungguh tidak rela wajah temannya ini menjadi bahan haluan para wanita-wanita itu.
"Ishh. Kau ini" kesal Bryan sambil menepis tangan Nathan.
"Sapu tangan siapa itu?" Tanya Alex saat melihat sebuah kain digenggam erat oleh Bryan.
"Punya Clarissa" ucap Bryan kemudian memasukkan sapu tangan itu ke kantung celana nya.
Mendengar itu, Mahen langsung mengepal tangannya erat-erat. Namun dia mencoba menahan diri.
"Bagaimana bisa?" Tanya Alex sambil melihat perubahan ekspresi Mahen.
"Tadi dia memberikannya padaku saat dia melihatku berkeringat. Seperti dia mulai menyukaiku" ucap Bryan dengan penuh penekanan agar Mahen mendengarnya.
Emosi Mahen semakin memuncak. Namun dia berusaha keras untuk menahannya. Hingga pak Anton terlihat masuk ke kelas. Mereka pun diam. Alex langsung merubah posisi duduknya.
Mahen langsung bangun dan meminta izin untuk ke toilet. Dia sungguh tidak tahan untuk meluapkan emosinya.
Dia juga bingung kenapa dia begitu emosi saat mendengar cerita Bryan tadi.
"Ini tidak bisa aku biarkan" ucap Mahen sambil melihat pantulan dirinya di cermin yang sudah dengan wajah yang sudah basah oleh air.
__ADS_1
-Bersambung-