Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Pertengkaran kecil


__ADS_3

"Ca, aku taruh di belakang ya tas mu" ucap Bryan.


"Makasi kak" ucap Clarissa.


Tanpa pikir panjang, Clarissa langsung saja masuk ke mobil. Dia mengambil posisi di paling depan.


Begitu pun Mahen. Dia langsung mengambil posisi kemudi.


"Hey" terdengar suara teriakan wanita dari luar. Siapa lagi kalau bukan Mia yang saat ini tengah mengedor kaca mobil.


Tanpa banyak bicara, Clarissa langsung membuka kaca mobil dan melihat Mia dengan jengah.


"Keluar, aku disana" ucap Mia tidak terbantahkan.


Clarissa akui, wanita di depannya ini sangatlah cantik. Namun terlalu banyak make up sehingga membuat wajah nya terlihat lebih dewasa dari usianya.


"Terserah aku lah kak. Ini bukan mobil nya kakak kan. Yang punya mobil juga tidak bicara apa-apa tuh" ucap Clarissa sambil melihat Mahen yang saat ini hanya fokus melihat ke depan.


"Maheennnn" rengek Mia. Namun Mahen hanya diam saja.


Bryan pun naik di kursi belakang. Dia tidak banyak bicara langsung duduk dan menutup pintu.


"Naik, atau kak Mia mau ditinggal" ucap Clarissa yang langsung membuat Mia semakin kesal.

__ADS_1


Jadi mau tidak mau dia mengambil kursi belakang.


"Awas kau" ucap Mia sambil mengepal tangannya keras.


Clarissa pun memilih menutup matanya. Rasanya dia sangat ngantuk sekarang. Mungkin bisa dibilang dia tidak tidur sama sekali semalam. Cuma 1 jam, bahkan kurang.


Melihat Clarissa yang hendak tertidur. Mahen langsung berinisiatif memasangkan seatbelt pada Clarissa.


Namun baru saja ingin bergerak. Clarissa langsung membuka matanya dan memasangnya sendiri. Kemudian tertidur lagi.


"Kak, nanti kalau sudah sampai bangunin Caca ya" ucap Clarissa dengan mata yang sudah terpejam.


Tidak ada sautan dari samping. Hingga Clarissa pun terlelap.


Berbeda halnya dengan mobil di depannya.


"Kak Alex bisa diam nggak sih" protes Nadin.


"Lu tuh yang diem. Ngapain juga sih gw harus satu mobil sama lu. Males banget" ucap Alex. Nadin tidak mau kalah.


"Hey, siapa juga yang mau sama kakak. Duduk sampingan kayak gini saja udah males banget. Kenapa kakak nggak yang nyetir saja sih sana. Biar duduk sebelahan sama nenek lampir itu" ucap Nadin sambil menunjuk Sindi yang saat ini sedang bergelayut manja pada Nathan.


"Hey, siapa yang kau bilang nenek lampir" tanya Sindi kemudian melihat ke belakang.

__ADS_1


"Yang merasa saja" ucap Nadin.


"Sayangggg, coba lihat. Dia bilang aku nenek lampir" ucap Sindi merajuk.


"Emang kamu merasa?" Tanya Nathan yang membuat Nadin langsung tertawa.


"Haha, ternyata nyadar juga si nenek lampir" ucap Nadin.


"Hey, bisa diam nggak sih. Lu itu sebagai adik kelas nggak ada sopan-sopannya sama senior" ucap Sindi.


"Idih, kakak itu yang harus baik-baikin aku. Kalau mau sama kakakku harus izin aku dulu lah" ucap Nadin.


Sindi diam saja. Dia membenarkan apa yang Nadin katakan. Tapi dia sangat gengsi untuk melakukannya.


"Terus kalau mau sama kamu. Harus izin ke siapa?" Tanya Alex tiba-tiba. Hal itu sontak membuat semua orang disana kaget.


Begitu pun dengan Nadin yang saat ini langsung terdiam.


"Hmmmm. A-apan sih kak" ucap Nadin salting.


"Idih bocah. Salting. Jangan bilang, lu baru pertama diginiin sama cowok?" Tanya Alex yang membuat wajah Nadin langsung berubah menjadi sangat kesal.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2