Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Luka


__ADS_3

Seseorang tiba-tiba menarik tangan Clarissa, kemudian membanting tubuhnya ke dinding dengan keras.


"Aw" ringisnya saat tubuhnya membentur dinding dengan keras.


"Kau" ucap Clarissa terhenti karena tangan Sindi langsung membungkam mulut Clarissa.


"Hey anak kecil, aku sudah memperingatkan mu beberapa kali untuk tidak mendekati Mahen. Tapi, huhh. Apa yang aku liat tadi" ucap Sindi sambil menatap Clarissa kesal.


"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Kak Mahen. Aku berani jamin kak. Jadi lepaskan aku. Kau kekanakan sekali" ucap Clarissa.


Sebenarnya bisa saja dia mengalahkan Sindi CS sekarang, namun dia sadar bahwa dia harus menyembunyikan kemampuannya. Beberapa hari kemarin dia sempat lupa tentang janjinya untuk tidak show up, dia terlalu terbawa emosi hingga memperlihatkan kemampuannya dan membuat beberapa orang sering memperhatikannya sejak hari itu.


"Plak" satu tamparan berhasil mendarat di pipi Clarissa.


"Kau pikir aku bodoh huh. Aku jelas-jelas tadi melihatmu menghampirinya di roof top. Dan tadi, di foto itu kau berciuman dengannya. Cihhh. Tidak tahu malu" ucap Sindi.


"Sabar Ca Sabar, menghadapi cewek jadi-jadian kayak gini harus ekstra sabar" batin Clarissa dan memilih untuk diam tanpa berniat membalas perkataan Sindi.


"Hey kenapa kau diam saja, apa kau bisu?" Tanya Sindi sambil menarik kerah baju Clarissa.

__ADS_1


"Malas banget aku meladeni perempuan jadi-jadian kayak kamu" ucap Clarissa kemudian menatap kedua teman Sindi yang saat ini sedang memegang tangannya dikiri dan kanan.


Clarissa menatapnya satu persatu dengan tatapan yang mematikan.


"Lepaskan aku, atau kalian akan tahu akibatnya" ucap Clarissa, namun keduanya tidak bergeming, karena Sindi juga saat ini menatap mereka dengan tidak kalah tajamnya.


"Hey kau anak kecil, dimana sopan santunmu kepada kakak kelasmu huh" kesal Sindi. Kemudian kembali memberi tamparan keras pada wajah Clarissa hingga membuat sudut bibirnya berdarah.


"Sial" batin Clarissa.


"Astaga, kak mahen" ucap Clarissa tiba-tiba, hingga membuat mereka langsung menatap kearah Clarissa melihat.


"Aw" ucap kedua anggota Sindi, karena Clarissa langsung memelintir tangan keduanya saat lengah.


"Bruk" tubuh kedua temannya langsung menimpa Sindi, hingga membuat ketiganya tersungkur di lantai.


"Makanya, jangan coba-coba melawan aku kak. Btw, ini belum seberapa daripada apa yang kau lakukan padaku" ucap Clarissa kemudian menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Dia pun lagi-lagi meninggalkan Sindi yang saat ini tengah mengumpat kepadanya.

__ADS_1


"Dasar Mak lampir" ucap Clarissa dalam hati.


Setelah berperang sengit dengan kakak kelasnya, dia langsung menuju kelasnya. Beberapa orang yang dilaluinya sama seperti tadi pagi, melihatnya dengan tatapan yang Clarissa sangat malas untuk menjelaskan.


Dia memilih untuk tidak peduli, bagaimanapun apa yang mereka pikirkan tidak benar. Jadi untuk apa pusing-pusing overthingking memikirkan orang-orang yang bahkan belum tentu memikirkan perasaannya.


Manusia memang seperti itu, hanya bisa menjudge. Padahal belum tentu dia lebih baik.


"Hey, darimana saja kau Ca" ucap Nadin yang berlari kearahnya. Di sudut sana, dia bisa melihat Bryan dan Nathan yang tengah menatapnya.


"Dan apa ini, pipimu kenapa Ca? kau habis berantam?" Tanya Nadin khawatir sambil memegang pipi Clarissa.


"Aku tidak apa-apa kok, kepentok tembok dikit tadi" ucap Clarissa sambil menahan tangan Nadin yang berusaha memegang pipinya.


"Astaga, bagaimana bisa kau seceroboh ini huh? ini harus segera diobati, ayo ke UKS dulu" ucap Nadin kemudian menarik tangan Clarissa. Namun Clarisa menahan tangan Nadin dan menggeleng.


"Aku harus ke Mading dulu. Foto-foto itu harus aku singkirkan secepatnya" ucap Clarissa.


"Tenang saja, foto itu udah aku bumi hanguskan. Jadi ayo cepat. Kita harus mengobati lukamu. Kau perempuan Ca. Luka diwajah itu bencana" ucap Nadin kemudian menarik tangan Clarissa. Kali ini Clarissa tidak menolak sama sekali. Mereka pun langsung menuju ke UKS.

__ADS_1


Bryan yang mendengar gadis disukainya terluka hanya diam saja. Dia hanya bisa menatap Clarissa yang sudah berjalan pergi tanpa berani menyapanya. Rasanya bibirnya kelu dan tidak mampu berkata apa-apa. Dia sangat khawatir, tapi rasa sakit karena foto tadi membuatnya tidak mampu melakukan apapun.


-Bersambung-


__ADS_2