
Sebening kristal mulai turun membasahi pipinya. Sedari tadi dia berusaha menahan air matanya untuk jatuh. Dan sekarang semuanya sudah keluar begitu saja.
Rasanya sakit sekali, dadanya terasa begitu sesak. Dia tidak mampu berkata-kata, dia hanya bisa melampiaskan sakit hatinya lewat air mata yang membasahi pipinya saat ini.
Nadin Yang ada disana langsung memeluk Clarissa erat. Membiarkannya menangis tanpa berniat menghentikannya. Karena menurut beberapa orang, orang yang bersedih akan cepat tenang ketika dia menangis.
"Hiks Hiks, Nad" ucap Clarissa di sela tangisnya.
"Iya Ca, menangislah sepuasnya. Nanti cerita ya" ucap Nadin.
Clarissa hanya menangis sambil berusaha menutup mulutnya. Dia tidak ingin jika ada yang mendengar suara tangisnya, apalagi itu Mahen.
"Lepaskan saja Ca, apa kau lupa kamarku kedap suara" ucap Nadin yang membuat Clarissa langsung melepaskan tangannya di mulutnya.
"Hiks hiks, kak Mahen Nad" ucap Clarissa sambil memukul dadanya yang terasa begitu sesak.
Yups, ini untuk pertama kalinya Clarissa mengalami hal seperti ini, karena Mahen adalah cinta pertamanya. Dia tidak pernah merasakan patah hati sebelumnya, ini yang pertama kalinya, jadi dia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Menangis mungkin sering, tapi tidak pernah sesakit ini.
"Iya, sekarang kamu tenangin diri dulu baru cerita ya" ucap Nadin sambil menghapus air mata yang masih terus mengalir di pipi Clarissa. Clarissa mengangguk kemudian menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya berharap dia menjadi lebih tenang.
"Dia sepertinya membenci aku Nad. Melihatku saja dia tidak mau, hiks" ucap Clarissa sambil tertunduk sedih.
"Apa kesalahanku besar banget Nad. Aku kan cuma ingin berbakti pada Papa. Aku hanya keluar negeri untuk sekolah Nad. Aku bahkan terus menjaga perasaanku untuk Kak Mahen. Tapi kenapa kak Mahen benci banget sama aku Nad, hiks" ucap Clarissa sambil berusaha mengelap air mata dan ingusnya dengan tissue.
__ADS_1
"Kau tidak salah Ca, Kak Mahen juga. Menurut aku wajar kak Mahen kayak gitu Ca, karena kamu pergi tanpa kabar sama sekali. Kamu tahu, kak Mahen sangat terpuruk saat kamu pergi. Bahkan dia terlihat sangat kurus tahu. Dia bahkan sempat frustasi karena tidak bisa menghubungimu" ucap Nadin sambil mengingat kejadian satu tahun yang lalu.
-Flashback-
Ini hari ketiga Clarissa pergi. Mahen masih sibuk menelpon Clarissa berharap ada keajaiban. Sejak kemarin nomor Clarissa tidak aktif. Dia sudah mencoba dengan banyak Hp. Mulai dari Hp Nadin, Nathan, Bryan dan Alex. Bahkan dia mencoba menggunakan nomor telpon baru.
Hasilnya tetap sama. Hingga saat ini dia termenung sendiri di balkon rumah Nathan menatap kosong ke arah jalan raya.
"Hen, makan dulu yuk. Dua hari ini sepertinya kamu tidak makan Hen. Bahkan wajahmu sudah mulai pucat itu. Atau tidurlah sedikit. Aku yakin Clarissa juga tidak ingin kamu seperti ini" ucap Nathan mencoba membujuk Mahen.
Namun, Mahen hanya diam saja. Dia kembali mengambil Hpnya dan menelpon nomor Clarissa.
"Sial, kenapa dia tidak punya Sosial media sih" ucap Mahen sambil menjambak rambutnya frustasi.
Iya, Clarissa memang tidak mempunyai sosial media. Dia sengaja tidak membuat sosial media karena dia bilang media sosial terlalu banyak dampak negatifnya.
Mahen tetap diam. Ucapan sahabatnya seperti angin lalu.
"Kalian tidak tahu yang aku rasakan" ucap Mahen dengan tatapan kosong melihat kedepan.
"Iya memang kami nggak tahu. Dan aku tidak mau tahu. Yang aku mau sekarang, kamu makan cepat. Kamu udah dewasa loh Hen. Hidup terus berjalan. kalau kamu emang cinta sama Clarissa ya udah susul sana. Jangan kayak gini, kayak anak kecil" ucap Bryan yang membuat Alex dan Nathan melihat ke arahnya.
"Kalian nggak ngerti, Makin mumet aku disini. Kau pulang Nat" ucap Mahen kemudian mengambil tasnya dan berjalan keluar.
"Emang susah ngomong sama manusia es batu. Kepalanya pun sampai membatu" ucap Bryan.
__ADS_1
"Huss, jaga bicara mu yan" ucap Alex. Bryan pun diam saja.
Mahen mengendarai motornya ugal-ugalan. Dia menyusuri jalan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Seperti melampiaskan semua rasa sedih, kesal, dan marah bercampur aduk di dalam hatinya saat ini.
Bahkan tidak jarang dia mendengar beberapa teriakan cacian dari pengguna jalan lainnya. Namun hati dan pikirannya rasanya terlalu malas untuk meladeni mereka.
"Kau kemana sih Ca, Aku salah apa Ca sampai kamu menyiksaku seperti ini?" batin Mahen. Hingga setetes cairan bening keluar dari air matanya.
Hari demi hari terus berlanjut seperti itu, bahkan sekarang Mahen terlihat semakin kurus. Rambutnya yang mulai acak-acakan tidak karuan.
"Hen, sampai kapan huh? Kamu bodoh sekali sih jadi cowok. Kamu itu laki-laki paling diidolakan disini. Masak karena satu cewek, kamu kayak gini. Malu lah" ucap Bryan.
Mahen diam saja, dia memilih pergi meninggalkan teman-temannya. Duduk sendiri di taman belakang sambil merokok.
-Flashback Off-
"Apa? Kak Mahen merokok?" Tanya Clarissa tidak percaya.
Nadin mengangguk. Membayangkan bagaimana kondisi Mahen dulu membuatnya begitu sedih.
"Aku jahat banget ya Nad?" ucap Clarissa sambil menunduk sedih. Lagi-lagi dia meneteskan air matanya.
"Karena itulah, sekarang giliran kamu yang berjuang Ca. Masak karena di cuekin saja kamu udah nangis-nangis an kayak gini" ucap Nadin.
Clarissa langsung mengangkat wajahnya. Dia tersenyum dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Iya benar. Aku harus memperjuangkan Kak Mahen. Mungkin nggak tahu malu. Tapi, aku harus menebus kesalahanku" ucap Clarissa sambil mengangkat tangannya. Nadin hanya tersenyum melihat Clarissa sambil berharap semuanya akan berjalan lancar.
-Bersambung-