
Pagi ini Mahen sudah rapi dengan seragam SMA nya. Rasanya dia begitu antusias untuk sekolah.
Membayangkan akan mengutarakan perasaannya hari ini membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
"Kak Maheeeen" teriak Mahalini saat melihat kakaknya sudah rapi dengan seragam sekolah. Dia terlihat mengecek jam kamarnya.
"Kenapa sih teriak-teriak" ucap Mahen sambil mengacak rambut adik perempuan satu-satunya itu. Mahalini masih menggunakan baju tidurnya. Terlihat begitu imut saat kesal akan perilaku kakaknya.
"Aku pikir sudah siang. Ternyata masih jam 6" ucap Mahalini. Dia pun langsung melihat kakak nya penuh selidik.
"Kakak tumben banget udah siap-siap jam segini. Biasanya Mahalini saja uang udah siap. Kakak mau kemana? ayo jujur" ucap Mahalini sambil berdecak pinggang.
"Kepooo. Mandi sana kau bau sekali" ucap Mahen sambil menutup hidungnya dengan kedua jarinya.
Hal itu sontak membuat Mahalini semakin kesal.
"Enak saja. Walaupun baru bangun aku tetap cantik dan wangi. Kak Mahen aja tuh, walaupun udah pakai wangi-wangian masih bau dan kucel" ucap Mahalini kemudian berlari menuju kamar mandi meninggalkan Mahen.
"Hey bocah, berani sekali kau mengatai kakakmu" ucap Mahen.
"Emang bener. Pantes juga kakak jomblo. Orang jelek dan dekil gitu. weeekk" ucap Mahalini kemudian mengunci pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Heyyyyy apa kau bilang?" Teriak Mahen.
Setiap hari selalu terdengar keributan mereka. Hal ini yang membuat suasana rumah menjadi sangat ramai. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana sepinya rumah itu tanpa teriakan mereka.
Alexander hanya bisa menggeleng dengan sikap anak-anaknya. Sedangkan Sarwenda sudah teriak sedari tadi.
"Bisa tidak sehari saja kalian tidak ribut. Ini masih pagi loh" teriak Sarwenda yang saat ini sedang menyiapkan sarapan.
Alexander adalah salah satu keluarga kaya. Bahkan kekayaan mereka tidak perlu diragukan lagi. Mereka punya jet pribadi bahkan punya cabang usaha dimana-mana.
Namun Sarwenda tidak memiliki pembantu karena dia suka memasak. Karena rumahnya terlalu luas, mereka hanya akan membayar pembantu untuk membersihkan rumah dan taman depan.
Mahen terlihat menuruni anak tangga. Dia tersenyum sambil memandangi Mama dan papanya yang masih pagi sedang sibuk masing-masing. Papanya yang sibuk dengan tab nya dan mamanya yang sibuk menata piring.
"Lah, kamu mimpi apa sampai jalan sepagi ini" Tanya Sarwenda.
"Anaknya Bagun pagi dicoment, bangun telat dimarah-marah. Seharusnya bahagia dong sekarang Mahen lagi mode rajin ini Ma" ucap Mahen sambil membanggakan dirinya.
Sarwenda memicingkan matanya. Dia melihat Mahen dari Atas sampai bawah.
"Kamu sedang jatuh cinta ya?" Tanya Sarwenda sambil menatap Mahen penuh selidik.
__ADS_1
"Hmmm" ucap Mahen kemudian mulai menyuapi makanan di depannya.
Mendengar jawaban anaknya, Sarwenda tentu saja langsung kegirangan. Anggapannya bahwa selama ini anaknya tidak normal sirna lah sudah. Dia begitu bahagia mendengar anaknya menyukai seorang wanita.
"Akhirnya anakku benar-benar normal" ucap Sarwenda antusias.
Mahen diam saja. Dia memilih fokus memakan sarapannya. Dia masih menetralkan jantungnya karena hari ini dia akan menyatakan perasaannya pada Clarissa.
"Kalau mama boleh tahu nih, siapa wanita itu?" Tanya Sarwenda.
Mahen diam saja. Menurutnya belum saatnya mama tahu.
"Ma, udah, anaknya lagi makan. Jangan ditanyain dulu" ucap Alexander.
Sarwenda langsung diam dan cemberut. Dia menatap suaminya kesal. Rasanya dia begitu penasaran sekarang. Tapi apa boleh buat, tidak akan mungkin anaknya ini akan memberitahukannya. Dia akan mencari tahu sendiri.
Drrrttttt
Tiba-tiba Hp Mahen berbunyi. Seseorang yang sangat dia kenal muncul disana.
"Apa?" ucap Mahen kemudian melepas sendok ditangannya.
__ADS_1
-Bersambung-