
"Kenapa kak Mia ada di Amrik juga?" ucap Clarissa sambil menatap kesal pada layar hpnya.
"Apa dia menemui kak Mahen disana?" ucapnya lagi kesal.
"Tit Tit" suara mobil memberhentikannya. Dia langsung berdiri karena dia pikir itu pasti pak Tono yang sudah datang menjemputnya.
Namun, saat dia melihat siap orang tersebut. Dia langsung terdiam.
"Lah, ngapain itu guru baru disana" ucap Clarissa sambil menatap bingung.
Guru baru tersebut pun mendekatinya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya nya.
"Lagi menunggu jemputan pak. Ada apa?" Ucap Clarissa to the points. Karena entah mengapa dia merasa aneh pada guru tersebut.
"Ayo biar aku antar" ucapnya yang membuat Clarissa semakin memicingkan matanya.
"Maaf pak, jemputan saya sudah dijalan. Sebelumnya terima kasih atas tawarannya. Dengan berat hati saya menolak" ucap Clarissa kemudian kembali duduk di tempatnya.
Guru tersebut tampak diam sambil mengamati Clarissa dari atas sampai bawah.
"Mohon maaf ya pak Indra, Bapak tidak punya kesibukan lain selain berdiri disana. Temen-temen saya melihat, saya takut mereka berpikiran aneh nantinya. Jadi tolong pak, mengertilah, bisakah bapak pulang saja" ucap Clarissa kesal.
Entah mengapa dia cukup berani untuk melawan laki-laki yang ada di depannya saat ini. Dia merasa laki-laki tersebut menyebalkan dan sangat aneh. Dia yang memiliki trauma ketika didekati orang baru membuatnya semakin takut. Apalagi entah mengapa laki-laki tersebut mirip dengan Andre yang dulu menculiknya. Tapi dia berusaha untuk menolak kenyataan itu agar traumanya tidak berkepanjangan.
"Aku hanya ingin disini. Ngapain harus mendengarkan kata orang. Setelah supir mu datang, baru aku akan pulang" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Astaga bapak ini. Dia baru mengenalku, kenapa bersikap seperti ini. Aku semakin curiga padanya" batin Clarissa.
Namun dia tidak bisa melakukan apapun. Dia memilih diam saja tanpa memperdulikannya. Ditempatnya sekarang pun ramai, jadi tidak mungkin guru baru tersebut akan melakukan hal buruk.
Selang beberapa menit, supir Clarissa tampak datang. Clarissa pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Pak Indra tanpa sepatah katapun.
Pak Indra hanya diam sambil menatap Clarissa dengan senyuman. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya.
Dia mengambil Hpnya, kemudian menelpon seseorang disana.
"Terus perhatikan gerak gerik papa" ucapnya kemudian menutup panggilan telpon.
***
Malam harinya, Hp Clarissa berdering, dia pun langsung berlari untuk mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Sayang, maaf ya, kakak telponnya larut begini, dari tadi banyak sekali pekerjaan di kantor. Jadi aku tidak sempat pegang Hp" ucap nya.
"Nggak apa-apa kak, kakak udah makan?" Tanya Clarissa. Mahen mengangguk.
"Pasti capek ya kak" ucap Clarissa lagi.
"Iya sayang, seandainya kamu disini, pasti rasa capeknya langsung hilang" ucap Mahen.
"Tenang kak, bentar lagi aku nyusul kesana" ucap Clarissa.
"Bener ya, besok harus nyusul" ucap Mahen dengan mata berbinar.
__ADS_1
Clarissa pun tertawa.
"Satu tahun lagi lah, tunggu Clarissa lulus dulu" ucap Clarissa kemudian yang membuat Mahen lagi-lagi tidak bersemangat.
"Semangat dong kak, katanya mau nikahin Clarissa. Masak mau loyo-loyo gitu" ucap Clarissa kembali.
"Hmmm, aku kangen Ca" ucap Mahen yang membuat Clarissa langsung terdiam. Dia tentunya juga sangat merindukan Mahen. Namun mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Clarissa juga kak. Sebentar lagi ya kak. Aku yakin kita pasti bisa" ucap Clarissa.
Mahen hanya mengangguk sedih.
Inilah yang mereka rasakan saat Clarissa pergi ke Singapura.
Dan terulang lagi. Rasanya pun tetap sama.
"Kak Mahen, tahu nggak?" ucap Clarissa mencoba mencari topik pembicaraan.
"Nggak tahu" ucap Mahen.
"Ishh, makanya ini dengerin" ucap Clarissa yang membuat Mahen langsung tersenyum.
Rasanya dia sangat gemas melihat wajah Clarissa yang kesal saat ini. Dia sangat merindukan itu. Rasanya dia ingin mencubit kedua pipinya, tapi tentunya tidak bisa.
"Iya apa sayang" ucap Mahen.
-Bersambung-
__ADS_1