
Hari ini genap 1 hari mereka berpacaran. Kata orang sih sedang anget-angetnya.
"Hallo kak, dimana?" Tanya Clarissa.
"Lagi di tempat tongkrongan biasa nih" ucap Mahen.
"Oke, OTW kak" ucap Clarissa.
Dia pun langsung meminta supir mengantarnya ke cafe tempat Mahen sering nongkrong.
Dia terus tersenyum selama di perjalanan. Dia masih tidak percaya bahwa status nya sekarang sudah berubah.
Baru saja dia sampai di cafe, terlihat keributan di luar Cafe.
"Pak tunggu disini" ucap Clarissa hendak ingin keluar. Namun langkahnya terhenti saat melihat Mark disana tengah berkelahi melawan beberapa orang yang terlihat seperti preman.
"Sepertinya ada yang berantem nona. Nona sebaiknya tetap disini" ucap Pak supir.
"Tenang Pak. Clarissa akan baik-baik saja kok. Clarissa harus membantu teman dulu ya pak. Bapak bisa langsung balik saja" ucap Clarissa.
Dia pun langsung keluar dari mobil tanpa aba-aba. Dia membantu Mark melawan beberapa penjahat tersebut.
Bahkan hanya dengan sekali pukulan, Clarissa berhasil meringkus semua pereman itu.
Hingga menciptakan sorak dan tepuk tangan dari orang sekitar.
"Tolong bawa ke kantor polisi" ucap Clarissa pada petugas pengamanan.
__ADS_1
Entah dari mana petugas keamanan itu sejak tadi. Setelah semua preman dilumpuhkan baru mereka datang.
"Keren banget Ca" ucap Mark.
"Kakak Nggak apa-apa?" Tanya Clarissa karena melihat beberapa bekas pukulan di wajah Mark.
Belum Mark menjawab.
Tiba-tiba Mahen datang kemudian langsung menarik tangan Clarissa menjauh.
"Ikut Kakak" ucap Mahen.
"Bentar kak, Tas Clarissa di mobil kelupaan" ucap Clarissa.
Namun belum satu langkah dia berbalik. Mahen langsung menggendongnya.
"Astaga kak Mahen" ucap Clarissa karena begitu terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Mahen.
"Kak kita mau kemana?" Tanya Clarissa bingung.
Mahen hanya diam, dia bahkan sudah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Hingga mereka sampai di sebuah klinik.
"Klinik Alexander Mahendra" tertulis disana.
"Kak kita ngapain disini" Tanya Clarissa bingung. Perasaan tidak ada yang sakit. Apa Mahen yang sakit batin Clarissa. Tapi dia terlihat baik-baik saja.
"Kau tidak lihat lengan tanganmu" ucap Mahen yang membuat Clarissa langsung melihat ke arah lengan tangannya.
__ADS_1
"Astaga. Kenapa aku tidak menyadarinya" ucap Clarissa.
Terlihat goresan luka disini. Darah terlihat menetes keluar dari kulitnya.
Mahen langsung saja keluar dan membawa Clarissa masuk ke dalam klinik.
"Kak aku bisa jalan sendiri" ucap Clarissa karena melihat beberapa pegawai disana melihat mereka.
Mahen langsung saja masuk dan membawa Clarissa masuk ke dalam ruang perawatan.
"Tuan" ucap salah seorang dokter disana.
"Obati pacar saya" ucap Mahen dengan suara dingin. Bahkan tidak ada senyuman disana. Wajahnya dingin kaku seperti pertama kali bertemu.
Clarissa hanya diam sambil meringis. Entah kenapa tadi lupa ini tidak terasa sama sekali.
Sekarang rasanya perih sekali. Bahkan lebih perih karena melihat Mahen sekarang menatapnya dingin.
"Tahan yang nona" ucap Dokter Tedy. Yups, itu tertulis di baju putihnya.
"Iya Pak. Saya sudah biasa kok. Ini mah kecil dari pada kejadian 11 tahun yang lalu" ucap Clarissa sambil cengengesan. Sebenarnya dia sedang mencoba menguatkan diri dan mencoba mencairkan suasana disana. Namun yang ada Mahen malah menatapnya semakin dingin.
"Dingin ya pak" ucap Clarissa.
"Mau diturunkan AC nya nona?" Tanya Dokter Tedy.
"Haha, Percuma pak. AC nya double disini. Bakal tetap dingin" ucap Clarissa.
__ADS_1
Dokter Tedy bingung sendiri. Sedang Clarissa dan Mahen masih saling tatap-tatapan, Mahen menatapnya dengan dingin sedangkan Clarissa terus tersenyum.
-Bersambung-