
Mahen pun memilih duduk, dia mencoba menahan senyumnya sebisa mungkin.
Entah mengapa, dia mengalami perubahan emosi yang begitu cepat beberapa hari ini. Mungkin bisa dibilang sejak resmi berpacaran dengan Clarissa.
Baru tadi saja dia sangat kesal. Ingin rasanya dia meluapkan segala kekesalannya tadi saat mendengar Clarissa bercerita tentang laki-laki lain.
Apalagi ketika mendengar bagaimana antusias nya Clarissa saat bercerita tentang Mark. Namun hanya karena kata sayang, berhasil membuat moodnya kembali lagi.
Hanya kata sepele, namun berhasil mengobrak-abrik hatinya. Itulah Mungkin alasan kenapa beberapa orang mengatakan bahwa cinta itu gila.
"Oya guys, nggak nyangka ini kita sudah kelas 3. Bentar lagi ujian, terus lulus. Kalian udah ada plan mau lanjut kuliah kemana? Kecuali Bryan ya, dia mah udah jelas, setelah ini pasti lanjut Study bisnis atau nerusin perusahaan papanya" ucap Alex.
Bryan hanya diam saja. Karena memang perkataan Alex benar. Dia akan mengikuti apapun permintaan papanya.
"Kalau gue mau buat bisnis klub" ucap Nathan yang membuat semuanya melotot tidak percaya.
"Hey, Gila lu. Ade-ade aja. Buat mimpi itu yang jangan nambah dosa dong. Dosa lu aja udah banyak Bray" ucap Alex.
"Hmm, gimana dong. Usaha klub menjanjikan banget loh katanya" ucap Nathan lagi.
"Hey, Lo cari dunia saja. Akhirat juga dong dipikirin" ucap Alex lagi.
"Kalau gitu aku mau jadi astronot, biar bisa ke bulan. Tanah di bulan kan belum ada sertifikatnya. Nah, kalau gue yang punya kan bisa gue jual nanti kalau orang-orang udah mau pindah ke bulan. Lambat laun bumi juga akan habis lahannya" ucap Nathan lagi.
__ADS_1
Mahen dan Bryan menatap tidak percaya pada pola pikir temannya. Sedangkan Alex langsung menepuk jidatnya tidak habis pikir dengan imajinasi Alex yang begitu sangat tinggi.
"Kamu aneh-aneh saja sih sayang. Gimana kalau kita ambil jurusan kedokteran bareng" tanya Sindy yang entah datang dari mana. Dia bersama Mia di sampingnya.
"Kedokteran? Ingat otak lu pas-pas an sin" ucap Alex menimpali.
"Iya, kalau Nathan mah, aku percaya lah ya, nah lu rangking terakhir" ucap Bryan.
"Sekali ngomong nyesek ya lu" ucap Sindy pada Bryan. Bryan memilih tidak peduli. Karena memang benar apa yang dia katakan.
"Aku mah setuju" ucap Nathan yang membuat semua orang langsung melihat ke arah mereka.
"Setuju apa?" Tanya Sindi yang terlihat begitu bahagia.
"Owh kalian ngeremehin aku, lihat saja ya, aku buktiin kalau aku bisa" ucap Sindy dengan semangat penuh membara. Sedangkan yang lainnya hanya mengiyakan, tidak ingin memperpanjang debat.
"Hmmm, kalau kamu Mahen mau ngelanjutin dimana?" Tanya Mia tiba-tiba.
Mahen terdiam sesaat. Sebenarnya dia sangat malas meladeni Mia. Tapi melihat Clarissa yang terlihat menghampirinya. Dia tiba-tiba langsung tertarik untuk meladeni Mia.
"Kamu penasaran?" Tanya Mahen sambil menatap Mia.
"Tentu saja. Kemana kamu pergi, aku akan ikut" ucap Mia lagi.
__ADS_1
Mendengar hal itu, kuping Clarissa langsung memanas.
"Ke neraka pun kamu mau ikut?" ucap Mahen lagi.
"Tentu saja" ucap Mia dengan senyum di wajahnya.
"Kau sepertinya sangat menyukaiku" ucap Mahen lagi.
Yang lainnya hanya bisa diam melihat drama yang ada di depannya sekarang.
Sedangkan Clarissa saat ini berusaha untuk menahan amarahnya.
Mia hanya diam saja. Terlihat jelas di matanya jika apa yang Mahen katakan memang benar. Tapi tentunya dia sangat malu mengatakannya di depan semua orang seperti ini.
"Kau tahu hubunganku dengan Clarissa kan?" Tanya Mahen yang membuat Clarissa terdiam seketika.
Amarahnya sedikit mereda.
"Apa dia sekarang sedang mempermainkan" batin Clarissa.
"Kau ingin melawanku? Oke mari kita lihat siapa yang akan menang" batin Clarissa lagi.
-Bersambung-
__ADS_1