Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Rumah Mahen


__ADS_3

Saat ini Clarissa sudah di depan sekolahnya menunggu jemputan.


Dia tidak membawa sepeda atau mobilnya. Bukannya apa-apa, tapi karena memang dia sangat malas untuk melakukannya.


Dari kejauhan terlihat seseorang tengah memperhatikan gerak geriknya.


Saat Clarissa melihat orang tersebut. Dia langsung pergi begitu saja.


"Siapa orang itu" ucap Clarissa penasaran.


Namun Clarissa mengabaikannya. Karena saat ini jemputannya sudah datang.


"Pak, kita nggak usah langsung pulang ya. Clarissa mau ke rumah teman dulu" ucap Clarissa.


Mungkin kurang lebih 30 menit perjalanan. Dia sudah sampai di rumah Mahen.


"Masuk Ca" ucap Sarwenda yang saat ini sudah menunggunya di depan rumah.


Yups, tadi dia berniat mau menelpon Mahen. Namun Sarwenda lebih dulu menghubunginya dan memintanya untuk ke rumah.


Suatu hal yang sangat kebetulan. Tapi tentunya tidak ada yang kebetulan di dunia ini.


"Masuk Ca" ucap Sarwenda.


"Iya Tante" ucap Clarissa.


Dia begitu takjub melihat rumah Mahen yang menurutnya sangat Asri dan hijau.


Mungkin tidak semewah rumahnya, tapi tentunya rumah Mahen lebih Asri karena banyak pohon dan tanaman di depan rumahnya.


"Kak Caca" teriak seseorang.


Siapa lagi kalau bukan Mahalini. Dia langsung berlari ke dalam pelukan Clarissa.


Ukuran tubuh Mahalini yang cukup besar, membuat Clarissa kesulitan untuk menangkapnya.

__ADS_1


"Hallo sayang, kakak kangen banget sama kamu" ucap Clarissa sambil mencubit pipi Mahalini.


"Lini juga kangen" ucap Mahalini.


Clarissa terlihat melihat ke sekitar. Mencari seseorang yang telah menghilang selama ini.


"Cari kak Mahen ya kak" ucap Mahalini.


"Kak Mahennya mana?" tanya Clarissa yang membuat Sarwenda tersenyum.


"Mahen sedang di kantor Ca" ucap Sarwenda.


"Kantor?" Tanya Clarissa bingung.


"Kita duduk dulu ya, nanti Mama ceritain" ucap Sarwenda yang langsung dituruti oleh Clarissa.


"Okey Tante" ucap Clarissa.


Clarissa pun duduk, kemudian Sarwenda mulai menceritakannya.


"Assalamualaikum" ucap Mahen.


Dia terlihat masuk ke rumahnya dengan membawa ransel.


"Mama, papa" ucap Mahen kemudian mencium tangan Papa dan Mamanya bergantian.


Tidak lupa dia mencubit pipi Mahalini.


"Pa, ada yang Mahen mau bicarakan sama Papa" ucap Mahen langsung.


"Hen, istirahat dulu sayang. Tas di taruh dan duduk" ucap Sarwenda.


Mahen langsung duduk dan melepas tasnya.


"Oke, apa?" Tanya Alexander.

__ADS_1


"Pa, Mahen mau kerja di perusahaan" ucap Mahen.


Hal itu sontak membuat Sarwenda kaget. Mahalini pun langsung melihat ke arah kakaknya tidak percaya. Sedangkan Alexander hanya diam saja.


"Kenapa kamu ingin mengurus perusahaan Hen? Kau fokus sekolah saja dulu. Mengurus perusahaan tidak semudah yang kamu pikir" ucap Alexander.


"Mahen bisa kerja sambil sekolah Pa" ucap Mahen. Sepertinya dia sangat ingin belajar bisnis.


"Hmmm, tidak bisa sayang. Kamu setidaknya harus lulus SMA dulu" ucap Alexander.


Mahen menunduk, dia sedang berpikir.


"Bagaimana kalau Mahen bantu-bantu sebisanya. Sambil belajar bisnis pa?" ucap Mahen.


"Hmmm, kau memang menuruni sifat keras kepalaku. Baiklah, besok ke kantor sehabis pulang sekolah. Tapi janji, jangan sampai ini merusak nilaimu" ucap Alexander yang membuat senyum Mahen langsung mengembang.


"Makasi Pa, Mahen tidak akan mengecewakan papa" ucap Mahen.


"Kak Mahen kenapa sih ngebet banget pengen kerja. Masih kecil juga. Kerja itu buat orang dewasa" ucap Mahalini.


"Mau kak Mahen sama kak Caca terus kan?" Ucap Mahen.


"Mau lah, Kak Mahen nggak boleh sama cewek manapun selain sama kak Caca. Lini udah sayang sama kak Caca" ucap Mahalini.


"Ya udah, diam saja. Nggak usah banyak nanyak" ucap Mahen kemudian meninggalkan ruang tamu bersiap untuk istirahat di kamarnya.


#Flashback Off#


"Kak Mahen ngomong gitu Tante?" ucap Clarissa.


"Iya sayang, sebenarnya maksudnya apa?" ucap Sarwenda.


"Nggak tahu Tante" ucap Clarissa


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2