Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Dania


__ADS_3

"Jadi apa?" Tanya Andre.


"Apa yang papa lakukan tadi?" Tanya Indra sambil menatap matanya dengan wajah datar.


"Apa maksudmu?" Tanya Andre.


"Papa pikir aku tidak tahu apa yang papa lakukan, papa sudah berjanji untuk tidak menyakiti siapapun lagi" ucap Indra.


Andre terdiam sesaat. Dia memang terkenal psikopat, tapi dia akan melemah jika berurusan dengan anaknya. Anak satu-satunya dari perempuan yang sangat dia sayangi.


"Hmm, papa tidak bisa sayang. Mereka harus mendapatkan ganjaran setimpal atas apa yang mereka lakukan. Mereka sudah membunuh papamu" ucap Andre lagi.


"Membunuh bagaimana pa? Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Mama meninggal karena PAPA" teriak Indra.


Hal itu sontak membuat Andre langsung melotot ke arahnya.


"JAGA UCAPAN MU. Mamamu meninggal karena mereka, ingat itu. Sekarang kau lebih baik pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis" ucap Andre dengan mata yang sudah memerah.


"Baik, Aku akan pergi. Tapi ingat pa, kalau sampai papa melukai gadis itu, jangan harap Indra ingin bertemu dengan papa lagi" ucap Indra kemudian pergi meninggalkan Andre.


Setelah kepergian Indra. Andre langsung melempar tubuhnya ke sofa miliknya. Rasanya dia lelah sekali menghadapi anak semata wayangnya itu.


#Flashback


Setelah melihat kedua anak tersebut jatuh ke jurang, dia langsung berlari menyelamatkan diri. Karena dia juga mendengar beberapa orang mengarah ke tempat tersebut.


"Haha, akhirnya dendamku terbalaskan" ucap nya sambil terus berlari.


Setelah cukup merasa aman. Dia pulang ke rumahnya. Namun tidak lupa dia berganti baju terlebih dahulu karena anak dan istrinya pasti sedang menunggunya disana.


Walaupun dia orang yang tidak pandang bulu dalam membunuh orang, tapi dia tidak pernah ingin anak dan istrinya mengetahuinya. Dia tidak ingin istri dan anaknya mengetahui sisi gelapnya. Dia sangat mencintai keduanya, untuk itulah dia selalu bisa luluh saat melihat keduanya.


Namun ternyata takdir berkata lain, Istrinya mengetahui semua hal yang sudah dia lakukan. Saat dia pulang, istrinya sudah menunggunya di sofa.


"Sayang" panggil Andre sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Jangan pegang aku" ucap Dania sambil menarik tubuhnya menjauh.


Andre begitu terkejut melihat perubahan sifat istrinya.


"Ada apa sayang?" Ucap Andre sambil mendekati Dania. Namun yang terjadi istrinya malah semakin menjauh.

__ADS_1


"Apa ini Mas?" ucap Dania sambil membuang sebuah amplop coklat di depan Andre. Andre pun langsung mengambil amplop tersebut dan melihat isinya.


Dia begitu terkejut melihat beberapa foto dirinya sedang mengeksekusi musuhnya. Bahkan ada foto saat dirinya sedang menyiksa kedua anak tersebut.


"Bagaimana bisa foto ini ada disini" batin Andre.


"Sial" ucap nya saat mengingat siapa yang kemungkinan besar mengirimkan foto ini.


"Mas, apa benar itu semua yang kau lakukan?" tanya Dania dengan mata yang sudah memerah menahan tangis.


"Tentu tidak sayang" Ucap Andre dengan senyum diwajahnya. Dia sangat berharap istrinya bisa mempercayai ucapannya.


"JANGAN BOHONG MAS!!" teriak Dania lagi.


Andre mencoba mendekati Dania berniat untuk memeluknya agar bisa menenangkan istrinya.


"Jangan mendekat. Atau aku akan?" ucap Dania sambil memegang pistol di tangannya.


Andre begitu terkejut. Darimana Dania mendapatkan pistol tersebut pikirnya.


"Sejak kapan pistol tersebut ditangannya" batin Andre.


Dia sungguh bingung harus melakukan apa sekarang. Dia ingin mengambil pistol tersebut, namun Dania sudah mengarahkannya di kepalanya.


"Aku benar-benar tidak menyangka kau melakukan semua ini Mas. Aku sudah sangat percaya padamu. Tapi kau sudah membantah kan semua kepercayaan itu. Kau sudah membunuh banyak orang. Rasanya aku tidak sanggup hidup di dunia ini" ucap Dania.


"Sayang, jangan berkata begitu please. Aku sungguh minta maaf oke. Tapi mereka pantas untuk mendapatkannya" ucap Andre lagi.


"Lihat, kau bahkan tidak merasa bersalah dengan para jiwa yang telah kau bunuh, bahkan kau membunuh anak kecil. Apa kau akan membunuh anak kita juga?" ucap Dania lagi.


"Aku tidak mungkin membunuh anak kita. Aku sangat mencintai kalian. Jadi tolong buang pistol itu" ucap Andre yang terlihat sudah sangat frustasi.


"nyawa harus dibayar nyawa. Aku bahkan tidak bisa membayangkan, aku hidup selama ini diatas kematian orang lain, hiks" ucap Dania sambil mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.


Melihat Dania menangis, Andre langsung mendekat. Dia langsung berusaha merebut pistol tersebut. Namun, baru saja dia memegangnya, suara tembakan menggelegar memenuhi ruangan tersebut.


Dia begitu terkejut. Tubunya membeku seketika. Dania pun tersungkur di lantai tidak sadarkan diri.


***


Saat ini Mahen sudah sampai di Indonesia. Dia langsung menuju rumah Clarissa.

__ADS_1


Di dalam perjalanan, dia tidak henti-hentinya mengutuk perbuatan Andre pada Clarissa.


Rasanya dia ingin menghabisi Andre saat itu juga. Tapi sampai sekarang pun dia belum menemukan keberadaanya.


Dia masih tidak habis pikir dengan kemampuan Andre yang bisa membuat papanya dan Papa Syam belum bisa menemukannya. Bahkan semua kekuatan sudah di kerahkannya.


Dia benar-benar semakin takut meninggalkan Clarissa di Indonesia. Walaupun dia berada dipenjagaan, namun Andre masih bisa menemuinya.


Setelah beberapa lama di perjalanan, akhirnya dia pun sampai di rumah Clarissa. Dia langsung masuk dan mendapati Syam sedang menyandarkan kepalanya di Sofa.


"Pa" ucap Mahen yang membuat Syam langsung bangun.


"Mahen, kapan kau pulang?" ucap Syam dengan wajah sedikit terkejut.


" Barusan pa, boleh saya bertemu Clarissa?" Tanya Mahen. Syam pun langsung mengangguk.


"Dia sedang di kamarnya" ucap Syam. Mahen pun langsung menuju ke kamar Clarissa.


Dia langsung mengetik pintu.


Kirana yang saat itu tengah di kamar Clarissa langsung membukakan pintu.


"Mahen?" Ucap Kirana yang juga sangat terkejut.


Mahen tersenyum dan menanyakan Clarissa.


"Dia di dalam, dia kelelahan dan tertidur sekarang" ucap Kirana.


"Boleh saya melihatnya sebentar Ma?" Ucap Mahen.


Kirana pun mengizinkan.


Mahen pun masuk ke kamar Clarissa. Dia melihat Clarissa yang saat ini terbaring dengan mata yang terlihat sedikit sembab dan hidung yang memerah. Seperti orang yang baru selesai menangis.


Dia hanya bisa melihat Clarissa dengan tatapan sendu. Dia merasa sedikit bersalah karena meninggalkan Clarissa sendiri.


Hari ini mereka masih beruntung karena Andre tidak melakukan apapun pada Clarissa.


"Maafkan aku Ca" ucap Mahen sambil memperbaiki rambut Clarissa yang mengenai wajahnya


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2