Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Perpustakaan


__ADS_3

Clarissa dan Nadin berjalan bersama menuju perpustakaan karena ada tugas dari guru yang harus dikumpulkan sesegera mungkin.


Selama di perjalanan, Nadin tidak henti-hentinya menggoda Clarissa. Clarissa menceritakan semuanya pada Nadin. Kejadian di taman sekolah tadi bersama Mahen.


Sebenarnya dia berencana merahasiakan nya. Namun karena dia telat masuk kelas membuat tanda tanya besar bagi Nadin.


Clarissa sudah menceritakan pada guru bahwa dia tidak menemukan paket yang dimaksud. Guru hanya mengangguk dan menerima alasan Clarissa. Tapi tentu saja Nadin tidak percaya. Dia terus mendesak Clarissa untuk menceritakan yang sebenarnya.


Clarissa pun tidak ada pilihan. Dia menceritakan semuanya pada Nadin. Dan efeknya Nadin tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan yang sama pada Clarissa.


"Jadi bagaimana?" Tanya Nadin.


"Aku tidak tahu Nad, aku sudah menceritakan semuanya. Aku juga bingung. Sekarang kita fokus saja mengerjakan tugas-tugas ini ya" ucap Clarissa sambil menepuk bahu teman dekatnya itu.


"Hmm baiklah. Ayo" ucap Nadin dengan wajah kecewa. Tapi memang dia juga harus tahu batasan sebagai seorang teman.


Disisi lain, Mahen dan gengnya sedang makan di kantin. Tidak lupa mereka selalu menjadi sorotan disana. Tidak terkecuali Sindi yang terlihat terus cari perhatian geng the King.


Saat ini dia sedang mendekati Nathan.


"Tan, nanti habis sekolah jalan yuk?" ajak Sindi.


"Berdua?" Tanya Nathan dengan wajah genitnya.


Diantara keempat anggota geng the King hanya Nathan yang mau merespon Sindi. Yang lainnya memilih bungkam.


"Kamu mau berdua saja?" Tanya Sindi dengan wajah manjanya.


"Woek. Muntah gue liat tu cewek" batin Alex.


"Kamu mau?" Tanya Nathan.


"Boleh. Nanti pakai mobil aku atau kamu?" Tanya Sindi sambil melirik ke arah Mahen yang saat ini sedang sibuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang di kantin. Dia seperti sedang mencari seseorang disana.

__ADS_1


"Pakai mobil aku saja. Nanti ketemu diparkiran ya" ucap Nathan sambil mengelus pipi Sindi.


Sindi pun tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia memilih pergi dari sana. Karena dia gagal menarik perhatian Mahen. Dia sengaja mendekati Nathan untuk membuat Mahen cemburu. Yang ada Mahen malah mengabaikannya.


"Idih, nakjis banget" ucap Nathan sambil mengusap tangannya yang habis memegang pipi Sindi. '


"Salah lu, kenapa lu malah ladenin kakak kelas kek gitu" ucap Alex.


"Pakai acara jalan bareng lagi" tambah Bryan.


"Nanti kan ada lu yang nemenin gw Lex" ucap Nathan.


"Hey, ogah banget. Tadi kamu sendiri loh yang bilang buat jalan berdua. Kasian tu anak orang Di PHP in" ucap Alex.


"Kalau nggak gitu, dia nggak bakal pergi. Tenang nanti aku ada rencana" ucap Nathan.


"Apa rencana loh, jangan macem-macem" ucap Bryan.


Mahen tiba-tiba berdiri meninggalkan mereka semua.


"Kebiasaan emang" ucap Alex sambil menggeleng.


"Biarin saja mungkin dia lagi dapet" ucap Nathan kemudian tertawa.


"Ada-Ada saja lu" ucap Alex kemudian ikut tertawa.


Berbeda dengan Bryan yang diam saja sambil mengamati kepergian Mahen. Dia penasaran kemana Mahen pergi. Namun dia memilih berpikir positif dan mulai memakan baksonya kembali.


***


"Hallo" ucap Clarissa


"Kamu dimana?" Tanya seseorang dari balik telpon.

__ADS_1


"Perpus" ucap Clarissa.


"Tuttt" panggilan langsung terputus.


"Dasar aneh" ucap Clarissa kemudian lanjut membaca buku di depannya.


Beberapa menit kemudian seseorang tiba-tiba duduk di samping Clarissa. Bau parfum yang sangat Clarissa kenali.


Dia pun melihat ke samping.


"Kak Mahen" ucap Clarissa begitu terkejut. Begitu pun dengan Nadin yang ada di sampingnya.


"Ini buat kalian. Kalian kenapa tidak makan ke kantin?" Tanya Mahen sambil menyodorkan roti dan susu.


"Makasi kak" ucap Nadin sambil tersenyum ramah.


Mahen hanya mengangguk dengan mata fokus ke Clarissa.


"Ehh, ini ada banyak tugas dari buk guru kak" ucap Clarissa. Dia pun menunduk karena tidak sanggup menatap mata Mahen terlalu lama.


Jantungnya terus berdetak semakin cepat sekarang. Berada sedekat ini dengan Mahen membuat dadanya sangat sesak.


"Hey, kalau berbicara dengan orang tatap matanya dong" bisik Mahen. Hal itu tentu membuat bulu kuduk Clarissa semakin meremang.


"A-aku cari buku dulu kak" ucap Clarissa kemudian berdiri dari duduknya.


"Biar aku saja Ca. Kamu temani kak Mahen disini" ucap Nadin kemudian bangun dari duduknya. Dia tersenyum penuh arti pada Clarissa.


"Astaga" batin Clarissa.


"Duduklah" ucap Mahen sambil menggenggam tangan Clarissa. Clarissa langsung saja menurut dan sisa mereka berdua disana.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2