
"Aku lapar" ucap Clarissa sambil memegang perutnya.
Namun dia sudah berjanji untuk mogok makan. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan restu papanya bagaimana pun caranya.
"Aku keluar rumah tidak mungkin. Bagaimana kalau aku meminta Nadin membawakan makanan kesini" ucapnya. Dia kemudian mengambil hpnya dan meminta Nadin menginap di rumahnya.
Dia sangat yakin bahwa papanya tidak akan menolak Nadin ke rumah.
Dan dia akan meminta Nadin menyusupkan makanan untuknya.
"Hallo Say" ucap Clarissa.
"Pasti ada maunya nih" ucap Nadin yang bisa langsung menebak tingkah sahabat satu-satunya itu.
"Hehe, nginap di rumah yuk. Aku mau cerita banyak hal nih" ucap Clarissa.
"Boleh itu. Aku juga sangat bosan dan suntuk di rumah sendiri. Otw ya" ucap Nadin.
"Aku nitip makanan ya. Ingat jangan sampai papa dan mama tahu. Aku ceritanya lagi mogok makan ini" ucap Clarissa.
Tanpa banyak bertanya, Nadin langsung mengiyakan.
Setelah panggilan telpon terputus. Clarissa langsung menelpon Mahen. Kali ini panggilan VC.
Baru dering pertama, Mahen langsung mengangkat telponnya.
"Hallo kak" ucap Clarissa dengan senyum mengembang.
Bibirnya menciptakan senyum lebar. Namun matanya berkata lain. Dia begitu sedih jika mengingat hubungannya dengan Mahen yang tidak direstui. Namun dia benar-benar harus kuat di depan Mahen.
"Kakak udah obatin lukanya kan?" Tanya Clarissa.
__ADS_1
"Sudah dong. ini obat dan salep" ucap Mahen sambil menunjukkan sebuah kantong plastik yang tentunya berisi obat.
"Alhamdulillah. terbaik memang pacarku" ucap Clarissa.
"Haha, iya dong. Baru tahu?" ucap Mahen membanggakan diri sendiri.
"Nyesel aku bilang gitu" ucap Clarissa sambil memanyunkan bibirnya
Mahen hanya tersenyum. Rasanya dia ingin mencubit pipi Clarissa sekarang. Namun apalah daya. Dia hanya bisa bertemu virtual tanpa bisa menyentuh secara langsung.
"Kamu udah makan?" Tanya Mahen.
"Ciah Ciahhh yang baru pacaran. kek ABG nanyakin makan" ucap seseorang dari belakang.
"Siapa itu kak?" tanya Clarissa karena mendengar jika Mahen tidak sendiri disana.
"Biasa. Jomblo. iri" ucap Mahen.
"Haha, itu kan. Gampang ketebak Tan" ucap Mahen.
"Sial. Gw dibully sama adik kelas. Untung kita udah nggak satu sekolah Ca" ucap Nathan yang tiba-tiba muncul di layar Hp Clarissa.
"Emang kenapa kalau masih?"Tanya Clarissa.
"Ya gw pacarin lu" ucap Nathan sambil tersenyum menggoda.
"Haha, tanya kak Mahen dulu gih.Aku mah tergantung kak Mahen" ucap Clarissa memancing.
"Awas saja kalau berani. Lu mau rumah sakit atau kuburan. Pilih saja" ucap Mahen dengan wajah kesal menahan amarah.
"Haha. Ampun bos. Canda bro. Aku nggak akan ngambil Clarissa dari lu kok. Santai-santai" ucap Nathan kemudian memilih pergi menjauh.
__ADS_1
"Haha. Ada-ada saja kak Nathan. Kak Nathan berarti lagi di rumah kak sekarang? Berdua saja?" Tanya Clarissa.
"Nggak. Nanti berempat. Mereka mau nginap di rumah katanya. Mau main PS bareng" ucap Mahen.
"Owhh. Pantes" ucap Clarissa.
"Pantes?" Tanya Mahen lagi.
"Iya, pantes Nadin cepet banget ngiyain pas aku minta nginep disini" ucap Clarissa.
"Owh" ucap Mahen.
"Aku matiin dulu ya kak. Nadin kayaknya udah nyampe. Have fun kak. Ingat obatin lukanya ya. Miss u" ucap Clarissa.
Mahen hanya mengangguk.
"Kamu juga. Makan jangan lupa" ucap Mahen.
"Gitu aja. Nggak ada bilang apa gitu" ucap Clarissa.
"Bilang apa?" tanya Mahen bingung.
"Ada yang kurang Kak. Tadi Clarissa bilang apa coba?" ucap Clarissa lagi.
"Mau matiin kan" ucap Mahen dengan polosnya.
"Udah lah. Emang nggak peka. Assalamualaikum" ucap Clarissa kemudian mematikan panggilannya.
"Dasar cowok nggak peka. Bilang Miss u too aja susah banget. Apalagi bilang i love u" ucap Clarissa
-Bersambung-
__ADS_1