
Hari ini, seperti perjanjian tadi malam, dia akan pergi untuk membeli perlengkapan kemah bersama dengan Nadin.
"Nad, aku pinjam bajumu ya" ucap Clarissa tanpa menunggu iya dari pemiliknya, dia langsung mencari baju yang mungkin fit dengan tubuhnya.
Dia mengambil rok selutut kemudian dengan kaos warna yang senada dengan sepatu yang akan dia gunakan.
"Sipp, ayo" ucap Clarissa saat dia sudah siap.
Kali ini dia menguncir kuda rambut panjangnya. sehingga membuat leher putihnya terlihat jelas.
"Bisa nggak sih, kamu sehari saja tidak secantik ini" ucap Nadin sambil menatap takjub sahabatnya.
"Kau juga, bisa tidak sekali-sekali cantik gitu" ucap Clarissa yang tidak membalas pujian sahabatnya. Hal itu sontak saja membuat bibir Nadin manyun karena kesal.
"Haha, canda kali. Nadin adalah sahabatku tercantik sedunia dan ter imut. Plus-plus pokoknya. Ayo jalan!" ucap Clarissa kemudian menggandengkan tangan Nadin.
Saat ingin membuka pintu kamar Nadin. Clarissa terlihat celingak celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
"Kak Mahen tadi malam sudah pulang" ucap Nadin yang mengerti sikap dari sahabatnya ini.
"Syukurlah" ucap Clarissa kemudian memegang dadanya merasa lega. Sedari kemarin Mahen terus saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dengan tidak adanya dia setidaknya membuat jantungnya aman sekarang.
__ADS_1
"Kenapa? kau takut ketemu kak Mahen? Nggak kebalik?" ucap Nadin.
"Hmm, jangan bahas itu dulu. Ayo kita sarapan dulu. Aku sangat lapar sekarang" ucap Clarissa sambil memegang perutnya.
Saat sampai di meja makan, Clarissa langsung disambut oleh Nanda yang saat ini tengah menonton tv di ruang tamu.
"Nad, ajak Caca makan dulu" ucap Nanda dengan mata yang masih fokus menonton siaran TV.
"Iya Ma. Oya Ma kami izin mau cari peralatan untuk kemah ya. Mungkin pulangnya agak sorean nanti" ucap Nadin.
"Iya, asalkan jangan pulang malam" ucap Nanda.
"Siap Mama" ucap Nadin.
Saat ini mereka tengah memilih beberapa baju. Hal ini karena Clarissa tidak punya baju ganti. Jadi dia harus membeli baju juga untuk kemah besok.
Saat sedang sibuk memilih, dia tiba-tiba terfokus pada beberapa wanita yang tengah memilih baju.
"Kak Sindi" ucap Clarissa saat melihat Sindi.
"Hey, kau tau tidak, Si cewek kecentilan itu balik lagi loh" ucap Sindi.
__ADS_1
"Siapa?" tanya salah satu temannya.
"Siapa lagi, gadis tidak tahu malu yang bikin Mahen galau satu tahun yang lalu. Gw bener-bener nggak ikhlas kalau misalnya Mahen milih dia lagi" ucap Sindi.
"Iya, gw setuju banget. Walaupun bukan gw yang ditinggal. Tapi gw ikut sakit hati sama itu cewek. Banyak cewek yang ngejar-ngejar Mahen. Ehh pas dia udah dapet, dia malah ninggalin Mahen" ucapnya.
"Awas saja kalau sampai Mahen sama cewek nggak tahu malu itu. Gw lebih ikhlas Mahen sama Mia. Walaupun gw kesel juga, tapi gw ikhlas yang penting Mahen gw nggak sakit hati" ucap Sindi lagi.
Mendengar pembicaraan itu, entah kenapa hati Clarissa terasa sakit banget. Apa dia sejahat itu, mungkin benar dia memang sangat jahat sama Mahen. Dia tidak patut mendapatkan maaf dari Mahen. Seharusnya Mahen membencinya saja.
Dia merasa menjadi benalu untuk hidup Mahen. Dia hanya bisa menyakiti Mahen saja. Tiba-tiba setetes air bening keluar dari matanya. Dia langsung menghapus matanya dan mencoba tersenyum karena saat ini Nadin terlihat berjalan ke arahnya sambil membawa beberapa belanjaan miliknya.
"Udah selesai pilih bajunya?" Tanya Nadin.
Clarissa langsung menarik jari telunjuk di bibirnya.
"Kenapa?" Tanya Nadin.
Clarissa langsung menunjuk kearah beberapa wanita yang sangat tidak asing bagi Nadin. Yups, dia adalah Sindi, sang musuh bebuyutannya. Nadin sangat membenci Sindi karena dia mencoba mendekati Kakaknya demi dekat dengan Mahen.
"Ngapain dia disini? Dari sekian banyak orang kenapa harus ketemu dia sih" ucap Nadin kesal.
__ADS_1
-Bersambung-