
Saat ini, Clarissa sudah siap dengan baju sekolahnya. Setelah memikirkan semuanya, akhirnya dia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Singapura.
Namun dia tidak kembali ke sekolahnya yang dulu. Papanya mendaftarkan ke sekolah internasional yang khusus mempelajari bisnis.
Mau tidak mau Clarissa mengiyakan. Karena papanya memberi dua pilihan. Pergi ke Singapura, atau tetep diam di indo dan kuliah di tempat pilihan papanya.
Jadi demi tetap bisa bertemu dengan Mahen, Clarissa mengiyakan permintaan papanya.
Hari ini adalah hari pertama dia di sekolah barunya. Kejadian beberapa hari di puncak masih terngiang-ngiang di pikirannya. Bagaimana tidak, pelukan tidak terduga dan kalimat tidak terduga yang keluar dari mulut Mahen membuatnya tidak tidur beberapa hari ini.
Namun anehnya, setelah pulang dari puncak, Mahen tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan beberapa hari ini Mahen masih belum membalas chat darinya.
"Sepertinya, hari ini aku harus ke rumah kak Mahen. Aku bener-bener sudah sangat merindukannya" ucap Clarissa.
Dia berjalan melewati koridor sekolah dengan beberapa orang terlihat memperhatikannya.
Clarissa mencoba tersenyum ramah, namun bahkan tidak ada satupun yang membalas senyumannya. Mereka terlihat acuh tak acuh.
"Astaga, sombong-sombong sekali orang-orang ini" batin Clarissa.
"Mungkin karena sekolah internasional kali ya. Tapi bukannya sekolahku yang dulu juga hampir sederajat dengan sekolah ini. Tapi mereka tidak begini-gini banget" pikir Clarissa lagi.
__ADS_1
Dia mulai cemas tidak akan betah di sekolah ini. Tapi dia yakin dia akan terbiasa dengan sikap mereka.
Hingga dia tiba-tiba berhenti, karena seseorang yang sangat dia kenal disana.
"Kak Mark" teriak Clarissa yang terlihat begitu bersemangat. Karena akhirnya dia tidak akan kesepian disini. Setidaknya dia ada mengenal seseorang disini.
Mark langsung menoleh karena seseorang memanggilnya.
"Astaga, Caca" ucap Mark yang terlihat langsung tersenyum bahagia melihat seseorang di depannya.
"Kak Mark sekolah disini juga ternyata" ucap Clarissa saat dia sudah tepat di depan Mark.
Clarissa mengangguk dengan senyum yang mengembang.
"Wah, serius? sejak kapan?" Tanya Mark.
"Ini hari pertama kak" ucap Clarissa.
"Aku bahagia sekali dengernya. Berarti menghadap kepala sekolah dulu?" ucap Mark.
Clarissa mengangguk. Mark pun langsung mengantar Clarissa menuju ke ruang kepala sekolah.
__ADS_1
"Kak, Clarissa mau nanyak dong" ucap Clarissa.
"Tentu saja. Tanya saja. Apa sih yang nggak buat kamu" ucap Mark.
"Ini kak. Siswa disini kurang setrika kayaknya ya. Mukanya kusut-kusut semua. Susah banget senyumnya" ucap Clarissa yang langsung membuat Mark tertawa keras hingga membuat beberapa siswa melihat kearahnya.
Namun dia bersikap masa bodoh. Seperti hal itu sudah biasa terjadi.
"Mereka memang seperti itu. Itu kelas satu, masih beradaptasi kali. Disini itu tingkat persaingannya tinggi. Jadi kalau malesan dikit, bisa jadi rangking terakhir Ca. Mungkin mereka sedang memikirkan masalah hidup mereka yang semakin berat itu" ucap Mark yang tentu saja membuat Clarissa menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kak Mark bohongin Clarissa ya?" Tanya Clarissa penuh selidik.
"Haha, iya, kakak bercanda. tapi untuk bagian pertama emang bener. Tingkat persaingannya disini tinggi. Orang akan melakukan segala cara untuk juara satu kelas. Karena yang juara satu kelas akan sangat dihargai disini. Seperti kakak ini" ucap Mark menyombongkan diri.
Kali ini Clarissa percaya. Karena cukup logis.
"Pantes saja dari tadi merek terlihat segan sama kakak" ucap Clarissa sambil mengangguk tidak jelas.
"Ya udah, masuk gihh" ucap Mark saat mereka sudah sampai di ruang kepala sekolah.
-Bersambung-
__ADS_1