Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Cambukan


__ADS_3

Setelah mendapatkan telpon dari Nadin. Mahen langsung mengambil mobilnya dan melajukan mobilnya sekuat tenaga menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Dia langsung berlari ke ruangan Clarissa.


"Clarissa bagaimana?" ucap Mahen dengan nafas yang benar-benar sudah tidak beraturan.


"Clarissa di dalam kak. Dia belum sadar" ucap Nadin.


"Aku boleh masuk?" Tanya Mahen dengan nafas yang sudah sesak. Sesak karena lari dan sesak karena menahan tangisnya.


"Tidak" ucap Syam yang entah datang darimana.


"Pa" ucap Kirana berusaha menahan Syam agar tidak melakukan hal buruk di rumah sakit.


"Kenapa Om, Aku mau ketemu sama Clarissa. Aku yakin dia pasti membutuhkanku sekarang" ucap Mahen bersikeras. Rasanya kali ini dia harus melawan.


"Ikut aku dulu" ucap Syam pada Mahen.


"Tapi Om.." belum Mahen menyelesaikan ucapannya. Syam lebih dulu menyaut.


"Ikut aku dulu baru aku izinkan bertemu Clarissa" ucap Syam.


Mahen pun menurut, dia mengikuti Syam.


"Om kita mau kemana?" Tanya Mahen karena mereka naik lift menuju lantai paling atas.


"Ikut saja, jangan banyak nanyak" ucap Syam.


Mereka berdua pergi ke atap.


"Om" ucap Mahen ragu. Dia takut Syam akan berbuat jahat padanya dan mendorongnya dari ketinggian.


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun. Cepat sini" ucap Syam dengan wajah datarnya.


Syam berdiri sambil memandang jalanan di bawah sana.


Mahen yang merasa sudah sedikit aman. Mendekati Syam kemudian ikut melakukan hal yang sama.


"Kamu tahu kenapa aku membawamu kesini?" ucap Syam.


Mahen menggeleng.


"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan padamu. Dan aku tidak ingin ada orang lain yang tahu. Aku juga akan memberitahumu kenapa aku tidak merestui hubungan kalian" ucap Syam.


Mahen hanya bisa mengangguk. Dia memang harus tahu alasan kenapa dia tidak direstui selama ini.


"Kau ingat kau dulu dan Clarissa pernah saling mengenal?" Tanya Syam.


Mahen mengangguk mantap.


"Lalu kau ingat penculikan 11 tahun yang lalu?" Tanya Syam kembali.


Mahen menggeleng.


"Penculikan?" Tanya Mahen kembali.

__ADS_1


"Iya, penculikan yang melibatkanmu dengan Clarissa" ucap Syam.


"Saya tidak ingat sama sekali Om. Penculikan apa?" Tanya Mahen bingung.


Syam terdiam.


"Baiklah, akan aku ingatkan" ucap Syam.


#Flashback On


Alex terbangun, dia mencoba bangun. Namun kepalanya rasanya sangat sakit sekarang.


Saat membuka matanya, dia melihat Clarissa tengah terbaring di sampingnya.


"Ca, bangun Ca" ucap Alex sambil menepuk wajah Clarissa.


Setelah beberapa lama. Clarissa terlihat terbangun.


"Kak" ucap Clarissa.


"Iya, sekarang bangun, kita harus kabur dari sini" ucap Alex.


"Kita dimana kak?" Tanya Clarissa saat melihat ke sekeliling yang tampak begitu asing.


"Kita di basecamp pamanku" ucap Alex. Clarissa mulai ketakutan, karena sekelilingnya tampak begitu gelap.


"Kak, Caca takut" ucap Clarissa kemudian memeluk Alex.


"Jangan takut. Ada kakak disini" ucap Alex.


Clarissa langsung mengangguk mantap.


"Sekarang ayo bangun" ucap Alex.


Baru hendak ingin berdiri, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.


"Owh rupanya sudah bangun kalian" ucap Andre dengan seringai iblisnya.


"Paman, kenapa paman menculik kami. Sekarang lepaskan kami" ucap Alex.


"Hey, enak saja kau ini. Aku tidak akan melepaskan kalian. Aku akan menyiksamu disini. Aku akan membalas semua yang telah papamu lakukan padaku. Dan jangan pernah berharap kau bisa keluar dari sini hidup-hidup" ucap Andre.


"Apa maksud Paman. Bukankah papa selalu baik pada paman?" ucap Alex lagi.


Andre langsung tertawa sangat keras. Bahkan menggelegar hingga memenuhi ruangan tersebut.


"Hahah, Baik? cihhh, Baik apanya? Dia telah mengambil semua kekayaan yang harusnya milikku. Dia membuatku berada di rumah sakit jiwa bertahun-tahun. Itu kau bilang baik. Lihatlah ini lihat?" ucap Andre sambil memperlihatkan luka dipunggungnya.


Clarissa langsung menutup matanya. Karena takut melihat berapa banyak bekas luka ditubuh Andre.


"Itu bukan karena papa. Bukannya paman yang melukainya sendiri" ucap Alex yang memang sudah tahu semuanya.


"Diam kau. Ini gara-gara papamu. Kau tahu. Dan aku akan membalaskan ini semua padamu sekarang. Biar dia merasakan apa yang aku rasakan" ucap Andre dengan tatapan yang mematikan.


"Papa pasti akan kesini menyelamatkanku dan paman akan dipenjara" ucap Alex.

__ADS_1


"Bruk" Andre langsung menendang kayu di depannya. Hingga membuat Clarissa semakin meringkung ketakutan.


Alex langsung diam, dia memeluk Clarissa dan mencoba menenangkannya.


"Ambil cambukku" ucap Andre.


"Paman, tolong lepaskan temanku. Dia tidak salah. kenapa bawa dia dalam masalah ini?" ucap Alex lagi.


"Dia juga akan aku bunuh. Sehingga papanya akan menyalahkan papamu. Mereka akan saling bertarung dan aku sangat yakin, papamu akan hancur sehancur hancurnya. Hahah" ucap Andre.


"Kak, aku takut. Aku belum mau mati hiks" ucap Clarissa yang sudah menangis.


"Tenang Ca. Aku pasti akan melindungi mu. Tenang, aku udh menyalakan GPS. Papa pasti menemukan kita" bisik Alex.


Clarissa tidak mengerti apa maksud dari GPS. Tapi dia langsung mengangguk, dia mengerti pasti akan ada yang datang menolong mereka.


"Ini tuan" ucap seorang sambil memberikan cambuk pada Andre.


Andre pun langsung melayangkan cambuk tersebut pada badan keduanya. Tapi posisinya Alex menghadang cambuk tersebut agar tidak mengenai Clarissa. Hingga tubuhnya lah yang sekarang terkena cambukan itu.


"Kak Alex" teriak Clarissa dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Alex hanya bisa meringis menahan sakit di badannya.


"Hahaha. rupanya kau gentle juga" ucap Andre.


"Bos, sudah. Mereka masih sangat kecil. Dia sepertinya sangat kesakitan." ucap Jen.


"Apa kau mau menggantikannya?" Tanya Andre sambil menatap Jen dengan sangat kesal.


Jen diam dan tidak mampu berkata-kata lagi. Andre lagi-lagi melayangkan cambukannya.


"huh, sepertinya cukup untuk hari ini" ucap Andre kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Kak Alex hiks. Maaf. Ini karena Clarissa. Seharusnya Clarissa tidak mengikuti nenek sihir itu" ucap Clarissa sambil memeluk Alex yang saat ini tengah menahan sakit di tubuhnya.


"Sudah, tidak apa-apa. Yang terjadi biarkan berlalu. Sekarang kita harus kabur dari tempat ini" ucap Alex yang saat ini berusaha bangun.


"Tapi kakak terluka" ucap Clarissa sambil terus menangis.


"Kakak tidak apa-apa. Kakak nggak tahu kalau disini bisa bertahan sampai kapan. Untuk itulah, kamu harus selamat" ucap Alex.


"Kakak jangan bilang gitu, hiks" ucap Clarissa.


"Jangan nangis Ca. Kakak nggak suka cewek cengeng" ucap Alex sambil menghapus air mata Clarissa.


"Hiks hiks. Tapi kak Alex kesakitan. Maafin Clarissa" ucap Clarissa lagi.


"Kakak akan maafin kamu kalau kamu berhenti nangis sekarang" ucap Alex sambil tersenyum. Padahal saat ini dia tengah menahan sakit yang sangat luar biasa di punggungnya.


"Iya, Clarissa akan berhenti menangis. Lalu bagaimana cara kita keluar dari sini sekarang?" tanya Clarissa yang kemudian menghapus air mata di wajahnya.


"Kakak pikirkan dulu" ucap Alex.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2