Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Apa aku salah?


__ADS_3

"Assalamualaikum Ma" teriak Clarissa saat sudah sampai di ambang pintu.


Namun tidak kunjung ada jawaban dari Mamanya. Clarissa tidak berhenti di situ, dia memanggil mama nya sambil menyusuri rumahnya.


"Mama, Clarissa pulang" ucap Clarissa saat melihat Mamanya sedang memotong rumput di halaman belakang.


"Anak mama sudah pulang, ganti baju dulu gihh" ucap Kirana. Bukannya menurut Clarissa malah berlari kepelukan Mamanya. Dia memeluk Mamanya erat.


Kirana hanya terdiam, dia membiarkan anaknya memeluknya. Dia merasa terjadi sesuatu pada anaknya. Clarissa memang selalu seperti itu ketika sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Entah apa lagi masalah kali ini. Kirana pun melepas sarung tangannya dan membalas pelukan anaknya.


"Ayo bicara di dalam" ajak Kirana.


Clarissa diam saja kemudian menggeleng.


"Kenapa lagi sayang?" Tanya Kirana. Clarissa mengangkat wajahnya. Terlihat jelas jika dia habis menangis. Lama di dalam pelukan Kirana ternyata dia sedang menangis.


Siapa yang tahu jika wajah dan senyum ceria Clarissa di sekolah ternyata hanya sebuah topeng. Dia memendam masalah yang hanya dia yang tahu.


Di memang tipe orang yang tidak suka menceritakan masalah nya pada orang lain, dia hanya akan memendamnya sendiri atau menceritakan mamanya jika dia sudah tidak tahan lagi.


"Clarissa capek Ma" ucap Clarissa sambil menatap nanar mamanya.


"Iya Mama mengerti apa yang kamu rasakan Ca. Maafkan papa ya sayang" ucap Kirana. Clarissa menggeleng sambil mengusap air matanya.


"Clarissa harus milih Ma. Clarissa nggak mau gini terus. Semakin Clarissa dekat dengan kak Mahen. Rasa suka Clarissa semakin besar Ma. Clarissa nggak mau jika perasaan ini semakin besar nantinya. Clarissa sudah memutuskan Ma bahwa ini terakhir kalinya Clarissa dekat dengan kak Mahen. Clarissa sayang papa Ma. Clarissa ingin berbakti sama papa. Walaupun pada akhirnya Clarissa yang akan sakit hati" ucap Clarissa dengan air mata yang terus mengalir.


"Kamu yakin sayang? coba kamu pikirkan baik-baik lagi ya. Yang pasti mama akan selalu mendukung semua keputusanmu" ucap Kirana sambil mengelus rambut Clarissa lembut.

__ADS_1


"Clarissa coba ma. Clarissa juga nggak mau nyakitin kak Mahen. Clarissa akan fokus belajar bisnis juga Ma" ucap Clarissa.


"Mama seneng dengernya. Mama akan selalu dukung keputusan kamu sayang. Papa pasti sangat senang jika mendengar ini" ucap Kirana sambil tersenyum bahagia. Senyum penuh bangga bahwa anaknya memiliki pemikiran yang sangat dewasa.


"Makasi Ma" ucap Clarissa kemudian kembali memeluk Mamanya erat dan tentunya dengan air mata yang kembali mengalir deras.


Sudah lebih dari seminggu ini Clarissa selalu memikirkan kata-kata papanya. Kalimat itu terus menari-nari di kepalanya.


#Flashback


Hari ini seperti biasa Clarissa di antar oleh Mahen. Namun kali ini tampak berbeda, karena dia disambut oleh papanya untuk pertama kalinya.


"Makasi ya kak" ucap Clarissa dengan senyum yang mengembang tentunya.


"Assalamualaikum om" ucap Mahen kemudian mencium tangan Syam.


"Waalaikummussalam" ucap Syam tanpa ekspresi.


"Iya Om" ucap Mahen sambil mengangguk.


"Jauhi anak saya" ucap Syam penuh penekanan.


Mahen dan Clarissa terlihat begitu terkejut. Untuk pertama kalinya Clarissa melihat Papanya begini pada seseorang


"Pa" ucap Clarissa dengan suara lemah tapi penuh penolakan.


"Masuk Ca" ucap Papa penuh penekanan.


"Nggak Pa. Papa jelasin dulu kenapa papa suruh kak Mahen jauhi Clarissa?" ucap Clarissa dengan suara yang meninggi.

__ADS_1


"Masuk!!!!" tegas Syam. Clarissa menggeleng, dia benar-benar tidak rela dengan keputusan papanya.


"Ca" ucap Mahen lembut dan memberi kode agar Clarissa menuruti perkataan papanya.


"Tidak Kak. Kakak pulang dulu, nanti biar Clarissa yang ngomong sama papa" ucap Clarissa kemudian meminta Mahen untuk pulang.


"Tapi Ca" ucap Mahen.


"Nggak apa-apa kak. Nanti Clarissa yang bicara sama papa" ucap Clarissa.


"Baiklah Ca. Om saya permisi" ucap Mahen. Syam hanya diam saja tanpa berniat menjawab.


Sebenarnya dia bisa saja memisahkan anaknya secara paksa dengan mengirim Clarissa kuliah ke luar negeri atau memberi pelajaran pada Mahen. Tapi dia sangat tahu siapa Mahen dan dari keluarga apa. Dia hanya tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk hal yang menurutnya tidak penting ini.


Setelah kepergian Mahen, Clarissa langsung menatap Papanya.


"Pa, apa maksud papa?" Tanya Clarissa.


Syam hanya diam kemudian berjalan ke dalam rumah.


"Apa kamu tidak bisa dengar apa yang papa bilang. Jauhi dia, kamu lebih sayang papa atau dia? ingat cinta-cintaan tidak akan membuatmu sukses. Kamu penerus perusahaan papa. Papa mau kamu fokus untuk belajar bisnis" ucap Syam.


"Sudah berapa kali Clarissa bilang pa. Clarissa nggak mau Pa" ucap Clarissa.


"Ca, kamu satu-satunya harapan papa. Papa punya banyak musuh bisnis disana. Kalau papa tidak ada nanti, tidak ada yang jaga kalian, tidak ada yang jaga mama, tidak ada yang meneruskan perusahaan sayang, setidaknya dengan semua bisnis papa, para musuh papa tidak akan akan berani menyakiti kamu ataupun mama" ucap Syam dengan suara yang terdengar sedikit serak.


"Papa melakukan ini karena papa sayang sama kalian" ucap Syam lagi.


Syam pun pergi begitu saja meninggalkan Clarissa sendiri. Ada rasa bersalah yang dirasakan sekarang.

__ADS_1


"Apa aku salah jika ingin meraih mimpiku sendiri" ucap Clarissa kemudian menutup wajahnya frustasi.


-Bersambung-


__ADS_2