
Mahen langsung mengantar Clarissa ke rumahnya. Disana sudah ada Syam berdiri bersama dengan Kirana dan beberapa pengawal di sampingnya.
"Ada apa ini" ucap Clarissa.
Mahen hanya diam. Dia mulai menggerakkan mobilnya menuju halaman rumah.
Dia langsung turun, kemudian membantu Clarissa turun.
"Ca" ucap Kirana kemudian mendekati anaknya. Dia terlihat begitu khawatir karena melihat perban di lengan Clarissa.
"Clarissa tidak apa-apa Ma. Ini hanya luka kecil. Kak Mahen saja yang berlebihan sampai bawa Clarissa ke klinik" ucap Clarissa dengan senyum kecil sambil melihat Mahen.
Mahen hanya diam, dia kemudian mencium tangan Kirana. Kemudian bergantian ke Syam.
Namun Syam langsung menarik tangannya.
"Ca Masuk" ucap Syam.
"Kak Mahen pulang saja duluan" ucap Clarissa mengabaikan Papanya.
Mahen menggeleng.
"Kamu masuk Ca. Ingat dengerin kata ucapan orang tua" ucap Mahen.
Clarissa pun menurut, dia langsung masuk. Berat sekali rasanya meninggalkan Mahen dengan Papanya berdua.
Namun apa boleh buat, dia hanya bisa menurut.
"Papa Nggak boleh jahat sama kak Mahen" ucap Clarissa sebelum pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Setelah kepergian Clarissa. Syam langsung mendekati Mahen.
"Aku sudah bilang apa sama kamu?" ucap Syam dengan muka menahan amarah.
"Maaf Om, tapi saya mencintai Clarissa" ucap Mahen mantap.
"Kau tahu apa kesalahanmu? Kenapa aku tidak merestui hubungan kalian?" Ucap Syam.
Mahen mengangguk tanda mengerti.
"Saya akan berusaha menjaga Clarissa om. Dengan seluruh hidup saya. Saya berani mempertaruhkannya demi Clarissa" ucap Mahen.
"Cihhh. Kau lihat anak saya sekarang. Dia terluka. Kau ingat 11 tahun yang lalu? dia juga terluka. Dan itu semua karena ada kamu" ucap Syam sambil mengepalkan tangannya. Rasanya tangannya ingin segera memukul Mahen sekarang. Tapi dia mencoba menahannya karena mengingat dengan siapa dia sedang berhadapan sekarang. Dia sangat malas untuk meladeni keluarga Alexander.
Mahen terlihat membisu, dia bingung harus menjawab apa. Karena memang benar apa yang Syam katakan.
"Saya akan berusaha menjaga Clarissa Om" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Mahen.
Yups, Syam akhirnya memberikan pukulan yang sangat keras. Hingga membuat pipi Mahen berdarah sekarang.
"Kak Mahen" teriak Clarissa dari dalam saat mendengar suara pukulan itu.
Beberapa pengawal langsung memegang Clarissa. Menghalanginya untuk mendekati Mahen.
"Kak Mahen" ucap Clarissa dengan air mata yang sudah mengalir.
"Pulanglah. Ingat jangan dekati anak saya" ucap Syam kemudian menyuruh semuanya masuk.
Mahen hanya terdiam sambil melihat Clarissa yang saat ini tengah menangis sambil berusaha memberontak dari beberapa pengawal yang menghalangi tubuhnya.
__ADS_1
Mahen tersenyum. Kemudian memberi kode pada Clarissa bahwa dia baik-baik saja.
Pintu rumah Clarissa langsung ditutup. Mahen hanya bisa menatap miris pintu tersebut.
Didalam rumah Clarissa tengah menangis sejadi-jadinya.
"Papa jahat. Kenapa papa pukul Kak Mahen. Papa jahat. Clarissa benci sama Papa" ucap Clarissa kemudian berlari ke kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
Dia mengambil Hpnya kemudian menelpon seseorang.
"Kak Mahen, hiks" ucap Clarissa dari seberang telpon.
Mahen yang saat ini tengah di mobilnya tidak mampu berkata banyak.
"Maafin papa ya kak, hiks" ucap Clarissa lagi.
"Kakak nggak apa-apa Ca. Percayalah!" ucap Mahen.
"Hiks, hiks, maaf kak" ucap Clarissa. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Dia sudah tidak mampu membendung tangisnya lagi. Dia terus menangis.
"Udah, jangan nangis lagi. Sayang loh cantiknya nanti hilang" ucap Mahen.
Clarissa menggeleng.
"Kalau harus kuat Ca. Kita harus kuat ya. Kita pasti bisa melewati ini. Kalau kamu nangis, nanti kakak juga ikut sedih" ucap Mahen.
"Hiks, Maaf kak. Clarissa nggak nangis lagi kok. Kakak nggak boleh sedih. Sekarang kakak ke rumah sakit. Obatin lukanya kak" ucap Clarissa.
__ADS_1
Mahen tersenyum. Dia mengiyakan ucapan Clarissa kemudian panggilan telpon pun berakhir.
-Bersambung-