
"Iya kak? ada apa?" Tanya Clarissa saat melihat pantulan Mahen di hpnya.
"Kamu udah ngapain? tumben pakai make up" ucap Mahen sambil mengamati wajah Clarissa.
Clarissa yang merasa risih dengan tatapan mahen langsung saja mengalihkan kameranya ke lain.
"Hey, mana wajahmu?" Protes mahen. Clarissa membiarkan saja mahen berbicara apa. Dia bertanya lagi apa maksud mahen menghubunginya malam-malam begini.
"Kak Mahen ada apa menelpon? langsung saja. Clarissa lagi males ngeladenin siapapun" ucap Clarissa.
"Lihat wajahmu dulu. Astaga. Ya kali aku berbicara dengan tembok" ucap Mahen. Clarissa pun langsung mengarahkan kamera ke wajahnya lagi. Dengan wajah cemberut di menatap layar ponsel di hpnya.
"Besok berangkat bareng ya. Tidak ada penolakan" ucap Mahen.
"Tidak bisa kak. Besok Clarissa mau berangkat sama kak Bryan. Kalau mau ikut sekalian ayok saja" ucap Clarissa dengan entengnya.
Mendengar Bryan disebut. Ekspresi mahen langsung berubah. Ada kekesalan di wajahnya. Tapi dia terlihat menahannya dengan sangat baik.
"Hmm, ya sudah tidak jadi. Sampai ketemu di sekolah saja" ucap Mahen kemudian mematikan telponnya begitu saja.
"Ish tidak sopan sekali. Menyebalkan. Tapi, apa dia tidak cemburu jika aku jalan sama kak Bryan?" batin Clarissa.
"Ishhh, kenapa juga dia cemburu. Tidak mungkin. Udah udah aku mikirin apa sih" ucap Clarissa lagi.
Setelah berdebat panjang dengan pikirannya. Dia kemudian memilih membersihkan dirinya di kamar mandi.
Dia memang lelah sekali. Tapi dia tidak terbiasa untuk tidur dengan badan yang belum dibersihkan.
Disisi lain, Mahen terlihat termenung sendiri setelah mematikan telpon dari Clarissa. Entah mengapa dia kepikiran hari esok.
"Apa besok aku ke rumah nya saja lebih pagi. Aku benar-benar tidak ikhlas" ucap Mahen.
Dia benar-benar tidak bisa tidur saat ini. Dia berusaha keras memejamkan matanya. Namun benar-benar tidak bisa.
Bayangan Clarissa akan jalan berdua dengan Bryan terus menari-nari di pikirannya. Dia ingin sekali tidur, karena dia harus berangkat lebih awal besok. Tapi disisi lain, pikirannya tidak bisa diajak berkompromi.
__ADS_1
"Ishh, kenapa bayangan mereka dipikiranku terus" ucap Mahen sambil menendangkan kakinya di udara.
"Kring" suara pesan masuk di hpnya mengehentikan lamunan nya.
'Buka IG cepat' sebuah pesan singkat dari Alex.
"Ada apa sih ini. Nggak penting banget. Nggak tahu apa aku lagi galau" ucap Mahen kemudian menghempaskan hpnya ke kasur kembali.
"Hmmm. Tapi aku kepo" ucap Mahen kemudian mengambil hpnya dan mulai membuka akun IG nya.
Dia mencoba mencari maksud dari pesan Alex tadi. Hingga dia berada di sebuah postingan Bryan yang di upload kurang dari 1 menit yang lalu.
'Mine' tertulis disana.
sebuah foto seorang perempuan yang tengah duduk di pinggir kolam sambil memandang lurus ke kolam di depannya.
"Sial" ucap Mahen seketika. Dia begitu kesal melihat postingan itu. Darahnya terasa mendidih. Entah kenapa dia begitu kesal saat melihat postingan itu.
"Clarissa adalah milikku. Dari dulu sampai sekarang. Kenapa dia menulis seperti itu. Sungguh menyebalkan. Aku tidak akan kalah. Liat saja besok" ucap Mahen sambil mengepalkan tangannya.
Keesokan paginya. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Mahen sudah bersiap-siap dengan baju seragamnya.
Dia langsung saja mengambil motornya dan berangkat ke sekolah. Karena jarak rumahnya ke rumah Clarissa sangat dekat, Kurang dari 5 menit dia sudah sampai di depan rumah Clarissa.
Drrtttt (Hp Clarissa berbunyi)
Saat itu posisinya Clarissa baru selesai mandi.
"Ada apa pagi-pagi menelpon" batin Clarissa saat melihat nama mahen tertulis disana.
"Hallo" ucap Clarissa saat sambungan telpon tersambung.
"Cepat turun. aku di depan. Kita berangkat bareng" ucap Mahen dengan suara tegas dan penuh penekanan.
"ehhh, aku baru selesai mandi kak. Lagi pula ini masih pagi. Aku juga nanti berangkat pakai sepeda kak" ucap Clarissa.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan. Cepat ca. Kalau sampai dalam waktu 5 menit kamu tidak turun. Kakak akan masuk" ucap Mahen.
"Heh, bisa-bisanya. Emang kakak berani sama papa dan mama. Masuk aja. Ada anjing tu di depan kalau berani" ucap Clarissa.
"Aku tidak takut. Cepat Ca" ucap Mahen.
"Iya-iya. Bentar. 10 menit ya" ucap Clarissa kemudian mematikan telpon.
"Ada-Ada saja. Bagaimana bisa dia mau berangkat sepagi ini. Dan apa tadi dia menyuruhku cepat. Emang dia pikir aku ini apanya yang bisa-bisa di suruh seperti itu" ucap Clarissa.
Dia terus Ngedumel sendiri. Tapi dia juga tetap bergerak cepat karena kepikiran jika Mahen menunggu terlalu lama dibawah.
"Ca, ada temenmu di luar kenapa tidak disuruh masuk?" teriak mama dari bawah.
"Biarin saja ma" teriak Clarissa sambil menyisir rambutnya.
"Ini sudah di bawah. Cepat dia nungguin kamu ini" ucap Mama selang beberapa lama.
"Gila" ucap Clarissa kemudian memasukkan bukunya di tas nya dan berjalan keluar.
"Pagi Ca" ucap Mahen sambil tersenyum manis pada Clarissa.
"Iya kak. Ayo berangkat" ucap Clarissa.
"Lah nggak sarapan dulu ca?" tanya Mama kirana.
"Hmm, nanti saja. Papa mana ma?" Tanya Clarissa.
"Udah berangkat tadi subuh. Ada perjalanan dinas ke Singapura. Sarapan dulu gih. Ajak Mahen juga. Tenang kalau sama mama aman kok" ucap Mama kirana sambil mengedipkan sebelah bola matanya.
"Apaan sih Ma. Nanti saja deh. Oya, nanti kalau kak Bryan kesini. Bilang saja udah berangkat duluan ya ma" ucap Clarissa kemudian mencium pipi mamanya dan berangkat pergi.
"Ehhh" belum Kirana menyelesaikan ucapannya. Clarissa sudah menghilang dari balik pintu.
-Bersambung-
__ADS_1