
"Hey mahen, kau dari mana saja?" Tanya Nathan saat melihat Alex dan Mahen berjalan kearahnya.
Mahen dan Alex berjalan dengan sangat cool hingga membuat beberapa siswi di sana tidak mampu melepaskan tatapannya dari mereka berdua. Seperti seorang pangeran yang tengah berjalan diantara rakyat-rakyatnya.
Namun bukannya menjawab, Mahen langsung menatap Bryan dalam diam. Begitu juga dengan Bryan yang menatap Mahen tanpa berkata apapun.
Terlihat jelas tatapan penuh kemarahan terpancar di mata keduanya. Alex dan Nathan yang melihat itu saling menatap satu sama lain.
Mereka seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua sahabatnya ini.
"Sepertinya akan terjadi perang dunia. Namun semoga tidak" batin Nathan dan Alex.
Nathan mencoba memberi kode pada Alex dengan mengedipkan matanya. Namun Alex hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Ishh dasar manusia es ketiga, sama saja. Masak harus aku yang mulai berbicara. Tapi kalau tidak, tubuhku bisa-bisa membeku. Apalagi melihat tatapan mematikan keduanya" batin Nathan.
"Hey, kalian kenapa, ayo kita masuk kelas. Bel masuk sudah bunyi dari tadi. Liat pak Anton tuh" ucap Nathan sambil menepuk bahu keduanya. Dia mencoba mencairkan suasana yang sepertinya tidak akan mencair.
Mereka berdua hanya diam sambil menatap satu sama lain. Bahkan mereka tidak bergeming sekali dengan ucapan Nathan barusan.
__ADS_1
Beberapa siswi disana terlihat sedang memperhatikan mereka. Mereka terlihat berbisik-bisik. Mencoba menyampaikan pendapat mereka masing-masing mengenai apa yang terjadi.
Nathan yang melihat itu, semakin tidak tenang. Berbeda dengan Alex yang terlihat biasa saja. Bahkan saat ini Alex memilih untuk duduk dan memperhatikan apa yang akan terjadi.
"Hey, ayo bantu aku" bisik Nathan pada Alex.
"Biarkan saja, lagi pula mereka bukan anak SD yang perlu dilerai" ucap Alex.
"Ishh kau menyebalkan sekali. Bangun cepat. Lihat pak Anton tuh udah mau masuk kelas" ucap Nathan saat melihat pak Anton dikejauhan sedang berjalan kearahnya. Namun Alex juga tidak bergeming. Hingga mau tidak mau dia harus menggunakan kekerasan.
"Ayo, astaga" ucap Nathan kemudian menarik lengan Bryan dan Mahen sekaligus. Jadi mau tidak mau mahen mengikutinya. Berbeda dengan Bryan yang langsung menarik tangannya dari Nathan, kemudian meminta mereka untuk jalan duluan karena dia ada urusan.
"Hey, kau mau kemana?" Tanya Nathan. Bryan membalas hanya dengan mengangkat tangannya.
"Kalian duluan saja, aku ada urusan sebentar" ucap Mahen kemudian melepas tangannya dari tangan Nathan.
"Ya sudahlah, ayo. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka" ucap Alex kemudian menarik tangan Nathan.
Mahen mengikuti Bryan dari belakang. Dia berjalan begitu santainya. Hingga dia sampai di tempat yang cukup sepi, Mahen langsung menarik bahu Bryan.
__ADS_1
"Aku bisa menjelaskan semuanya" ucap Mahen langsung.
"Sudahlah, itu tidak penting" ucap Bryan kemudian menghempaskan tangan Mahen yang ada di bahunya.
"Aku juga menyukai Clarissa" ucap Mahen kemudian.
"Brukkk" satu pukulan menghantam wajah Mahen.
"Brukk" Mahen membalas, satu pukulan berhasil mendarat di wajah Bryan.
Bryan ingin membalas, namun Mahen langsung menahan tangannya kuat.
"Jika kau juga menyukai Clarissa, mari kita bersaing secara sehat" ucap Mahen.
"Aku tidak ingin karena wanita persahabatan kita jadi renggang. Siapapun yang menang, yang kalah harus terima semuanya" tambah mahen lagi.
Kepalan tangan Bryan langsung melemas. Dia langsung menarik tangannya.
"Baiklah deal" ucap Bryan.
__ADS_1
"Deal" ucap Mahen kemudian tersenyum. Begitupun dengan Bryan.
-Bersambung-