
Clarissa keluar dari kamarnya. Dia mendekati Kirana dan Syam yang saat ini tengah duduk berdua di ruang tamu.
Terlihat jelas jika mamanya sehabis menangis. Begitupun dengan Syam yang terlihat menatap kosong ke arah layar tv yang sedang menyala.
"Ma Pa" ucap Clarissa. Keduanya langsung menoleh.
"Ca, kamu makan sayang. Ayo Mama siapin" ucap Kirana yang langsung berdiri. Clarissa langsung menggeleng.
"Clarissa mau bicara sama Papa boleh?" ucap Clarissa ragu.
"Duduklah" ucap Syam.
Clarissa langsung menurut.
"Pa" ucap Clarissa.
"Bicaralah" ucap Syam tanpa melihat ke arah Clarissa.
"Kenapa papa sangat membenci kak Mahen?" Tanya Clarissa langsung.
Syam terlihat diam beberapa saat.
"Aku tidak membencinya" ucap Syam.
"Lalu kenapa pa? kenapa papa tidak merestui hubungan kami" tanya Clarissa dengan suara yang terdengar mulai bergetar.
"Kau tidak bisa dengannya Ca. Papa tidak bisa memberitahu alasannya. Yang terpenting, papa melakukan ini karena tidak ingin anak papa satu-satunya terluka" ucap Syam.
"Pa, jika itu alasannya. Papa tahu kan Clarissa bisa jaga diri" ucap Clarissa.
Syam menggeleng.
"Ini berbeda Ca. Kau tidak tahu bagaimana keluarga laki-laki itu. Papa tidak ingin kau dalam bahaya" ucap Syam kembali.
__ADS_1
"Apa maksud papa? Apa yang Clarissa tidak tahu?" Tanya Clarissa yang tidak terima dengan ucapan Papanya.
"Masuklah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi" ucap Syam.
"Pa, jangan buat Clarissa benci sama papa. Tolong jelaskan pada Clarissa" ucap Clarissa dengan wajah yang memelas.
Syam terdiam, dia nampak menimbang-nimbang.
"Kau belum cukup umur untuk tahu ini semua" ucap Syam.
"Pa, Clarissa sudah 17 tahun. Belum cukup umur bagaimana?" ucap Clarissa.
"Baiklah" ucap Syam kemudian bangun dan masuk ke ruang kerjanya.
Setelah beberapa lama menunggu, Syam terlihat keluar dengan amplop di tangannya.
Dia langsung memberikan amplop itu pada Clarissa.
"Apa ini pa?" Tanya Clarissa.
"Ini siapa?" Tanya Clarissa.
Sosok anak kecil yang ada di mimpinya.
"Itu kamu dan Mahen" ucap Syam.
"Kak Mahen?" Tanya Clarissa tidak percaya. Dia mencoba mengingat-ingat memori masa lalu. Tapi tidak ada sedikitpun terlintas di kepalanya.
"Iya" ucap Syam.
"Kenapa Clarissa tidak ingat sama sekali?" Tanya Clarissa karena memang tidak ada satupun kenangan jika dia pernah bersama anak kecil ini dulu.
Bahkan di foto tersebut dia memeluk anak kecil tersebut. Berarti dia benar-benar dekat.
__ADS_1
Dia terus berusaha mengingat. Namun susah sekali rasanya.
"Awwwww" tiba-tiba kepala Clarissa terasa sangat sakit. Dia terlalu memaksakan diri.
"Sakit pa" ucap Clarissa. Syam langsung panik, begitu pun Kirana yang langsung berlari menghampiri anaknya.
"Sudah Ca. Jangan dipaksakan. Ma, panggil Leon. Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Syam.
Clarissa terus memegang kepalanya. Dia berusaha menahannya, tapi rasanya sakit sekali. Hingga dia pun tidak sadarkan diri.
Nadin yang mendengar keributan, langsung turun.
"Om tante Clarissa kenapa?" Tanya Nadin yang terlihat panik.
"Ikut Tante ke rumah sakit" ucap Kirana kemudian mengikuti langkah Syam yang saat ini membawa Kirana keluar.
Nadin terlihat menangis. Dia begitu terkejut melihat Clarissa yang saat ini pingsan dan tidak sadarkan diri.
"Tante Clarissa tidak apa-apa kan?" Tanya Nadin dengan air mata yang sudah mengalir.
" Kita doakan ya sayang" ucap Kirana yang juga terlihat begitu panik. Namun dia berusaha menahan dirinya.
Leon melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya dia sampai di rumah sakit. Para tim medis langsung berlarian membantu Syam.
"Bawa ke UGD" ucap dokter.
Mereka mengikuti Clarissa yang dibawa ke UGD. Kirana terus berdoa dalam hati, berharap anaknya baik-baik saja. Sedangkan Syam terus mengepalkan tangannya. Dia begitu menyesal atas apa yang dia lakukan tadi.
"Tuan dan Nyonya harap tunggu disini" ucap salah seorang perawat. Mereka pun menunggu di luar.
"Pa bagaimana ini?" ucap Kirana dengan air mata yang sudah mengalir deras.
__ADS_1
"Dia pasti akan baik-baik saja. Anak kita kuat Ma" ucap Syam sambil memeluk Kirana erat.
-Bersambung-