
"Door" suara tembakan memenuhi ruangan.
Pistol yang ada di tangan Andre terjatuh seketika.
Ternyata Mahen berhasil memanfaatkan keadaan dan menjatuhkan pistol ditangan Andre dengan sekali tembakan.
Semua orang terlihat begitu terkejut.
Andre segera ingin mengambil pistolnya lagi. Namun tembakan kedua kembali diluncurkan. Hingga mengenai pergelangan kakinya. Andre pun tumbang. Indra langsung mengambil pistol tersebut dan mengamankannya.
"Berikan aku pistol itu Indra, Kau memilih mereka atau papamu ini?" Tanya Andre.
"Maafkan aku Pa, ini demi kebaikan papa" ucap Indra.
Mahen pun langsung berlari ke Clarissa.
"Kau tidak apa-apa sayang?" Tanya Mahen sambil memegang wajah Clarissa yang terlihat begitu pucat.
Clarissa hanya membalas dengan anggukan. Mahen pun langsung memeluk Clarissa erat.
"Kalian, bawa mereka ke yang berwajib" ucap Mahen pada anak buahnya.
Lee, dan beberapa anak buahnya pun langsung diikat dan dibawa pergi. Begitupun dengan Andre.
Indra hanya melihat ayah nya dengan tatapan sedih.
"Terima kasih kak" ucap Nathan sambil menepuk bahu Indra.
Indra hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kalian bawalah teman-teman kalian. Mereka perlu mendapatkan penanganan" ucap Indra.
__ADS_1
"Pak Indra terima kasih" ucap Clarissa dengan wajah yang pucatnya.
"Sama-sama. Aku bersyukur kau baik-baik saja" ucap Indra sambil memegang kepala Clarissa lembut.
Mereka pun langsung pergi dari tempat tersebut. Mahen membopong Clarissa. Nathan mengangkat Nadin yang masih pingsan. Kemudian Bryan membantu Mark.
Clarissa hanya diam sambil menatap Mahen yang saat ini menggendongnya.
"Aku sangat beruntung memiliki kak Mahen" batin Clarissa.
"Jangan menatapku seperti itu" ucap Mahen sambil terus menatap lurus ke depan.
Clarissa tersenyum. Dia memilih membenamkan wajahnya pada tubuh Mahen sekarang.
***
Saat ini Mahen sedang menjaga Clarissa di rumah sakit.
"Kak, Nadin sama kak Mark dimana?" Tanya Clarissa.
"Mereka baik-baik saja. Mereka di ruang sebelah. Nadin sudah baikan, mungkin sedang di jaga Alex disana. Mark langsung pulang kemarin. Katanya ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal. Dia titip salam padamu" ucap Mahen.
Clarissa hanya mengangguk. Entah kenapa dia merasa bersalah atas apa yang terjadi kemarin. Kalau bukan karena idenya yang mengajak Mereka, mungkin mereka baik-baik saja.
"Kak Aku jahat banget ya?" Tanya Clarissa.
"Gara-gara aku mereka jadi seperti itu" ucap Clarissa lagi.
"Stttst, Jangan bilang begitu. Tidak ada yang perlu disalahkan. Semuanya sudah terjadi, jadikan pelajaran ya. Jangan seperti itu lagi. Ini memang sudah jalannya" ucap Mahen sambil mengelus wajah Clarissa.
Clarissa hanya diam sambil mengangguk.
__ADS_1
"Kakak tidak kuliah?" Tanya Clarissa.
"Kuliah Online Ca. Gampang lah" ucap Mahen sambil terus menatap Clarissa.
Clarissa cemberut.
"Enak ya bisa kuliah Online" ucap Clarissa kemudian.
"Kalau kamu mau juga, cepetin lulus sekolahnya" ucap Mahen.
"Mana bisa begitu. Kalau bisa, aku mau lulus hari ini juga" ucapnya.
Mahen tersenyum sambil menggenggam tangan Clarissa.
"Ca, aku sudah memikirkan ini semua. Bagaimana kalau kita nikah saja?" Ucap Mahen dengan wajah yang terlihat sangat serius.
Clarissa terdiam sesaat. Dia sedikit syok dengan ucapan Mahen.
"Tapi sekolah Clarissa gimana kak?" Tanyanya kemudian.
"Kamu ambil home schooling saja. Banyak kok di Amrik. Biar kamu ikut kakak saja. Aku bener-bener nggak sanggup kalau jauh terus dari kamu Ca. Dan ini satu tahun lagi loh aku harus nunggu" ucap Mahen.
"Hmmm" Clarissa tampak menimbang-nimbang.
"Aku mau saja kak. Tapi blum tentu mama papa ngizinin. Kakak tahu sendiri kan" ucap Clarissa.
"Nanti kakak yang akan bicara pada mereka. Asalkan kamu setuju dulu" ucap Mahen.
Clarissa pun hanya mengangguk.
-Bersambung-
__ADS_1