Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Tidak Asing


__ADS_3

"Kak Bryan, Caca mana?" Tanya Nadin saat tidak menemukan Clarissa disana.


Mereka sudah sampai di puncak. Tepatnya di Vila milik keluarga Nadin.


"masih di bawah" ucap Bryan.


"Si putri masih tidur. Mahen ku terpaksa diam disana menungguinya" ucap Mia dengan wajah yang terlihat kesal.


"Astaga, bisa-bisanya" ucap Nadin namun dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Disisi lain, Mahen saat ini tengah memandangi wajah Clarissa yang masih terlelap. Merentangkan tangannya agar matahari tidak mengganggu tidurnya.


Ingin sekali dia membangunkan Clarissa, namun dia sangat tidak enak hati melakukannya. Hingga dia pun memilih agar Clarissa bangun sendiri.


"Tittt tiiitt" suara Klakson mobil tiba-tiba terdengar di belakangnya. Hingga mau tidak mau, membuat Clarissa terganggu.


Dia membuka matanya perlahan kemudian melihat ke sekeliling.


Mahen tersenyum. Clarissa memejamkan matanya lagi.


"Mimpi indah. Boleh nggak aku nggak usah bangun dulu. Kapan lagi lihat senyum Kak Mahen" ucap Clarissa kemudian tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


Dia pikir dia masih tertidur. Mahen sedang berada di mimpinya.


"Nggak boleh. Kita sudah ditunggu di atas" ucap Mahen.


"Kok bisa kak Mahen berbicara selancar itu dalam mimpiku" ucap Clarissa.

__ADS_1


Mahen hanya tersenyum. Dia seperti sedang menahan tawanya melihat tingkah Clarissa yang menurutnya sangat lucu.


"Astaga" ucap Clarissa yang langsung tersada r dan membuka matanya.


"Kak, kenapa nggak bangunin Clarissa dari tadi" ucap Clarissa sambil melihat ke sekelilingnya yang nampak sepi.


"Aku tidak enak jika membangunkanmu. Ya sudah ayo kita naik ke atas" ucap Mahen yang kemudian turun dari mobil dan meninggalkan Clarissa yang masih merutuki kebodohannya.


"Bisa-bisanya aku berbicara seperti itu" ucap Clarissa sambil memukul-mukul mulutnya.


"Ayo Ca" ucap Mahen yang membuat Clarissa langsung turun dari mobil.


"Bawa ini saja ya" ucap Mahen sambil memberikan tenda pada Clarissa.


"Sisanya?" Tanya Clarissa karena masih melihat beberapa barang di sana, bahkan ada tas milik Mia disana.


"Bisa-bisanya dia nggak bawa barangnya sendiri" batin Clarissa.


"Clarissa bawa barang Clarissa sendiri saja kak" tawar Clarissa yang merasa tidak enak.


"Kakak saja. Ayo" ucap Mahen kemudian membawa semua barang itu sendiri.


Clarissa tidak mampu berkata-kata, dia hanya bisa menurut.


"Kak, tadi Clarissa ngiler nggak?" Tanya Clarissa.


"Hmmm" ucap Mahen.

__ADS_1


"Astaga" ucap Clarissa kemudian menutup wajahnya karena malu.


"Kau tetap Cantik" ucap Mahen.


"Deg" Jantung Clarissa kembali di buat tidak karuan. Clarissa pun diam untuk menetralkan jantungnya sendiri.


Hanya perkataan sederhana itu berhasil membuatnya jantungnya berdetak tidak karuan sekarang.


"Ayo Ca" ucap Mahen yang terlihat kewalahan membawa barang-barang di tangannya.


Clarissa pun berlari mengejar Mahen.


"Emang Clarissa cantik Kak?" Tanya Clarissa lagi.


Namun Mahen tidak menjawab. Karena saat ini mereka sudah sampai di tempat kemah.


"Hey, kau lama sekali Ca" protes Nadin.


"Maaf. Aku ketiduran" ucap Clarissa dengan wajah yang merasa bersalah.


"Aku akan maafin kalau kamu nemenin aku kesana" ucap Nadin sambil menunjuk ke arah penjual jagung bakar di bawah.


Clarissa melihat ke arah jagung bakar tersebut. Dia terdiam sesaat. Bukan karena jagung bakarnya. Tapi karena laki-laki yang sedang membeli jagung bakar disana.


Dia sepertinya tidak asing dengan laki-laki tersebut. Dia seperti pernah melihatnya, tapi tidak tahu dimana.


"Ayo" ucap Nadin sambil menarik tangan Clarissa.

__ADS_1


Clarissa hanya menurut, mengikuti langkah Nadin sekarang.


-Bersambung-


__ADS_2